Jayapura, Jubi – Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdhaki) Sub Recipient (SR) Wilayah Keuskupan Jayapura, Papua, menyelenggarakan pelatihan strategi komunikasi dan penggerakan masyarakat bagi para tokoh kunci dalam rangka percepatan eliminasi malaria.
Pelatihan ini berlangsung selama lima hari, mulai dari Selasa hingga Sabtu (10-14 September 2024) di sebuah hotel di Abepura, Kota Jayapura.
Ketua SR Perdhaki Wilayah Keuskupan Jayapura, Erhardus Desa, MA, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung eliminasi malaria, khususnya di Papua. Pelatihan tersebut melibatkan sejumlah kepala kampung dari Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura, karena peran kepala kampung dinilai sangat penting dalam memahami kondisi di lapangan.
“Pelatihan ini kami fokuskan untuk kepala kampung di wilayah Kabupaten Keerom dan Kota Jayapura. Kepala kampung adalah sosok kunci karena mereka yang paling memahami situasi dan kebutuhan masyarakat di kampung masing-masing,” ujar Erhardus pada Rabu (11/9/2024) dalam wawancaranya dengan Jubi.
Erhardus menambahkan bahwa keterlibatan kepala kampung dalam program eliminasi malaria sangat krusial, tidak hanya dari sisi administrasi yang bekerja sama dengan pemerintah, tetapi juga dalam interaksi langsung dengan masyarakat. “Kami membutuhkan kepala kampung untuk menjadi ujung tombak advokasi, pendidikan, dan pengorganisasian masyarakat dalam upaya eliminasi malaria,” tambahnya.
Ia berharap setelah pelatihan ini, akan ada lebih banyak tenaga kerja yang dapat bekerja sama di setiap kampung untuk mendukung penanganan malaria. Pelatihan tersebut diadakan di Hotel Suni, Abepura, Kota Jayapura.

Sementara itu, Kepala Kampung Yanama A Pir Satu, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Timotius Ap, menyatakan harapannya agar eliminasi malaria di Papua, khususnya di Kabupaten Keerom, bisa tercapai sesuai target pada tahun 2026.
“Mudah-mudahan tahun 2026, angka malaria di Papua, terutama di Kabupaten Keerom, bisa berkurang sesuai harapan. Pelatihan ini menjadi pedoman penting bagi kami untuk mencapai target tersebut,” katanya.
Kepala Kampung Skouw Mabo, Distrik Muara Tami, Hanok R. Mallo, menambahkan bahwa pelatihan ini sangat membantu kepala kampung dalam menyusun langkah-langkah strategis untuk memerangi malaria. Salah satu langkah konkret yang diambil di kampungnya adalah menggunakan dana desa untuk membeli alat penyemprotan nyamuk.
“Kami telah menggunakan dana desa tahun 2024 untuk membeli alat penyemprotan nyamuk. Ke depan, kami juga akan menyusun peraturan kampung (Perkam) untuk penanganan malaria secara lebih efektif,” ujar Hanok. (*)




















Discussion about this post