Oleh: Fransiskus Xaverius Sie Syufi*)
Sebab apa yang bisa dibanggakan? Dari sisi kualitas, kondisinya sangat memprihatinkan. Proses belajar-mengajar tidak berjalan efektif dan efisien. Mayoritas siswa-siswi tidak bisa membaca dan berhitung dengan lancar. Bahkan lebih ironis lagi, dari kelas satu hingga kelas enam, banyak yang belum mengenal huruf dan angka. Peringkat SD ini: Tidak Terakreditasi (TT) oleh Badan Akreditasi Nasional dengan No. SK: 028/BAN-PDM/SK/2025.
Kurang lebih enam tahun terakhir, kami mengalami berbagai persoalan serius yang terus menggerus keberlangsungan pendidikan di kampung ini. Tantangan demi tantangan itu tak lagi sebatas keluhan, melainkan telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan generasi kami ke depan.
Seruan ini bukan datang dari ambisi politik, bukan pula demi kepentingan pribadi. Ini adalah suara nurani, suara dari hati yang merindukan pelayanan pendidikan sejati, serta sebuah keyakinan yang diwariskan manusia untuk membebaskan diri dari kebodohan dan kemiskinan. Dua musuh besar itu berjalan beriringan, tak bisa dipisahkan, dan hanya bisa diputus mata rantainya melalui pendidikan yang layak.
Namun sayangnya, semangat para pendiri pendidikan di dusun tercinta ini kini telah jauh memudar. Ruh pendidikan di sini perlahan bergeser menuju kematian yang sunyi.
Ruang-ruang kelas kini gelap. Saking gelapnya, matahari pun malu menampakkan cahaya ilahi. Kursi-kursi belajar tak lagi bangga menopang kecerdasan, melainkan justru merasa minder. Papan tulis dan kapur seolah menunggu siapa yang masih mencintainya. “Sandiwara macam apa ini?” tanya seorang guru, sambil menatap murid-muridnya dengan mata penuh gelisah.
Dulu, SD ini pernah dibanggakan. Anak-anaknya dikenal cerdas dan penuh semangat. Tapi kini, sekolah itu hampir menyerupai rumah horor—bukan karena kosong, tapi karena aktivitas pendidikannya tidak lagi produktif. Pelayanan pendidikan dijalankan seadanya, oleh orang-orang yang lebih cinta jabatan daripada anak-anak. Orang-orang yang tidak lagi berwujud sebagai pecinta kapur dan papan tulis.
Struktur sekolah tak sehat. Fungsi-fungsinya pincang. Sebagian orang mungkin menganggap ini hal biasa. Tapi bagi kami, ini tamparan keras—sebuah peringatan agar kami segera kembali mengambil peran aktif dalam menyelamatkan pondok ini. Sayangnya, banyak yang terjebak dalam kepentingan politik, ekonomi, sosial, bahkan budaya.
Namun terlepas dari segala kepentingan itu, hal yang paling penting dan harus digarisbawahi adalah bahwa membangun pendidikan tidak bisa hanya dengan jabatan dan gelar. Ia harus lahir dari kesadaran diri akan panggilan hati dan pikiran yang murni—kesadaran untuk melayani, bukan menguasai; kesadaran untuk memprioritaskan mutu dan daya saing, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Pendidikan jangan sampai diboncengi oleh urusan perut dan politik praktis. Ia harus punya jalannya sendiri—harus berdiri tegak lurus demi menjaga martabat rumah masa depan generasi emas Senopi.
Dari pengamatan saya, ada tiga masalah krusial yang perlu disoroti:
Pertama, jabatan struktural diberikan sembarangan, tanpa pertimbangan terhadap kompetensi dasar, latar pendidikan formal dan nonformal, serta pengalaman individu.
Kedua, praktik politik nepotisme yang menyebabkan tak ada evaluasi dan tidak ada keberanian untuk mengganti kepala sekolah meskipun performanya buruk.
Ketiga, kurangnya perhatian dan pengawasan dari pihak pengelola sekolah—dalam hal ini pastor paroki, ketua komite, ketua PSW, Kabid Pendidikan SD, dan Kadis Pendidikan Kabupaten Tambrauw.
Dalam kacamata lokal, ini adalah bentuk pembiaran nyata yang sangat merugikan hak siswa-siswi untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu.
Tahun 2025 ini, SD YPPK St. Yoseph Senopi mengeluarkan alarm darurat:
Ijazah kelulusan tidak lagi diterbitkan oleh otoritas sekolah sendiri. Faktanya, tanda tangan ijazah kelulusan siswa-siswi tahun 2025 berasal dari kepala sekolah yayasan lain yang dianggap layak dan terakreditasi baik.
Fenomena ini memalukan dan bukan sekadar peringatan, melainkan pertanda serius bahwa lembaga ini sedang berada di ambang kehancuran. Jika tidak ditangani dengan cepat dan sungguh-sungguh, maka dalam kurun waktu kurang dari lima tahun ke depan, sekolah ini bisa saja resmi ditutup.
Sebuah kenyataan pahit yang mestinya membuka mata semua pihak: Tuhan… suara siapa yang sebenarnya telah kita abaikan selama ini…?
*)Penulis adalah Pemuda Kampung Senopi





















Discussion about this post