Jayapura, Jubi – Wakil Rektor III Universitas Cenderawasih atau Uncen Jayapura, Papua, Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si mengatakan pembangunan di Papua mesti mengedepankan pendekatan budaya.
Menurutnya, ada sekitar 250 suku di Tanah Papua dengan etnisitas dan lingkungan berbeda sehingga perlu memahami Papua dengan baik termasuk dalam aspek pembangunan.
“Sebenarnya pendekatan yang paling tepat dalam membangun Papua harusnya melalui pendekatan budaya dan antropologi orang Papua,” kata Dr. Septinus Saa, S.Sos., M.Si saat dies natalis jurusan antropologi Uncen ke-48 tahun di Aula FISIP Uncen, Kota Jayapura, Papua, Jumat (9/1/2026).
Menurutnya, dies natalis ini bukan sekadar refleksi. Akan tetapi tanggung jawab keilmuan, sehingga harus bisa melakukan tridarma. Melakukan riset, pembelajaran dan pengabdian terhadap masyarakat.
“Terutama riset, itu dilakukan dalam rangka memperkuat keilmuan dan dipakai secara baik untuk pembangunan Papua. Kita memahami Papua yang beragam dari sisi budaya dan lain-lain. [Sehingga] secara keilmuan itu, kita belajar antropologi baru paham atau mengerti. Dengan itu pendekatan yang kita lakukan dalam pembangunan misalnya, kita pahami masyarakat Papua secara antropologi itu tepat,” ujarnya.
Dr. Septinus Saa mengatakan, semua agen pembangunan di Tanah Papua harus memahami keragaman orang Papua secara antropologi.
“Orang belanda mereka tahu bagaimana membangun orang Papua, karena mereka paham budayanya, mereka belajar mendalami tentang antropologinya orang Papua,” katanya.
Ia berharap, ke depan pola ilmiah pokok atau PIP harus diperkuat oleh antropologi, sehingga Uncen kuat dan punya karateristik khusus, karena perguruan tinggi di Papua bersaing untuk membangun keunggulan sendiri.
“Jadi apa yang beda dari kita, apa yang unik dari kita, itu tidak sama dengan perguruan tinggi lain. Misalnya Uncen punya pola imiah pokok basisnya antropologi, budaya dan lingkungan,” ucapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen, Dr. Marlina Flassy, S.Sos., M.Hum., Ph.D mengatakan pendekatan yang tepat dalam membangun Papua adalah pendekatan budaya, karena Papua terdiri dari beragam budaya di empat zona wilayah di Tanah papua.
“Orang Papua di pesisir pulau itu beda dengan orang Papua yang ada di dataran rendah, beda juga dengan orang yang ada di dataran tinggi, rawa-rawa, di daerah perbukitan, daerah Gunung itu berbeda,” ujar Flassy.
Marlina Flassy menegaskan bahwa konsep pendekatan budaya dalam pembangunan, bisa menjawab persoalan pembangunan di Tanah Papua.
“Jangan bilang orang Papua itu sama semua, memang secara etnis sama. Akan tetapi budaya yang sangat beragam, sehingga pendekatan juga berbeda,” ujarnya. (*)























Discussion about this post