Jakarta, Jubi – PT Pertamina menemukan potensi sumber daya gas alam pada Sumur Tedong di Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Cadangan gas tersebut diperkirakan mampu menambah pasokan untuk kebutuhan industri selama 15–20 tahun di Sulawesi.
Direktur PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Muharram Jaya Panguriseng menyatakan penemuan cadangan baru gas alam tersebut sejalan strategi perusahaan. Mereka makin agresif dalam mengeksplorasi potensi cadangan minyak dan gas (migas) untuk mendukung ketahanan energi nasional.
“PT PHE selaku subholding upstream [anak perusahaan] Pertamina senantiasa mencari sumber migas untuk mendukung ketahanan energi nasional. Pengeboran eksplorasi ini untuk membuktikan potensi sumber daya migas dari Batugamping Formasi Minahaki dan Tomori,” kata Muharram dalam keterangan tertulis, Jumat (4/10/2024).
Pengeboran Sumur Tedong merupakan rangkaian pengeboran di garis depan, sekaligus pengembangan ekonomi di kawasan Indonesia timur. Pengeboran serupa juga telah dilakukan pada Sumur East Wolai, West Wolai, dan Julang Emas.
Sumur tersebut dibor secara vertikal dengan kedalaman 2.448 meter measured depth. Setelah diuji alir kandungan lapisannya, sumur terbukti memiliki tebal kolom hidrokarbon 163 meter dengan rentang 15 juta kaki kubik per hari, dan 185 barel kondensat per hari.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina Wiko Migantoro menyatakan Pertamina memprioritaskan eksplorasi domestik dengan mengalokasikan investasi sebesar 390 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp6,03 triliun pada tahun ini. Investasi itu termasuk untuk eksplorasi Sumur Tedong sehingga menjadikan Sulawesi sebagai klaster industri gas domestik, seperti Kalimantan Timur.
“Kami bangga atas capaian subholding upstream [PT PHE] karena menjadi pelopor pengembangan klaster baru domestik gas di Sulawesi. Mereka terus membuktikan komitmen dalam peningkatan ketersediaan pasokan energi bersih diseluruh pelosok negeri,” kata Wiko.
PT Pertamina mendapat tiga blok eksplorasi baru pada 2023 dan akan bertambah pada tahun ini. Di Sulawesi, Pertamina mengelola produksi gas alam sebesar 664 juta kaki kubik dan melakukan Penentuan Status Eksplorasi (PSE) Struktur Mora-Wolai.

Komponen lokal
Sementara itu, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri hingga mencapai 35 persen dalam Proyek Rencana Induk Pengembangan Kilang di Balikpapan, Kalimantan Timur. Produk dalam negeri tersebut digunakan dalam pengelasan, dan pemasangan pipa baja karbon, pompa, kabel, travo, serta katup manual.
“Penggunaan produk dalam negeri merupakan bentuk dukungan KPI terhadap pengembangan industri nasional. Kami telah memiliki pedoman dan tata kelola yang mengatur ketentuan penggunaan produk dalam negeri untuk pegadaan barang dan jasa di perusahaan,” kata Sekretaris Perusahan PT KPI Hermansyah Y Nasroen dalam keterangan tertulis, Kamis (3/10/2024).
Rencana Induk Pengembangan Kilang Balikpapan merupakan proyek strategis nasional paling kompleks dan memiliki nilai investasi terbesar yang dikelola Pertamina. Adapun nilai investasinya mencapai 7,4 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp114,55 triliun.
“Tujuan Proyek RDMP [Rencana Induk Pengembangan Kilang] Balikpapan, salah satunya meningkatkan kompleksitas kilang. Namun, KPI berkomitmen menggunakan produk dalam negeri sehingga proyek ini juga bermanfaat langsung bagi industri nasional,” kata Hermansyah.
PT KPI merupakan salah satu anak perusahaan Pertamina. Bisnis utama mereka ialah pengolahan minyak dan petrokimia.
“Kami juga menggunakan produk domestik dalam pengadaan material dan peralatan. Jika kualitasnya setara, dan harganya pun kompetitif, penggunaan produk dalam negeri menjadi opsi utama kami,” kata Hermansyah. (*)






















Discussion about this post