Nabire, Jubi – Kepala Distrik Kamuu Frans Dogomo kepada Jubi.id via telepon pada Selasa (6/8/2024) dan dikonfirmasi kembali pada Rabu (7/8/2024) menyebutkan, satu orang korban longsor bencana alam di Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah masih terus dicari.
“Satu jasad anak-anak yang tertimbun longsor belum ditemukan, sehingga hari ini masih dilakukan proses pencaharian, karena tertimbun tanah longsor yang cukup sulit dibongkar, sedangkan proses evakuasi yang dilakukan warga masih dengan cara manual sehingga lama ditemukan,” katanya.

Ia menginformasikan bahwa Penjabat Bupati Dogiyai Marthen Ukago telah menambah bantuan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan sembako untuk memperlancar proses pencarian korban.
Saat ini, katanya, warga masih mengungsi dan rata-rata tinggal bersama dengan keluarga dan di kampung atau rumah tetangga yang tidak tergenang air.
“Jadi saat ini warga mendirikan terpal dibangun di rumah korban tanah longsor sebagai bentuk duka cita,” ujarnya.
Dogomo mengatakan untuk posko umum, Penjabat Bupati Dogiyai telah memerintahkan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Dogiyai, Asisten II Setda Dogiyai, Dinas Sosial dan Kasatpol Pamong Praja untuk menugaskan anggotanya di posko penampungan sementara.
“Jadi mereka ditugaskan di posko penampungan bahan makanan yang didirikan Pemkab Dogiyai,” katanya.
Kondisi banjir
Seperti diberitakan sebelumnya, banjir menggenangi tiga kampung di Distrik Kamuu sejak Minggu (4/8/2024). Ketiga kampung adalah Kampung Bukapa, Kampung Putapa, dan Kampung Yepo. Genangan air dari selutut hingga setingga dada orang dewasa, menggenangi ratusan rumah dan bangunan sejumlah sekolah.
Selain itu, hujan lebat yang mengguyur distrik itu juga menyebabkan longsor di dua titik di Kampung Bukapa
Dan Kampung Yepo pada pukul Minggu (4/8/2024) sekitar pukul 23.00 WIT. Longsor di Bukapu menyebabkan empat orang tewas, yaitu Dortea Iyai SPd (28 tahun), guru SD Negeri Inpres Pona di Muniopa yang sedang hamil berserta tiga anaknya, Dekris Ode Anou (9 tahun), Enjelia Anou (6), dan Benny Anou (3 tahun). Satu anaknya masih belum ditemukan dan dicari.

Dogomo mengatakan, di jalan raya utama air masih belum surut.
“Posisinya saat ini air masih di batas dada di dua tempat, yaitu P3 dan setelah Jembatan Mauwa. Kalau sepanjang jalan, selain P3 dan Mauwa, air sudah surut. Sedangkan di kali masih belum normal, sebagian rumah warga yang berdekatan dengan kali masih tergenang,” katanya.
Ia mengatakan cuaca masih mendung. Jika tidak ada hujan, kata Dogomo, kemungkinan air akan turun. Namun jika hujan banjir akan bertambah.
Harapan warga dan guru
Koordinator Program Keluarga Harapan Kabupaten Dogiyai Frits Agapa membuat laporan singkat terkait banjir bandang di Dogiyai. Menurutnya banjir terjadi akibat curah hujan yang tinggi sejak Sabtu (3/8/2024) pukul 3 sore. Hujan berlangsung sampai Minggu (4/8/2024) pukul 6 pagi.
Curah hujan yang tinggi itu menyebabkan banjir di mana-mana di lima distrik di wilayah Lembah Kamuu.
Agapa menyebutkan lokasi yang mengalami dampak longsor dan banjir adalah Kampung Putapa dan Kampung Bukapa di Distrik Kamu. Lebih 2.000 penduduk kehilangan mata pencaharian. Sumber makanan, rumah tempat tinggal, dan gedung pendidikan, kolam ikan dan ternak warga ikut hanyut terbawa banjir bandang.
Disampaikan Agapa, di Kampung Obayo, Distrik Kamuu Utara 50 rumah dan kebun terendam banjir. Selain itu sejumlah ternak juga hanyut.

Sedangkan di Kampung Nuwa, Distrik Kamuu Timur 40 rumah tenggelam, ternak hanyut, dan kebun terendam. Di Kampung Botukebo, Kampung Pouwouda, Kampung Obaibega, Kampung Jigikebo, dan Kampung Tuwaida di Distrik Kamu Selatan juga hampir sama, rumah, kebun, dan ternak rusak dan hanyut oleh banjir bandang.
Agapa mengatakan, saat pendamping Program Keluarga Harapan mendatangi lokasi, warga menyampaikan sejumlah harapan dan permohonan agar pemerintah membantu peralatan tidur dan bahan makanan.
“Warga punya barang-barang seperti selimut, pakaian, dan bahan makanan telah hanyut terbawa banjir,” katanya.
Agapa menyampaikan pemerintah juga diminta untuk dapat membangun rumah layak huni bagi warga yang rumahnya rusak akibat banjir bandang. Juga bantuan ternak pengganti ternak mereka yang hanyut.
Selain warga, Agapa mengatakan juga bertemu dengan para guru. Mereka berharap pemerintah dapat membangun tanggul agar sekolah mereka terlindungi banjir di masa depan. Mereka juga berharap ada bantuan rumah layak huni buat guru.
Selain itu juga bantuan buku pelajaran sekolah yang terendam air, alat peraga yang rusak, kapur tulis yang sudah basah, dan lain sebagainya berkaitan dengan keperluan sekolah bagi anak didik dan guru.
Agapa juga menyebutkan, keluarga korban longsor mengharapkan bantuan untuk pemakaman jenazah, kedukaan, dan keperluan lainnya selama menjalani prosesi duka berlangsung.
Kemudian perlu dibangun beberapa jembatan permanen supaya jika terjadi bencana banjir lagi warga bisa tetap beraktivitas.
“Aspirasi keluarga korban serta warga terdampak banjir disampaikan kepada kami untuk dipublikasikan sekaligus menyampaikan kepada pemerintah daerah agar memberikan bantuan,” katanya.

Kritik pemerintah terkait dana mitigasi bencana
Warga Dogiyai, Willem Bobi menilai jika dana mitigasi bencana digunakan secara baik maka kemungkinan kecil akan terjadi bencana.
“Saya melihat penggunaan dana mitigasi bencana itu harus digunakan sebelum bencana itu terjadi untuk mengantisipasi bencana longsor atau hujan yang kemudian merugikan warga,” katanya.
Menurut Bobby, output dari penggunaan dana mitigasi untuk memberikan pencegahan. Penggunaan dana bisa dilakukan untuk pemetaaan dan membuat program jangka panjang untuk daerah rawan bencana.
“Jadi pemerintah perlu mengklasifikasikan masalah tinggi-rendah, bencana banjir atau longsor, atau jenis banjir lainnya agar tidak terjadi bencana alam,” katanya. (*)



















Discussion about this post