Jayapura, Jubi – Kisah anak-anak pedagang asongan di jembatan merah Kota Jayapura. Menjajakan jualan tanpa malu. sering mengalami hal kurang menyenangkan.
Marko Dori (14) asal Waropen, siswa kelas 2 SMP, di SMP 3 Kota Jayapura. Ia merantau jauh dari kedua orang tuanya, karena ingin melanjutkan pendidikannya.
“Sa anak ketiga dari lima bersaudara, orang tua dan saudara-saudara di Waropen, di sini sa numpang di keluarga, untuk lanjut sekolah. Sa mama kerja sapu-sapu jalanan, dan sa bapa jual minyak tanah,” dia bicara malu-malu. Sedikit gugup. Begitu Dori bercerita kepada Jubi baru-baru ini
Dori juga bercerita kalau ia mau ikut jualan untuk menambah uang jajan dan beberapa kebutuhan di sekolah. Juga sambil menolong keluarga yang ia tumpangi .
“Kita biasa jualan sore jam 17:00 WP sampai 22:00 WP, kadang ada anak-anak yang tidak tahu asalnya dari mana, suka pajak kami [minta uang], kadang juga ada orang mabuk, tapi mereka tidak ganggu kami,” katanya.
Ada juga Steven Urbanus Imbiri (13), sepulang sekolah dia biasa bantu mama dengan bapaknya berjualan di kawasan jembatan merah sini.
“Kami jualan, pinang, sirup, kopi, keripik pisang bumbu balado, pisang keju, singkong balado, barang jualan kita bawa jalan sepanjang jembatan merah, bolak-balik,” katanya.
Lalu ada Ardi Yudistra Pratama Koirewoa (11), “Sa bapa orang Makasar, sa mama orang Papua asal dari Waropen.”
“Sa sering kalau main ke Steven punya rumah, terus lihat dia ikut mamanya jualan. Lama-lama saya juga berminat ikut, dan adik saya Anto juga mau ikut,” kata Koirewoa .
Koirewoa juga mengatakan ia dan adiknya sekarang tinggal di rumah Steven, karena sudah betah. Orangtuanya sering meningglkan dia dan adiknya, karena kebutuhan ekonomi. Mamanya bantu keluarga di Sarmi, untuk garap kebun.
Mince Kristin Imbiri (14) salah satu anak yang juga berjualan, mengatakan ia baru-baru ini baca berita mengenai pernyataan dari PJ Walikota Jayapura yang melarang anak-anak untuk ikut berjualan.
“Kalau PJ Walikota Jayapura keluarkan larangan untuk anak-anak berjualan di jembatan merah. Terus nasib kami anak-anak yang ekonomi keluarganya terbatas bagaimana? Kami tidak dapat beasiswa, dan satu-satunya jalan, kami ikut bantu orang tua untuk jualan,” Mince.
Mince juga bilang, kalau ada larangan untuk anak-anak jualan di Jembatan Merah, PJ Walikota mesti bantu kesusahan yang mereka alami.
Mama dari Steven dan Mince, Naomi Sueni (43), menjelaskan kalau keadaan ekonomi serba terbatas, untuk itu ia dan suami berpikir untuk cari tambahan, dengan cara berjualan di jembatan merah, kota Jayapura.
“Dulu saya jualan di taman imbi, cuma banyak orang di sana, jadi pindah ke jembatan merah, setelah pindah ke sini, anak-anak, keponakan, dan teman, anak saya Steven juga ikut bantu. Barang-barang yang dijual itu, pinang, sirup, pisang keju, singkong balado, keripik pisang,” kata Sueni.
Harga barang dagangan untuk pinang, dijual per tumpuk seharga Rp10 ribu, untuk sirup, kopi, pisang keju, singkong balado, dan keripik pisang harganya sama Rp5 ribu.
Mama Sueni juga mengatakan ia ingin mendidik anak-anaknya agar kelak bisa hidup mandiri. Berjuang untuk bisa tetap bertahan hidup, dengan cara yang baik, tidak terpengaruh pergaulan buruk.
Salah satu pengunjung yang sempat Jubi wawancarai, Rio (38) asal Ambon, mengatakan ia sangat prihatin dengan keadaan adik-adik yang harus jualan sampai malam di jembatan merah.
“Dana Otsus itu kemana? Kenapa masih ada anak-anak Papua yang nasib kayak adik-adik ini? Seharusnya dong tidak ikut jualan sampai larut malam, dong harus istirahat, biar besok bisa ke sekolah,” kata Rio. (*)






















Discussion about this post