Jayapura, Jubi – Anggota Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan atau PPKSP Nur Chasanah mengatakan perundungan atau bully itu marak terjadi dimana-mana, baik di kalangan masyarakat, pelajar, mahasiswa, bahkan di perusahaan-perusahaan.
Menurutnya salah satu alasan yang mendorong anak-anak sekolah melakukan tawuran, pembunuhan, bunuh diri, pemerkosaan, pelecehan dan kejahatan lainnya adalah perundungan.
“Bully memang harus dicegah, bully itu harus diberantas, bully itu harus diperangi. Karena bully itu merusak masa depan, merusak kepercayaan diri, dan merusak segala-galanya. Bully itu menjatuhkan mental yang menghancurkan generasi” kata Nur kepada Jubi usai memberikan materi dalam kegiatan FKUB Kota Jayapura, di SMPN 9 Hamadi, Jalan Kelapa 2, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, Selasa (29/10/2024).
Nur yang juga pengawas PAUD Kota Jayapura itu mengatakan perundungan bisa dilakukan langsung secara fisik, namun juga melalui medium elektronik yang menyerang secara psikis atau verbal. Perundungan verbal bisanya dalam wujud ucapan-ucapan merendahkan atau meremehkan orang. Misalnya yang bernuansa rasis atau SARA.
“Misalnya ya, mohon maaf, ini sering terjadi biasanya kayak rasis, seperti kamu dari suku ini ya, kamu gak bisa, kamu itu bodoh, kamu seperti ini, kamu seperti itu kan perkataan yang membuat sakit hati, membuat kecewa sehingga berujung pada balas dendam,” katanya.
Nur Chasanah menegaskan perundungan ini harus dicegah dengan upaya rohaniawan, pendidikan agama di sekolah-sekolah harus diperkuat. Dia juga menyebutkan program Pendidikan Moral Pancasila atau PMP dengan menteri pendidikan sekolah menengah dapat menjadi sarana pencegahan.
“PMP sudah ada ini, kami berharap dengan pendidikan moral di sekolah-sekolah ini membuat bully tercegah di dunia pendidikan,” katanya.
Ia menjelaskan peran satgas PPKSP adalah bagaimana melakukan pencegahan. “Ini ranahnya kami satgas bagaimana menangani dan mencegahnya yaitu dengan sosialisasi ke sekolah-sekolah bukan hanya kepada murid-murid tetapi kepada guru-guru juga,” katanya.
Anggota satgas PPKSP itu menyarankan kepada orang tua/wali, guru-guru, para rohaniawan bahwa anak membutuhkan keteladanan bukan dibombardir dengan kata-kata atau omelan. “Anak-anak remaja sekarang tidak butuh dimarah-marah, disalahkan, disudutkan, tetapi anak butuh dirangkul,” katanya.
“Ketika guru bimbingan konseling atau BK dan kita semua jangan selalu menyalahkan anak-anak, tetapi memberikan motivasi dan dorongan untuk mereka bangkit dan percaya diri,” ujarnya.
Asisten III Sekretaris Daerah atau Kota Jayapura, Frederik Awarawi mengatakan di masa remaja anak-anak berada dalam periode penuh tantangan. Mereka dihadapkan pada berbagai pengaruh, baik positif maupun negatif. Oleh karena itu, penting bagi pendidik memberikan bekal pengetahuan dan pemahaman yang kuat agar terhindar dari kenakalan remaja seperti tawuran, narkoba, pergaulan bebas, dan kenakalan lainnya.
“Hiduplah rukun bersama teman, saudara, guru, tetangga dan yang lainnya. Hidup rukun menjadi kunci penting dalam mencegah kenakalan dan saling menghormati, menghargai perbedaan, kita dapat menciptakan dan mendukung harmonis yang lingkungan perumbuhan positif di lingkungan kita,” ujarnya.
Frederik menyampaikan apresiasi kepada FKUB Kota Jayapura yang menggelarkan kegiatan peduli terhadap generasi dan para guru bimbingan konseling yang selama ini membimbing siswa dalam membantu mengatasi masalah dan tantangan yang dihadapi.
“Saya berharap kita dapat memberikan edukasi yang efektif kepada pendampingan siswa, memberikan solusi dan arahan yang tepat, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan kondusif,” katanya. (*)






















Discussion about this post