Jayapura, Jubi – Sudah berjalan dua tahun sejak Petrus Wenda (22), mahasiswa asal Timika Provinsi Papua Tengah, mulai berjualan aksesori khas Papua sejak 2022. Mahasiswa semester empat, Fakultas Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Cenderawasih itu bahkan sukses membiayai kuliahnya dari berjualan aksesori.
Sambil menyiapkan lapak jualannya di Waena, Heram, Kota Jayapura, Papua, pada Senin (13/5/2024), Petrus Wenda bercerita kepada Jubi bahwa ia mewarisi bakat bapaknya, yang juga seorang pengrajin aksesori kawakan khas Papua di Timika. Dari dialah Wenda belajar berjualan.
“Sejak SMA sudah memulai belajar dari Bapak, karena bapak saya sudah puluhan tahun membuat dan menjual aksesori Papua yang bahannya berasal dari bulu ayam yang dalam bahasa Lani disebut ‘Toeri’, juga bulu kasuari untuk membuat mahkota cenderawasih, taring babi, koteka, dan beberapa barang lainnya,” ujar Petrus Wenda.

Sejak awal duduk di bangku kuliah, Wenda sudah merencanakan untuk berjualan. Menginjak semester kedua tahun 2022 dia mulai rencana tersebut dengan berjualan souvenir. Wenda merasa aktivitas jualannya itu juga selaras dengan ilmu pendidikan yang ditempuh di Jurusan Ekonomi Pembangunan.
“Jadi memang tidak sia-sia saya berjualan ini. Selain berjualan ini sambil biayai kuliah tapi sesuai saya punya jurusan, karena di jurusan saya disitu lebih banyak belajar terkait bisnis dan berbisnis,” kata Wenda.
Beberapa aksesoris dan souvenir khas Papua yang ia jual adalah gelang tangan seharga Rp30 ribu, gelang leher Rp100 ribu, gelang anggrek Rp300 ribu, gantungan kunci motor Rp20 ribu dan mahkota polos Rp300 ribu.
“Pendapatan perhari tergantung pembelinya. Misalnya saya berjualan dari pagi hingga sore bisa mendapatkan hasil sekitar Rp500 ribu hingga Rp600 ribu, namun pada bulan November sampai Desember perhari bisa menghasilkan uang sampai Rp1 juta hingga Rp1,5 juta,” katanya.
Wenda mengatakan, ia berjualan menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya, tak selalu pagi sampai sore. Dia tetap mengutamakan kuliah, dan bisnis nomor dua. Selepas pulang kuliah sekitar pukul 14 WIT hingga selesai ia gelar lapaknya di Pasar Youtefa, Abepura Jayapura Papua.
“Saya tetap berjualan, namun mengutamakan kuliah daripada berjualan di pasar. Saya juga berjualan tidak satu tempat tapi berpindah-pindah,” ujarnya.

Kadang Petrus Wenda berjualan di Pasar Youtefa, di lain waktu ia menggelar dagangannya di tepat jalan masuk bandara.Sentani, Kabupaten Jayapura. Wenda mengaku saat ini ia tidak memiliki tempat berjualan tetap atau permanen, sehingga ia akan bolak balik membawa hasil dagangannya dari Pasar Youtefa atau dari Bandara Sentani, setiap hari.
Terlepas lelah karena setiap hari berjualan, Wenda senang karena dari hasil berjualan lah ia bisa membayar uang kuliah. Bahkan dia bisa membeli satu unit sepeda motor dari hasil pendapatannya sejak Juni hingga Oktober 2023. Sepeda motor yang harganya sekitar Rp7 juta rupiah itu yang mengantarnya pulang pergi berjualan.
Petrus Wenda berkeinginan untuk bisa terus melanjutkan bisnis berjualan aksesori Papua selesai kuliah nanti.
Namun tantangan berjualan juga banyak, terutama dalam hal ketersediaan bahan baku, lokasi dan lapak berjualan yang tetap serta tim kerja.
“Beberapa barang seperti bulu kasuari, bulu cendrawasih, taring babi, tidak gampang didapatkan, selain itu belum memiliki tempat jualan, kemudian dalam proses pembuatan aksesori saya tidak punya teman,” kata dia.
Memang dalam pembuatan gelang tangan dan beberapa aksesori lain Wenda masih bekerja sendiri. Kini dia mulai merasa perlu ada teman untuk bekerja bersama.
Petrus Wenda merasa bangga telah meneruskan jejak ayahnya, sambil berkuliah di jurusan yang sesuai dengan potensi dirinya di bidang kewirausahaan.(*)





















Discussion about this post