Jayapura, Jubi – Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Cenderawasih (Fisip Uncen) Jayapura, Apner Krei, S.Sos. M.Si mengatakan pelatihan jurnalistik dapat membentuk mahasiswa yang kritis, kreatif dan melek media.
Pernyataan itu disampaikan Apner Krei, saat pelatihan jurnalistik sehari bagi mahasiswa Uncen yang digelar, Sabtu (12/7/2027).
Pelatihan yang digelar di ruang kuliah Prodi Manajemen Administrasi Perkantoran Kampus Uncen Abepura di Kota Jayapura, Papua itu, bertujuan meningkatkan wawasan mahasiswa pada sembilan fakultas di Uncen.
“Pelatihan ini bertema membentuk mahasiswa yang kritis, kreatifitas dan melek media. Meskipun semua peserta pelatihan terdiri dari mahasiswa sembilan Faklutas dari Uncen,” kata Apner Krei saat membuka pelatihan jurnalistik.
Menurutnya, pelatihan jurnalistik ini sebagai upaya agar mahasiswa memahami tentang literasi media, dan kemampuan untuk bertanggung jawab.
Sementara itu dosen Fisip Uncen, Dr. Gabriel Maniagasi, MSi menyampaikan materi tentang piramida terbalik, dasar-dasar utama penulisan berita, yaitu Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana (Adik Simba) kepada 30 mahasiswa peserta pelatihan.
Maniagasi yang memiliki latar belakang jurnalis itu menjelaskan bagaimana menulis berita sesuai hasil peliputan di lapangan, bagaimana menggali fakta, akurasi dan data-data di lapangan.
“Hanya saja kalian harus mengingat bahwa dalam menulis berita harus menuliskan fakta dan bukan memasukan opini pribadi,” kata Gabriel Maniagasi yang merupakan mantan wartawan Jubi dan Suara Pembaruan itu.
Adapun materi lain yang diberikan Maniagasi meliputi Pengantar Jurnalistik, Kode Etik Jurnalistik dan Anatomi Berita.
Editor senior Jubi, Dominggus A Mampioper yang juga menjadi pemateri dalam pelatihan itu memberikan materi bagaimana teknik wawancara, reportase dan penulisan berita, dan mahasiswa juga tertarik membahas mengenai AI atau Artificial Intelligence.
Peserta pelatihan dari Fisip jurusan Hubungan Internasional (HI), Pigay mengatakan dalam menggunakan AI mengerjakan tugas maupun penulisan tugas sangat tergantung dari pengguna.
“Bagi saya pemanfaatan AI atau kecerdasan buatan ini hanya sebagai pembantu dalam mempercepat tugas tetapi keputusan berada di tangan pengguna,” kata Pigay.
Pendapat ini hampir sebagian besar didukung oleh mahasiswa peserta pelatihan, karena penggunaan AI dinilai sangat membantu, dan memberikan manfaat dalam penulisan karya tulis.
Menananggapi itu, Gabriel Maniagasi pun mengatakan bahwa dalam perkembangan teknologi sekarang ini, AI juga bisa membantu wartawan dalam penulisan berita. (*)






















Discussion about this post