Jayapura, Jubi – Para negosiator dari negara-negara Pasifik mengalami kefrustasian terhadap Konferensi Internasional Perubahan Iklim, di Baku, Azerbaijan. Kemajuan perundingannya sangat lamban.
Sanlam Wiliam, Ketua Delegasi Negara-negara Berkembang dan Kepulauan Kecil Pasifik mengatakan ada banyak perundingan sejak pekan pertama konferensi. Dia berharap berbagai perundingan tersebut segera menghasilkan kesepakatan bersama.
“Para pemimpin [delegasi] menyuarakan banyak kekhawatiran atas lambannya proses ini. Ada banyak pembicaraan sejak pekan pertama, tetapi belum ada tindakan [kesepakatan] apa pun,” kata William, dikutip RNZ.co.nz, Rabu (20/11/2024).
Konferensi Internasional Perubahan Iklim berlangsung di Baku pada 11–22 November mendatang. Salah satu isu utama konferensi ialah peningkatan target pembiayaan iklim sebesar 100 miliar dolar atau sekitar Rp1,6 kuadriliun setahun. Kesepakatan pendanaan itu ditetapkan pada 2009 bagi negara-negara maju untuk membantu negara-negara berkembang mengurangi emisi karbon dan mengatasi dampak perubahan iklim.
Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa Simon Stiell meminta para pihak segera menyelesaikan pembahasan terhadap isu-isu yang tidak terlalu kontroversial. Dia berharap penyelesaian tersebut memberi ruang yang cukup untuk membahas keputusan-keputusan besar.
“Pasifik memiliki garis merah yang tidak dapat diganggu gugat. Penekannya ialah kita perlu mempertahankan [kenaikan maksimal suhu bumi di bawah] 1,5 derajat celsius karena kelangsungan hidup tidak dapat dinegosiasikan,” kata Stiell, Senin lalu.
Penasihat Kebijakan Senior Jaringan Aksi Iklim Kepulauan Pasifik Sindra Sharma mengatakan sulit mencapai kesepakatan tentang pembiayaan iklim. Mayoritas agenda pembahasannya pun ditunda untuk tahun depan.
“Negara-negara maju tidak bersemangat dalam menyediakan dana. Mereka lebih lebih tertarik dengan pendekatan yang berorientasi pada investasi untuk memobilisasi keuangan itu. Swasta juga mungkin tidak tertarik memyediakan dana bagi Pasifik karena terlalu berisiko [merugikan mereka],” kata Sharma.
Konferensi Internasional Perubahan Iklim di Baku telah memicu kontroversi sejak awal. Itu bermula dari pernyataan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev saat pembukaan konferensi. Dia menyebut minyak dan gas sebagai anugerah Tuhan.
Pernyataan kontroversial tersebut menguatkan tudingan konferensi di Baku memang didesain untuk menghalangi negosiasi serta memberi perlakuan khusus kepada perusahaan dan pelobi bahan bakar fosil. Kecurigaan serupa juga mencuat saat Konferensi Internasional Perubahan Iklim, di Dubai, Uni Emirat Arab, tahun lalu.
Namun, Ketua Delegasi Fiji Sivendra Michael tidak ambil pusing dengan rumor tersebut. Mereka tetap akan melanjutkan negosiasi di konferensi.
“Kami harus berada di ruangan ini [menghadiri konferensi]. Kami tidak ingin suara kami diremehkan dengan cara atau dalam bentuk apa pun,” kata Michael.
Sikap Fiji berkebalikan dengan Papua Nugini. Negara tersebut memboikot konferensi di Baku. Sikap itu merupakan bentuk protes Papua Nugini terhadap berbagai janji palsu dari negara-negara maju. Namun, Papua Nugini memutuskan untuk kembali hadir pada konferensi serupa di Brasilia, Brasil, tahun depan. (*)




















Discussion about this post