Nabire, Jubi – Ketua Komisi Penanggulangan AIDS atau KPA Kabupaten Nabire, Paola Pakage mengatakan pihaknya melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS di Siriwini, Nabire, Provinsi Papua Tengah, pada Rabu (21/6/2023). Kabupaten Nabire saat ini memiliki jumlah kasus HIV/AIDS terbanyak di Tanah Papua.
Paola Pakage menyatakan Kabupaten Nabire merupakan zona merah HIV/AIDS, dengan jumlah Orang dengan HIV/AIDS mencapai 9.037 jiwa. Pakage menyatakan sosialisasi bahaya HIV/AIDS bagi generasi muda dilakukan agar mereka mengetahui perilaku yang berisiko menularkan virus HIV, dan mengenali kelompok rentan terinfeksi HIV.
“Kami semua ini adalah kelompok rentan untuk terkena HIV/AIDS, sehingga kami melakukan sosialisasi [dengan bentuk] seminar [dan] nonton film dokumenter tentang bahaya HIV/AIDS, [tentang] penderita HIV yang sedang mengonsumsi [obat] Antiretroviral atau ARV. [Itu dilakukan] agar kami bisa mengetahui cara mencegah penularan HIV/AIDS,” kata Pakage pada Rabu.
Pakage mengatakan usia seksual aktif merupakan kelompok [usia] rentan, termasuk Orang Asli Papua. “Sehingga kami targetkan untuk melakukan sosialisasi kepada [kelompok] usia rentan di Siriwini, Oyehe, Karang Tumaritis dan di beberapa tempat lain yang menjadi basis Orang Asli Papua,” katanya.
Pakage mengatakan pihaknya akan membuka sekretariat agar anak-anak muda dapat melakukan konsultasi terkait dengan informasi HIV/AIDS. “Kami buka sekretariat dengan maksud generasi muda terutama kaum rentan terhadap HIV/AIDS dapat melakukan konsultasi. Bila mereka mau periksa darah, kami akan konsultasi dengan pihak puskesmas,” katanya.
Pakage juga mengajak kepada generasi muda Papua agar dapat memeriksa darah di Puskesmas terdekat. “Periksa darah itu lebih baik, untuk mengetahui apakah kita terpapar HIV/AIDS. Apabila terpapar, kita bisa minum ARV untuk mencegah [penyakit yang disebabkan] HIV/AIDS,” katanya.
Dalam sosialisasi pada Rabu, dr Oliva Tagi memaparkan materi tentang bahaya penularan HIV/AIDS. Tagi mengatakan sosialisasi digelar selama ini menunjukkan lebih banyak peserta perempuan yang mengikuti sosialisasi.
“Kebanyakan laki-laki takut untuk periksa darah [dan menjalani] tes HIV/AIDS. Diharapkan [mereka] jangan malu-malu untuk periksa,” katanya.
Tagi mengatakan siapapun yang terinfeksi virus HIV atau mengalami AIDS tetap bisa menjaga kualitas hidup yang baik dengan menjalani pengobatan ARV secara rutin. Akan tetapi, untuk bisa mendapatkan obat ARV, setiap orang harus menjadi pemeriksaan HIV/AIDS lebih dulu.
“Minum ARV bisa mencegah virus berkembang di dalam tubuh. [Risiko terinfeksi HIV dapat dicegah, caranya] jangan melakukan hubungan seks dengan sembarangan, setialah terhadap pasangan,” katanya. (*)




















