Masyarakat suku Moi di 6 distrik tolak kehadiran PT Hutan Hijau Papua Barat

Penulis: Alexander Loen
Editor: Dewi Wulandari

Jayapura, Jubi – Masyarakat suku Moi di 6 distrik yakni Distrik Klaiyli, Distrik Maudus, Distrik Wemak, Distrik Sayosa, Distrik Sayosa Timur, dan Distrik Salkma menolak dengan tegas kehadiran PT Hutan Hijau Papua Barat di Kabupaten Sorong, dan meminta Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya untuk segera mencabut izin perusahaan itu.

Ayu Paa, pemuda adat Distrik Kalaso menegaskan kehadiran PT Hutan Hijau Papua Barat (HHPB) di wilayah adat merupakan ancaman serius terhadap kehidupan sosial masyarakat dan akan berdampak pada hilangnya hutan, spesies, dan habitat, serta sumber kehidupan masyarakat adat.

“Kami menolak PT. HHPB yang akan melakukan deforestasi hutan di wilayah adat kami karena akan berdampak pada hilangnya lahan hutan dan pemanasan global pada lingkungan, kehidupan sosial, dan keberlanjutan makhluk hidup,” kata Paa melalui rilis tertulis kepada Jubi di Kota Jayapura, Selasa (18/7/2023).

Menurut Paa, berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sorong Nomor 10 Tahun 2017 tentang pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat Moi di Kabupaten Sorong, Bab IX Pasal 17 ayat 1 hingga 4, dengan tegas menjelasakan masyarakat hukum adat Moi berhak untuk menentukan pembangunan mereka sesuai dengan budaya masyarakat hukum adat Moi.

“Kalau perusahaan itu dibiarkan, kami masyarakat adat sub suku Moi yang berada di enam distrik akan kehilangan mata pencaharian dan sumber pangan lokal, karena hutan merupakan sumber penghidupan bagi kami. Maka itu dengan tegas kami menolak kehadiran perusahaan di atas tanah adat kami,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Abraham Tijele, pemuda adat dari Distrik Salkam. Ia mengatakan penolakan PT HHPB karena masyarakat belajar dari pengalaman masuknya PT Intimpura dan PT Manca Raya yang bukannya mensejahterakan masyarakat adat, tapi kehadiran dua perusahaan itu justru menghancurkan hutan adat masyarakat.

“Kami masyarakat hukum adat Suku Moi sudah punya bukti kehadiran perusahaan HPH dan perkebunan kelapa sawit yang merusak hutan, dan tidak memberikan kesejahteraan bagi masyarakat adat Moi,” kata Tijele.

BERITATERKAIT

Sementara, Yordan Malamuk, pemuda adat Moi, menyampaikan bentuk penolakan masyarakat sudah disampaikan langsung dalam rapat dengar pendapat bersama PT HHPB dan dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Pertanahan di gedung serba guna Drei Kinder Jl. Sungai Maruni Km 10, Kota Sorong, pada Senin (17/7/2023).

Berikut pernyataan sikap Suku Moi di enam distrik:

Kami masyarakat adat yang bertanda tangan dibawah ini adalah tuan dusun, pemilik tanah, dan hutan adat. Kami masyarakat adat sub Suku Moi yang berada di Ditrik Klaiyli, Distrik Maudus, Distrik Wemak, Distrik Sayosa, Distrik Sayosa Timur, dan Distrik Salkma.

Sebagai pemilik hak ulayat menolak rencana perusahaan PT. Hutan Hijau Papua Barat untuk beroperasi di wilayah adat kami, dengan ini menyatakan Kami menolak PT. Hutan Hijau Papua Barat (PT. HHPB) yang rencana akan beroperasi di tanah adat kami Sub Suku Besar Moi yang berada di Ditrik Klaiyli, Distrik Maudus, Distrik Wemak, Distrik Sayosa, Distrik Sayosa Timur, dan Distrik Salkma.

Kami mendesak pemerintah daerah dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk segera mencabut Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) PT. Hutan Hijau Papua Barat, seluas ± 92.148 Ha di wilayah adat kami.

Kami masyarakat adat di Sub Suku Besar Moi yang berada di Ditrik Klaiyli, Distrik Maudus, Distrik Wemak, Distrik Sayosa, Distrik Sayosa Timur, dan Distrik Salkma menolak dengan tegas rencana pembahasan Dokumen AMDAL oleh PT. Hutan Hijau Papua Barat.

Kami menolak Surat Arahan Dokumen Lingkungan Hidup dari Direktur Pencegahan Dampak Lingkungan Kegiatan dan Usaha, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Nomor : s.40/PDLUK/P2T/TLA4/1/2023, karena dianggap bertentangan dengan asas pemerintahan yang baik. Ketika Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Kabupaten Sorong tidak menanggapi pernyataan sikap kami maka kami akan melakukan pamalangan mogok kerja di semua instasi pemerintahan yang ada di tanah adat kami, tanah Malamoi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Gobai warns military presence could perpetuate violence in Paniai

Jayapura, Jubi – Deputy Speaker IV of the Central Papua Legislative Council (DPR Papua Tengah, John NR Gobai, has alleged [...]

Kamuyend clan’s black cross burned amid customary land dispute in Merauke

Jayapura, Jubi – Unidentified individuals have damaged and burned a black cross erected by the Kamuyend clan as a traditional [...]

WVI launches public campaign to support more than 5,000 children in Papua

Jayapura, Jubi – World Vision Indonesia (Wahana Visi Indonesia – WVI) has relaunched its Baca Tanpa Batas (Read Without Limits) [...]

Nduga shooting victims’ families ask Papua Legal Aid Institute to oversee investigation

Jayapura, Jubi – The families of three residents shot in Nduga Regency, Highland Papua Province, on October 23, 2026, have [...]

Challenges and hopes for the new AJI Jayapura City chair for 2026-2029

Jayapura, Jubi – Theo Kelen and Maurits Yansip have been elected chair and secretary of the Alliance of Independent Journalists [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist