Sorong, Jubi – Puluhan anak anak Sekolah Dasar (SD) YPK Immanuel Manyaifun bersama guru dan petugas kesehatan lingkungan (Kesling) Puskesmas (PKM) Manyaifun menggelar aksi peduli lingkungan dengan melakukan kegiatan angkat sampah di sepanjang pesisir Pantai Kampung Manyaifun, Raja Ampat, Papua Barat Daya, Senin (26/1/2026).
Kegiatan ini melibatkan 33 orang, terdiri dari 30 siswa SD, satu guru, serta dua staf Kesehatan lingkungan (Kesling) Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Manyaifun.
Aksi dimulai sejak pukul 16.15 WP dan berakhir pada pukul 18.00 WP, dengan menyasar area pantai yang selama ini dipenuhi sampah plastik dan limbah rumah tangga.
Guru SD YPK Immanuel Manyaifun, Alex Boby Mambrasar menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih biasa, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan kesadaran lingkungan sejak usia dini.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Kami ingin anak anak belajar langsung dari tindakan, bukan hanya teori di kelas. Lingkungan ini adalah ruang hidup mereka, jadi mereka harus dikenalkan sejak dini untuk menjaga dan merawatnya,” ujar Alex Mambrasar kepada wartawan.
Alex menjelaskan, kegiatan angkat sampah ini sepenuhnya merupakan inisiatif bersama antara guru SD YPK Immanuel Manyaifun dan anggota Kesling PKM Manyaifun, tanpa paksaan, dan dilakukan secara sukarela demi menanamkan nilai tanggung jawab terhadap alam.
“Kalau anak anak sudah dibiasakan peduli sejak sekarang, ke depan mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tidak merusak lingkungannya sendiri,” ujarnya.
Senada dengan itu, ditekankan oleh Maya Unmehopa bahwa persoalan sampah di wilayah pesisir Kampung Manyaifun perlu mendapat perhatian serius, serta bahwa edukasi sejak dini dinilai sebagai langkah paling efektif.
Menurut Maya, sebagian besar sampah di pantai tersebut berasal dari aktivitas harian masyarakat dan, apabila tidak ditangani, dampaknya akan dirasakan kembali oleh masyarakat sendiri, terutama terhadap kesehatan dan ekosistem laut.
Keterlibatan anak anak sekolah dalam aksi ini menjadi pesan kuat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh Masyarakat.
“Anak anak ini adalah contoh mereka memberi pesan kepada orang dewasa bahwa menjaga lingkungan itu dimulai dari hal kecil, seperti tidak membuang sampah sembarangan,” katanya.
Staf Kesling PKM Manyaifun, yakni Prisilia Mayingin mengatakan dengan kegiatan ini, mereka ingin membangun kebiasaan, bukan kegiatan seremonial.
“Harapannya, aksi seperti ini bisa dilakukan secara rutin dan menjadi budaya,” ujar Prisilia Maya.
Menurut prisilia keterlibatan siswa SD YPK Immanuel Manyaifun juga menjadi bagian dari edukasi kesehatan lingkungan yang berkelanjutan. “Kami ingin anak anak paham bahwa menjaga lingkungan itu sama dengan menjaga kesehatan diri mereka sendiri dan keluarga mereka,” tuturnya.
Pantauan di lokasi menunjukkan, anak-anak tampak antusias memungut sampah plastik, botol bekas, dan limbah lainnya yang berserakan di sepanjang Pantai, selain membersihkan lingkungan, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi singkat mengenai dampak sampah terhadap kesehatan dan laut.
Aksi angkat sampah ini menjadi bukti bahwa gerakan sadar lingkungan sejak dini dapat dilakukan dengan langkah sederhana namun berdampak besar inisiatif guru dan tenaga kesehatan lingkungan di Kampung Manyaifun ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah dan kampung lain di wilayah Papua Barat Daya.
Alex Mambrasar menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi bentuk keprihatinan atas minimnya fasilitas pengelolaan sampah di Kampung Manyaifun, khususnya di wilayah pesisir yang langsung berbatasan dengan laut jadi selama ini tidak ada tempat pembuangan sementara yang layak sampah akhirnya dibuang ke pantai atau laut. “Ini masalah serius yang tidak bisa terus dibiarkan,” tegas Alex Mambrasar
Ia menilai, jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah kampung hingga distrik, maka anak-anak dan generasi muda akan terus hidup berdampingan dengan lingkungan yang tercemar jangan sampai anak anak tumbuh dengan anggapan bahwa pantai kotor itu hal biasa. “Itu pola pikir yang berbahaya,” ujarnya.
Sementara itu, tenaga Kesehatan (Nakes) Puskesmas, Prisilia Maya menyoroti dampak kesehatan yang mulai dirasakan masyarakat akibat lingkungan yang tidak bersih, terutama bagi anak-anak. “Sampah ini bisa menjadi sumber penyakit jadi mulai dari diare, penyakit kulit, sampai malaria karena genangan air di antara tumpukan sampah,” kata prisilia
Ia menegaskan bahwa peran tenaga kesehatan lingkungan bukan hanya menunggu pasien di fasilitas kesehatan, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk mencegah penyakit sejak awal pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan. Dan pencegahan itu dimulai dari lingkungan yang bersih,” jelasnya.
Alex Boby Mambrasar Guru pendamping kegiatan tersebut menyebutkan bahwa aksi ini juga menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas yang selama ini jarang dilakukan akibat keterbatasan sarana dan anak anak belajar langsung di lapangan dan mereka melihat, menyentuh, dan merasakan sendiri dampak sampah. Itu lebih membekas daripada hanya membaca buku,” ungkapnya
Aksi anak anak SD YPK Immanuel Manyaifun ini pada akhirnya menjadi cermin telanjang ketika negara tidak hadir, warga bergerak ketika sistem gagal, anak anak dipaksa menjadi garda depan.
“Kami tidak menunggu proyek. Kami bergerak karena ini tanah dan laut kami,” ujar Alex Mambrasar.
kegiatan tersebut, para guru dan anggota Kesling PKM Manyaifun menegaskan komitmen mereka untuk terus mendorong gerakan sadar lingkungan di Kampung Manyaifun, meski tanpa dukungan anggaran yang memadai.
“Kami mulai dari apa yang kami punya Harapannya, pemerintah melihat dan tergerak untuk serius menangani persoalan lingkungan di kampung-kampung pesisir,” ujar Maya Unmehopa.(*)
Untuk melihat lebih banyak content JUBI TV, click here!





















Discussion about this post