Jayapura, Jubi – Setiap tahun pada November dan Desember, atmosfer di Kota Jayapura, Provinsi Papua mulai terasa berbeda. Aroma hangus belerang mulai tercium, bunyi-bunyi ledakan petasan dan dentuman meriam juga terdengar di mana-mana.
Keunikan itu menjadi sebuah ‘ritual’ yang telah mengakar kuat sejak lama di kalangan anak-anak dan remaja. Seolah memberikan tanda bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru sudah dekat.
Anak-anak dan remaja menyambut dua bulan ‘ber’ terakhir yang mendekati perayaan Natal dan Tahun Baru dengan tradisi membakar petasan dan ‘perang meriam’.
Belum ada catatan pasti kapan kebiasaan itu bermula. Yang jelas, ‘perang meriam’ itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sukacita Desember, setidaknya sejak dekade 1980-an dan 1990-an.
Pada era generasi lampau, anak-anak dan kalangan muda di sejumlah kompleks di Kota Jayapura mengumpulkan kaleng bekas untuk dibuat menjadi meriam, disusun menyerupai pipa panjang. Ada pula yang menggunakan bambu. Dulu, suara ledakan meriam itu dihasilkan dari bahan bakar minyak tanah.
Seiring waktu, permainan itu bergeser, peledak dengan bahan bakar minyak tanah mulai ditinggalkan, diganti bongkahan karbit. Namun kini, dentuman-dentuman meriam karbit juga sudah jarang terdengar. Lalu pada beberapa tahun terakhir, meriam dengan bahan peledak spirtus mulai digandrungi anak-anak.
Hiburan murah tapi berbahaya
Sebelum meriam karbit dan spirtus mengambil alih, meriam minyak tanah adalah hiburan dentuman yang paling murah dan mudah. Pipa meriam dibuat dari kaleng-kaleng bekas yang disambung atau menggunakan bambu.
Robert (41), dulu adalah pelaku meriam minyak tanah di kompleks Polimak III. Saat masih berusia remaja, Robert bersama rekan-rekannya cuma punya hiburan bermain meriam pada bulan Desember menjelang hari raya Natal dan Tahun Baru.
“Saya masih ingat dulu waktu masih usia-usia remaja itu tong (kita) punya hiburan pertama itu meriam minyak tanah, itu sebelum kenal meriam karbit. Kalau anak-anak yang punya uang waktu itu beli petasan, tapi tong hanya main meriam minyak tanah, ambil dari dapur rumah,” kata Robert sambil ketawa mengenang masa kecilnya.

Meski sempat menjadi permainan yang menghibur bagi anak-anak pada era 1980-an akhir dan awal 1990-an, meriam minyak tanah akhirnya sudah tak lagi digemari karena penuh risiko dan tak selalu menghasilkan bunyi ledakan yang keras.
Proses untuk meledakkan meriam minyak tanah itu juga tak mudah. Minyak tanah yang ditampung dalam pipa kaleng bekas yang ditutup rapat itu dipanaskan sampai menguap menjadi gas. Namun, tak jarang meriam ini kerap gagal dan hanya mengeluarkan api ketimbang suara dentuman.
“Meriam minyak tanah itu paling tidak bagus. Kalau main itu pasti badan semua bau minyak tanah. Dulu tong sering main meriam minyak tanah tapi jarang meledak keras, hanya keluar api saja. Terus kalau ditiup-tiup dari lubang tembaknya, api menyala naik sampai kena-kena tong punya alis,” kata Robert.
Edison (39), teman sekompleks Robert pernah menjadi korban dari meriam minyak tanah. Ia mengenang waktu masih berusia 10 tahun, wajahnya nyaris mengalami luka bakar parah, meriam yang ia tembak meledak dan mengeluarkan api besar.
“Gara-gara main barang itu sampai saya punya bagian leher ada bekas tanda bakar kecil. Orang tua sampai marah-marah dan bongkar kita punya pipa-pipa kaleng itu biar tidak main meriam minyak tanah lagi,” kenangnya.
Meriam pipa kaleng dengan bahan peledak minyak tanah itu menjadi cikal bakal permainan meriam di Kota Jayapura. Bahkan di sejumlah daerah Indonesia lainnya, meriam bambu bahan bakar minyak tanah itu sudah dimainkan sejak zaman dulu.
Menurut Dr Hanro Yonathan Lekitoo, dosen Antropologi Universitas Cenderawasih yang juga tumbuh besar di Papua, ‘perang meriam’ adalah sebuah tradisi perayaan yang mengakar di kalangan anak-anak dan remaja, bagian dari menyambut sukacita Desember. Ia membenarkan garis historis yang telah tergurat sejak lama.
“Saya lahir di Papua, waktu saya kecil itu kita pakai meriam bambu yang pakai minyak tanah. Dulu kami di kampung itu menjadi salah satu tradisi. Lalu tahun 80-an saya di Jayapura mulai melihat di bukit-bukit yang ada di Abepura itu, dong (mereka) mulai pasang pipa besi bermain meriam Karbit, itu bunyinya besar sekali,” kata Hanro.
Suara menggelegar bak perang sungguhan
Permainan meriam bertransformasi dari bahan peledak minyak tanah ke bahan bakar karbit sejak awal 1990-an. Pipa yang digunakan bukan dari kaleng atau bambu, tapi pipa besi.
Lalu untuk menghasilkan bunyi ledakan, mereka menggunakan karbit (kalsium karbida) yang merupakan senyawa kimia berbentuk batu abu-abu/coklat yang bereaksi dengan air menghasilkan gas asetilena. Karbit biasanya digunakan untuk mengelas logam dan mempercepat pematangan buah, meski berisiko karena mengandung cemaran berbahaya (arsenik, fosfin).

Meriam karbit punya ciri khas suara dentuman yang lebih keras dan sering dimainkan oleh remaja hingga orang-orang dewasa. Mereka memainkan meriam karbit di bukit-bukit, mirip suasana perang sungguhan.
Begitu meriam ditembakkan, tanah-tanah dan kaca-kaca ikut bergetar. Suara dentumannya menggelegar seperti bom. Pipa yang dijadikan sebagai meriam berukuran besar, ada yang menggunakan pipa tiang listrik, ada juga yang menggunakan pipa air yang lubangnya seukuran ember cat.
Pipa-pipa itu dipikul ke atas bukit dan satu sisi lubangnya ditancapkan miring ke dalam tanah, lalu lubang satunya lagi dibiarkan tetap terbuka. Di bagian ujung dekat lubang yang tertanam, dibuat sebuah lubang kecil. Karbit sebagai bahan peledak ditaruh di sebuah kaleng takar yang melekat dengan kayu atau bambu panjang.
Karbit dimasukkan ke dalam pipa, posisinya ditaruh tepat di lubang kecil. Karbit itu dipanaskan lebih dulu dengan siraman air secukupnya. Semua lubang yang terbuka kemudian ditutup. Hingga pipa sudah terasa panas, semua lubang dibuka, meriam karbit siap ditembakkan dengan menempatkan api obor yang menyala tepat di lubang kecil.
Begitulah proses rumit dari permainan meriam karbit yang pernah populer di kalangan remaja dan anak-anak muda di Kota Jayapura. Bahkan ada pula orang-orang dewasa yang ikut bermain.
Keseruan bermain meriam karbit masih membekas dalam ingatan Robert. Ia juga pelaku meriam karbit di gunung Polimak. Saat remaja, ia dan teman-temannya mendirikan sebuah kamp atau pondok di atas bukit, lalu menancapkan tiga pipa besar. Tak jarang, mereka sering menginap di kamp hanya untuk bermain meriam.
“Meriam karbit itu bunyinya lebih besar. Lebih seru dari pada meriam minyak tanah. Dulu kita main itu sore-sore sampai malam. Baku bayar (beradu) suara meriam dengan anak-anak di bukit yang lain,” kata Robert.
Pengalaman berbeda dituturkan Yusup (41). Pria asal Sarmi ini juga alumnus meriam karbit. Dulu waktu ia remaja, ketika masuk musim liburan Desember ia dan teman-temannya mulai membuat pondok Natal di bukit dan menyiapkan pipa-pipa untuk bermain meriam.
Karbit yang mereka pakai untuk mengeluarkan suara dentuman mereka beli di toko-toko bangunan. Dulu harganya Rp5 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram.
“Dulu waktu kita masih umur-umur remaja tidak ada permainan lain pas liburan Desember. Hanya main meriam karbit itu. Dulu belum ada HP jadi kita punya hiburan hanya itu saja menjelang Natal,” kata Yusup.
Ia bercerita, gara-gara suara meriam karbit yang begitu keras, tak jarang ia dan teman-temannya sering dikejar orang-orang tua di kompleks. Bahkan pernah juga dikejar polisi.
“Ya, dulu sering. Orang-orang tua itu paling ganas kalau kita kasih meledak meriam itu. Suaranya keras jadi orang-orang tua dong (mereka) kaget. Ada juga yang pernah lapor polisi untuk kejar kita,” ujar Yusup sambil tersenyum mengenang cerita masa lalunya.
Dulu, menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru pada awal 1990-an hingga awal 2000-an, suara-suara dentuman meriam karbit dari atas-atas bukit di Kota Jayapura menggelegar membuat bising telinga.

Bukit-bukit di kawasan Abepura, mulai dari belakang rumah sakit Abe, belakang Toko Citra, Belakang SAGA, dan bukit-bukit yang terlihat dari Lingkaran Abe menjadi destinasi paling berisik dengan suara dentuman meriam. Meski suaranya bikin kaget, tapi kini mulai dirindukan karena nyaris tak ada lagi suasana Natal dan tahun baru seperti dulu.
“Dulu boleh, pokoknya masih bulan November itu sudah suara meriam dari bukit-bukit mulai berbunyi sampai pergantian tahun. Bahkan orang-orang dulu pas malam tahun baru hanya tunggu suara-suara itu, membandingkan siapa punya suara meriam yang paling besar,” kata Gustaf.
Muncul meriam kecil yang lebih berbahaya
Pasca berakhirnya era permainan meriam minyak tanah dan karbit, kini muncul lagi meriam berbahan peledak dari cairan spirtus. Spirtus atau spiritus adalah alkohol terdenaturasi, yaitu etanol yang dicampur zat beracun (seperti metanol) dan zat pahit agar tidak bisa diminum, sering diberi pewarna ungu.
Spirtus biasanya digunakan sebagai bahan bakar (kompor portable, lampu bunsen), pelarut (cat, vernis, lem), antiseptik ringan, dan pembersih serbaguna karena sifatnya yang mudah menguap dan mudah terbakar.
Meriam jenis ini baru beberapa tahun digemari anak-anak yang mayoritas berusia SD hingga SMP.
Permainan meriam spirtus ini tidak hanya dimainkan oleh anak-anak di Kota Jayapura, tapi meluas di sejumlah wilayah Papua lainnya. Hiburan bunyi-bunyi ledakan jenis meriam spirtus kini lebih populer dibandingkan dengan petasan yang marak dijual di emperan jalan.
Bahan baku untuk memainkan meriam spirtus jauh lebih murah ketimbang harga petasan. Anak-anak biasanya membeli cairan spirtus ukuran botol kecil seharga Rp8 ribu – Rp15 ribu.
Sedangkan untuk pipanya mereka membuat sendiri dari kaleng-kaleng bekas yang disambung dan direkatkan menggunakan lakban. Ukuran pipa yang mereka buat bervariasi, ada yang membuat pipa dengan panjang 2 meter hingga 5 meter.
Junior, anak berusia 10 tahun di Dok V juga tak luput dari permainan meriam spirtus itu. Ia membuat pipa meriamnya sendiri dan mendapatkan cairan spirtus dari temannya.
“Saya bikin sendiri dengan teman-teman. Spirtusnya saya minta di teman. Kita main hanya di lapangan kompleks saja,” kata Junior.
Meriam spirtus kini paling digandrungi anak-anak. Namun, risiko bahayanya juga terbilang tinggi. Bahkan juga meresahkan pengguna kendaraan bermotor, karena banyak anak-anak yang bermain perang-perangan meriam di tepi jalan raya.
Agustianto, warga Dok V mengaku resah dengan meriam spirtus sebab punya pengalaman yang tidak mengenakkan. Menurutnya, permainan meriam spirtus itu sangat mengganggu kenyamanan. Suara bisingnya mengganggu orang istirahat dan mengganggu pengendara motor.

“Sangat mengganggu sekali. Masalahnya anak-anak itu main meriam di samping rumah dan ada juga yang main perang-perang di jalan raya mengagetkan kami kalau di jalan. Semoga dari pihak keamanan bisa sweeping anak-anak yang bermain meriam itu karena sudah sangat mengganggu sekali,” kata Agus.
Saking meresahkan dan banyaknya keluhan masyarakat terhadap meriam spirtus itu, pihak kepolisian mengimbau dan meminta para orang tua untuk memberikan edukasi kepada anak-anaknya untuk tidak lagi bermain meriam berbahaya itu.
Kapolresta Jayapura Kota Kombes Pol Fredrickus Maclarimboen mengimbau untuk menghentikan permainan meriam spirtus karena berbahaya bagi diri sendiri dan juga orang lain.
“Orang tua memiliki tanggung jawab dan peran penting dalam mencegah anak-anak mereka bermain meriam spirtus. Karena rata-rata yang bermain meriam spirtus ini anak-anak SD,” kata Kapolres dalam siaran persnya berapa waktu lalu.
Tradisi sukacita yang kebablasan
Menurut Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih Hanro Lekito, tradisi meriam ini muncul karena perayaan Natal dan Tahun Baru hampir beriringan. Anak-anak dan remaja menganggap seluruh bulan Desember adalah satu paket perayaan yang meliputi pohon Natal, petasan, mercon, hingga meriam.
”Saya lihat ini hanya sekadar tradisi. Tradisi ini sudah menjadi sesuatu yang mengakar di tengah masyarakat. Karena tradisi itu kan dicontoh,” ujarnya.
Ia merujuk pada definisi kebudayaan Koentjaraningrat (Bapak Antropologi Indonesia), kebudayaan adalah sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya yang didapatkan dengan belajar.
Lekito melihat evolusi meriam sebagai sebuah inovasi budaya yang berkelanjutan, mulai dari meriam bambu minyak tanah (tradisi kuno), pindah ke meriam karbit (bunyi sangat besar), dan kini beralih ke meriam spirtus.
“Saya tidak melihat meriam ini sebagai sekedar alat. Tetapi, dia lebih pada simbol-simbol. Simbol bunyi, artinya bahwa sesuatu yang ingin dirayakan dalam konteks bunyi-bunyian,” katanya.
Ia menyoroti sisi kontradiktif dari tradisi ini dan menyebutnya kebablasan. Tradisi yang seharusnya memberikan kemeriahan ini sering mengganggu ketertiban umum. Permainan ini berada di level anak-anak, yang bangga bisa menciptakan meriam yang semakin besar dan panjang sebagai inovasi. Namun, mereka tidak menyadari dampak negatifnya.
“Mereka kan dalam kesukacitaan, ingin berinovasi, dan membuat alat-alat meriam itu. Tapi kan sangat berbahaya untuk diri sendiri dan orang lain. Mungkin orang yang sakit jantung bisa tiba-tiba kaget, atau juga ada rumah yang terbakar karena meriam spirtus itu,” ujarnya.
Karena risiko itulah, kata Hanro, membuat pihak kepolisian dan pemerintah kerap harus memberikan imbauan di radio untuk menertibkan permainan meriam spirtus yang mengganggu.
Ia berpandangan bahwa tradisi ini perlu dikanalisasi. Perlu ada tempat khusus agar tidak dimainkan di semua tempat. Ia menekankan peran sentral keluarga, bahkan gereja untuk memberikan imbauan dan mengatur anak-anak agar sukacita perayaan tidak menyusahkan masyarakat.
“Peran keluarga itu sangat penting, bagaimana untuk menasihati, mengatur, dan menjaga anak-anak agar mereka tahu kapan waktu bermain juga bermainnya bagaimana, sehingga tidak menyusahkan orang lain. Ini sekadar tradisi tahunan, tapi mungkin kita perlu mengimbau agar menjaga supaya tradisi ini jangan sampai mengorbankan dan menyusahkan masyarakat juga, karena tradisi senang-senang tapi kebablasan toh,” kata Hanro.
Sukacita dan makna perayaan sejati
Dari sudut pandang keagamaan, Pendeta Ari Herbert Sipahelut dari GPI Bukit Zaitun, yang juga pernah bermain meriam di masa mudanya di Polimak Batu Putih, menilai tradisi ini sebagai bentuk respons masyarakat menyambut Natal, yang masih bisa ditolerir, asalkan tidak mengganggu kenyamanan.

Namun, ia menggarisbawahi perbedaan signifikan, anak-anak 90-an bermain di tempat tertentu (bukit), sementara anak-anak masa kini bermain dengan meriam ‘portable’ yang dibawa ke berbagai tempat.
Dari sisi positif, Pendeta Ari melihat adanya kreativitas anak-anak yang terasah. Anak-anak SD kini sudah bisa membuat meriam portable sendiri. Ini adalah tanda bahwa minat dan kreativitas anak berkembang. Akan tetapi, meriam portable ini juga membawa dampak negatif yang serius.
”Melihat perilaku anak yang sering menciptakan ketidaktertiban di jalan umum dan menimbulkan korban harta, maka sudah seharusnya orang tua perlu memberikan perhatian dan pendidikan bagi anak tentang makna Natal dan apa yang seharusnya dilakukan dalam menyambut Natal,” ujarnya.
Pendeta Ari menekankan bahwa Alkitab mencatat kelahiran Yesus diliputi suasana ketakutan, kesederhanaan (lahir di palungan), dan sukacita (pujian malaikat), seperti yang tertulis dalam Matius 2:16-18.
”Esensi dari Natal itu sendiri adalah sebuah kabar baik yang membawa sukacita besar bagi manusia. Kabar baik ini yang seharusnya diingat umat Kristen, agar momen perayaan dijadikan waktu untuk intropeksi dan melakukan hal-hal baik bagi masyarakat sehingga kabar baik itu dirasakan oleh semua, bukan hanya umat Kristen,” ujarnya.
Menurutnya Gereja juga perlu memberikan edukasi kepada orang tua dan anak, serta mendukung suatu kegiatan yang dapat menjadi sarana bagi kaum muda dalam mengembangkan kreativitas mereka menyambut Natal.
“Karena itu, orang tua dan gereja perlu menyediakan sebuah tempat dan kegiatan yang membuat anak merayakan Natal dengan cara yang tepat,” katanya.
Tradisi ‘perang meriam’ di kalangan anak-anak dan remaja di Kota Jayapura tak hanya menjadi orkestra dentuman khas yang menandai datangnya kegembiraan menjelang Natal dan akhir tahun, tetapi cerminan kompleksitas budaya yang perlu bimbingan agar sukacita perayaan tidak berakhir dengan tragedi. (*)





















Discussion about this post