Jayapura, jubi – PT. Gag Nikel dikenal sebagai salah satu anak perusahaan Antam, Tbk yang bergerak dalam bisnis pertambangan nikel di Pulau Gag, Distrik Waigeo Kepulauan Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Dikutip dari laman internet gagnikel.com, Rabu (25/6/2025) PT. Gag Nikel adalah perusahaan pertambangan nikel yang didirikan di Indonesia dan beralamat di Antam Office Building Tower B, Lantai MZ, Jalan TB. Simatupang No. 1 Jakarta Selatan 12530 adalah pemegang Kontrak Karya Generasi VII No. B53 / Pres / I / 1998 tahun 1998 yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia pada 19 Januari 1998.
Awalnya, kepemilikan saham mayoritas PT Gag Nikel dimiliki oleh Asia Pacific Nickel Pty. Ltd. (APN Pty. Ltd) sebesar 75% dan PT. Antam Tbk. sebesar 25%. Namun sejak 2008 PT. Antam Tbk. berhasil mengakuisisi semua saham PT. Asia Pacific Nickel Pty. Ltd, sehingga pada tahun 2008, PT. Gag Nickel sepenuhnya dikendalikan oleh PT. Antam Tbk.
Tak heran kalau diantara lima perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya hanya PT Gag Nikel yang tidak dicabut izin usaha pertambangannya.
Mengutip www.tempo.co bahwa Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah memutuskan mencabut Izin Usaha Pertambangan (IUP) empat dari lima perusahaan yang beroperasi di Raja Ampat. Mereka yang dicabut izinnya adalah PT Anugerah Surya Pratama (ASP), PT Mulia Raymond Perkasa (MRP), PT Kawei Sejahtera Mining (KSM), dan PT Nurham.
Jika menyimak aktivitas tambang nikel di Pulau Gag sebenarnya proyek di sana mulai dilakukan sejak 1975 atau era 1970 an. Menurut Ross Garnaut dan Chris Manning dalam buku berjudul Perubahan Sosial Ekonomi di Irian Jaya, penerbit PT Gramedia Jakarta, 1979 menulis kontrak – kontrak pertambangan di Irian Jaya sampai dengan Desember 1972 termasuk PT Pacific Nickel dengan para pemilik saham antara lain US Steel 43 persen, Newmont 15 persen, Gorden (Kanada) sebanyak 10 persen, Hoogovens(Belanda) 15 persen dan Mueller sebesar 10 persen. Lokasi penambangan waktu itu untuk perusahaan PT Pacific Nickel adalah pulau-pulau di Waigeo dan Gag, Sorong (lokasi A1) dan Gunung-gunung Cyklop dekat Jayapura (lokasi A2).
Buku yang ditulis ekonom dari Universitas Nasional Australia itu melaporkan bahwa eksplorasi wilayah A1 Waigeo dan Gag selesai dilakunan dan putusan tentang masa depan akan diambil. Sedangkan lokasi A2 di Jayapura belum dieksplorasi, pada era 2000 tambang nikel di Depapre ditolak warga hingga konflik dan sampai sekarang tidak ada lagi eksplorasi maupun hendak dikelola.
Pro dan kontra tambang nikel
Masyarakat adat sejak dulu tak pernah bergantung pada tambang, terutama hasil bumi di darat dan hasil mencari di laut. Apalagi dikenal dengan kearifan lokal untuk menjaga lingkungan hidup dan ekosistem di laut.
Abdul Kahar Bariah, warga Waigama dari Pulau Misool jebolan planolog Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kini tinggal di Bandung mengatakan kalau warga di Waigeo sejak dulu sudah mengenal larangan mencari ikan dan hasil laut lainnya sejak nenek moyang. “ Orang tua kita di Pulau Misool dulu menyebut sasi dengan nama Samson artinya kayu atau tonggak yang dipancang sebagai penanda batas wilayah yang disasi atau dilarang selama waktu tertentu,”kata Bariah melalui pesan washapnya kepada jubi.id belum lama ini.
Dia menambahkan samson atau kearifan lokal ini sejak dulu sudah tertanam baik di darat maupun di laut agar membatasi eksploitasi sumber daya alam dan memberikan kesempatan kepada alam untuk bisa memulihkan lingkungan kembali agar ikan tra pernah habis.
Meski warga mengetahui kalau sasi melindung alam dan lingkungan, toh warga masyarakat di Kampung Kawei justru menolak kunjungan anggota DPRD Provinsi Papua Barat Daya dan mendukung ekplorasi di Pulau Kawei.
Terlepas dari pro dan kontra sebenar masyarakat adat sejak dulu di Kabupaten Raja Ampat tak pernah hidup dari tambang. “Ikan ikan di sana begitu jinak dan gampang kitorang hanya memilih ikan tanpa sulit mencari. Semua tersedia di alam,”kata Maurits Arempeley warga Pulau Kawei yang menyelesaikan sarjana Jurusan Hubungan Internasional FISIP di Universitas Pasundan Bandung kepada jubi.id beberapa waktu lalu.
Dia menambahkan sebagai salah seorang mantan atlet panjat tebing di Bandung, pulau-pulau di Raja Ampat juga sangat baik dan punya kesulitan tinggi bagi para atlet panjat tebing. Kini tambang nikel telah hadir sejak masih bernama Pasifik Nikel sampai sekarang milik Antam semuanya telah dieksploitasi.
Sekadar mengingatkan Pulau Nauru di Pasifik yang dulu kaya tambang fosfat dan kini kekayaan itu habis dan pemerintah di sana miskin akibat korupsi dan boros.
Ternyata ketika pohon terakhir ditebang. Ketika sungai terakhir dikosongkan dan ketika ikan terakhir ditangkap. Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.” Begitulah pesan suku Indian Cree, mereka adalah kelompok Pribumi yang besar di Amerika Utara,terutama di Kanada. (*)




















Discussion about this post