Sejarah Bandara Sentani: Dibangun Jepang dengan kerja paksa, pernah dibom dan dikuasai AS

Jayapura, Jubi – Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, baru saja menetapkan kembali Bandar Udara Sentani menjadi Bandara Internasional Sentani berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2024 tentang Penetapan Bandar Udara Internasional dan Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2024 tentang Tatanan Bandar Udara Nasional.

Ini berarti Bandara Sentani satu-satunya di Tanah Papua yang termasuk dalam 17 bandara lainnya di Indonesia yang berstatus bandara internasional. Penetapan ini jelas menggeser status bandara lainnya di Tanah Papua, yaitu Bandara Frans Kaisiepo di Biak, Bandara Mozes Killangin di Timika, dan juga Bandara Ds Ozok di Sorong Papua Barat Daya.

Penetapan Bandara Internasional Sentani jelas membuat bandara ini menjadi salah satu pintu masuk bagi wisatawan luar negeri ke wilayah Indonesia Timur, khususnya ke Tanah Papua.

Nah, bagaimana sejarah Bandara Sentani yang terletak di Kabupaten Jayapura ini?

Bandara Sentani sebenarnya dibangun sudah lama, berawal dari berkecamuknya Perang Pasifik atau Perang Dunia Kedua di wilayah Pasifik. Terutama ketika Jepang menjatuhkan bom di pangkalan militer Amerika Serikat pada 7 Desember 1941 sehingga membawa tentara Sekutu dan Armada VII ikut terlibat dalam Perang Dunia Kedua.

“Dua tahun kemudian, tepatnya pada 19 April 1942, armada Angkatan Laut Jepang mendarat di Teluk Humbold, Hollandia, sekarang Kota Jayapura,” tulis Arnold Mampioper dalam bukunya berjudul ‘Jayapura Ketika Perang Pasifik’. Hal senada juga ditulis oleh Morison Samuel Eliot dalam bukunya, ‘The Liberation of the Philipines, Luzon Mindanao, The Visays 1944-1945’.

Barulah pada 6 Mei 1942 militer Jepang yakin bahwa Hollandia di Nederlands Nieuw Guinea aman dan saat itulah Jepang membangun pangkalan militer marinir dan ditambahkan pula jumlahnya pada Agustus 1942.

BERITATERKAIT

Komando tertinggi Jepang memilih dan mempertahankan Hollandia sebagai basis utama Angkatan Darat pada September 1943. Beberapa unit pesawat tempur mulai ditempatkan di Hollandia dan menjadi pos pertananan terdepan pada awal 1944.

Selanjutnya tentara Jepang mulai membangun jalan raya dari Hollandia – Pim (Vim) sampai ke Sentani, sekaligus membangun tiga bandara militer Angkatan Udara Jepang di Sentani, Doyo, dan Hollandia.

“Warga Papua di Hollandia waktu itu ikut terlibat, mereka harus bekerja dengan disiplin tentara Jepang dan harus menaati perintah. Perintah dan kerja paksa harus diterima, jika melawan jelas akan dihukum,” tulis Arnold Mampioper.

Sentani
Sebanyak 340 pesawat tempur Jepang Zeor Sen dihancurkan tentara Sekutu Amerika Serikat di Bandara Sentani, April 1944. – Jubi.i/ www.historyofwar.org

Jepang membangun pelabuhan laut di Teluk Humboldt dan Youtefa di Abe Pantai. Lapangan terbang utama di Sentani merupakan markas unit Angatan Darat ke-2 Jepang di bawah komando Jenderal Fusataro Teshima dan Divisi Udara ke-6 Angkatan Udara ke-4. Jumlahnya saat itu di Hollandia dan sekitarnya mencapai 11.000 pasukan di bawah Komando Jenderal Masazumi Inada. Hanya 500 dari pasukan itu merupakan tentara tempur darat dari sebanyak 11.000 pasukan di Hollandia kala itu.

Jepang yang kalah pada pertempuran di Teluk Hansa dan Wewak, Papua New Guinea harus bergerak cepat ke Hollandia. Jepang juga membangun pangkalan militernya di Vanimo, Provinsi Sandaun, sekarang di PNG.

Kekalahan itu membuat Jenderal Hatazo Adachi merencanakan untuk membuat pertahanan terakhir di Hollandia.

Landasan 340 pesawat Zero di Sentani

Usai menguasai Hollandia dan membangun pangkalan militer di Teluk Humboldt dan Teluk Youtefa, Jepang melirik dan mendirikan lapangan terbang bagi pesawat tempur jenis Zero Sen.

“Salah satu pesawat paling terkenal pada Perang Dunia Kedua, Mitsubishi A6M Zero-Sen, adalah pesawat tempur terbaik Jepang dan kutukan bagi penerbang Sekutu di Pasifik,” demikian dikutip dari https://www.warhistoryonline.com.

Pesawat ini dirancang untuk memenuhi spesifikasi ketat yang ditetapkan Angkatan Laut Jepang sejak 1937.

Pesawat baru ini memiliki kecepatan tertinggi melebihi 310 mph (sekitar 499k mph) dan mencapai ketinggian 9.840 kaki (hampir 3.000 meter) dalam tiga setengah menit.

Bayangkan  waktu itu militer Jepang menempatkan sebanyak 350 jenis pesawat Zero Sen ini di Lapangan terbang Sentani sebagai pangkalan utama Jepang.

Sejak dibangun landasan utama Angkatan Udara, Jepang di Sentani sejak 1942-1943 ditempatkanlah sebanyak 340 pesawat tempur jenis Zero Sen di Sentani. Pesawat-pesawat tempur ini bersiaga dalam medan pertempuran di Hollandia.

Sentani
Pesawat pengebom AS mendarat di lapangan terbang Sentani dekat Hollandia (Jayapura) sekitar 1945 dengan latar belakang reruntuhan pesawat Jepang. -Jubi/Sumber: digitalcollections.universiteitleiden.nl

Jelang penyerangan tentara Sekutu ke Hollandia, pada 30 dan 31 Maret sampai dengan 16 April 1944 terjadilah serangan bom dari udara oleh tentara Amerika Serikat ke Hollandia dan pangkalan udara di Sentani.

“Kami berhamburan bersembunyi di hutan-hutan sagu karena banyak bom yang tidak meledak,” kenang Hans Ohee (86 tahun) warga Kampung Asei Kecil kepada jubi.id beberapa waktu lalu.

Ohee mengingat kembali, waktu itu pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat terbang di atas permukaan Danau Sentani menuju Lapangan Terbang Jepang. “Bom-bom pun dijatuhkan di landasan pacu angkatan udara Jepang, termasuk kepsada pesawat-pesawat tempur Jepang,” kenang Hans Ohee, mantan karyawan Shell Maschappy Belanda, era 1960 di Hollandia.

Divisi 41 Amerika Serikat dengan jumlah tentaranya 37.500 pasukan tempur dan 18.000 spesialis atau non conbatten mendarat di Hollandia. Pada 12 April 1944 tentara Sekutu menguasai Hollandia dan hadir pula Jenderal Douglash Mac Arthur. Tentara Sekutu menyerang dari Teluk Depapre menuju pangkalan militer Jepang di Sentani dan juga dari atas tugu Mac Arthur sekarang.

Selain itu militer AS dengan Armada kVII menyerang melalui Teluk Humboldt (Yos Sudarso ) dan Teluk Youtefa. Akibatnya ada kapal Jepang yang karam di Teluk Youtefa dan landasan pacu militer Jepang hancur lebur, termasuk 340 pesawat jenis Zero Sen.

Setelah Amerika Serikat merebut bandara Sentani pada 22 April 1944, militer Amerika Serikat membangun ulang landasannya, diperkeras dan diperluas, serta diperpanjang hingga bisa didarati pesawat sekelas B-29 Superfortress. Pesawat Boeing B-29 Superfortress adalah pesawat pengebom berat pengintai (reconnaissance aircraft) sayap rendah (low wing) dengan empatmesin yang digunakan oleh United States Army Air Forces dalam Perang Dunia II.

Bandara penumpang, Sentani

Usai Perang Dunia Kedua, Pemerintah Nederlands Nieuw Guinea memanfaatkan sisa-sisa bangunan milik Jepang dan tentara Sekutu. Termasuk pula Bandara Sentani sebagai lapangan terbang utama di ibukota Nederlands Nieuw Guinea zaman penjajahan Belanda.

Selanjutnya Belanda membangun pusat penerbangan milik KLM di lapangan terbang Mokmer di Biak. Perusahaan KLM atau Koninklijke Luchtvaart Maatschappij membuka perusahaannya di wilayah Nederlands Nieuw Guinea pada 14 Juli 1955 dengan nama Nederlands Nieuw Guinea Luchtvaart Maatschapij atau lazim dikenal kala itu De Kroonduif NV dengan simbol burung Mambruk.

Selain pesawat jenis beaver yang melayani penerbangan di Tanah Papua kala itu, terdapat pula jenis pesawat DC 3 atau dikenal dengan sebutan pesawat Dacota. Pesawat jenis penumpang militer versi militer C-47 ini melayani penerbangan dari Sentani ke Mokmer, Biak serta ke Mopah, Merauke dan Wamena. Selain itu ada pula jenis pesawat penumpang jenis Twin Otter, pesawat buatan Canada.

Pesawat de Havilland Canada DHC-6 Twin Otter adalah pesawat utilitas STOL (Short Takeoff and Landing). Perusahaan asal  Kanada bernama de Havilland Canada terus mengembangkannya pada pertengahan 1960-an dan masih berproduksi terus hingga saat ini.

Ketika Indonesia menguasai Papua pada 1963, pesawat jenis Twin Otter dan juga Dacota masih digunakan. Kemudian didirikan pula perusahaan Merpati Nusantara Arilines (MNA) yang menggunakan pesawat-pesawat bekas perusahaan Belanda MNA.

Maskapai ini memakai pesawat jenis Dacota yang merupakan bantuan pemerintah Canada melalui badan PBB bernama Fundwi atau Fund West Irian untuk pengembangan ekonomi sosial di Provinsi Irian Barat (Irbar) kala itu dengan membeli pesawat jenis Twin Otter untuk penerbangan perintis ke seluruh Provinsi Irian Barat.

Selain itu, pesawat jenis Foker 27 milik MNA dan juga Trigana Air melayani penerbangan dari Jayapura,  Sentani ke Wamena.

Sejak itupula secara otomatis, Bandara Sentani langsung dikelola di bawah Departemen Perhubungan Republik Indonesia hingga berkembang dengan memperpanjang landasan pacu, termasuk mulai didarati pesawat jenis Boeing sampai sekarang. Bandara ini termasuk bandara Kelas IA dan sejak 14 Oktober 2019 langsung di elola PT Angkasa Pura I (Persero).

Kini bandara Sentani termasuk satu-satunya bandara di Tanah Papua yang kembali meraih statusnya sebagai Bandara Internasional di Indonesia, khususnya di Provinsi Papua. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist