Jayapura, Jubi – Dewan Gereja Papua dan pusat studi Hak Asasi Manusia atau HAM Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Jayapura, Papua atau STTWP menggelar webinar tambang Nikel Raja Ampat dari perspektif teologi, ekologi, ekonomi politik dan sosial budaya.
Webinar itu dilakukan secara daring melalui YouTube STT Walter Post, Jumat (11/07/2025).
Seminar ini bertujuan menguatkan kemampuan kritis umat dan masyarakat terhadap program-program pembangunan, yang bukan hanya bermanfaat bagi manusia, juga terhadap semesta, tumbuhan, hewan dan spiritual masyarakat adat di Tanah Papua.
Seminar ini juga diharapkan dapat memperkaya perspektif umat, masyarakat, dan para pengambil kebijakan dalam memutuskan pemanfaatan wilayah.
Moderator Dewan Gereja Pdt. Benny Giay mengatakan, pemahaman orang Papua tidak bisa terlepas dari lingkungan sosial, ekonomi, laut, danau hutan.
Namun program-program dari pemerintah membuat orang Papua kehilangan arah, karena relasi masyarakat adat di Papua dengan lingkungan alam bergeser.
“Kurang lebih selama 60 tahun ini kami merasa di obok-obok atau dihancurkan dengan segala macam cara melalui pembangunan politik, pembangunan bias negara,” kata Pdt. Benny Giay.
Katanya, bukan hanya masyarakat adat di Raja Ampat yang mengalami perubahan sosial dan budaya, juga masyarakat adat di beberapa daerah di Papua. Salah satunya masyarakat adat di Papua Selatan, yang menjadi korban dari proyek pembangunan negara.
“Jadi saya tegaskan ketika kita bicara saudara-saudara kita dari Raja Ampat, saya harap kita bahas secara struktural, secara budaya dan sosial kami orang Papua, dan kegelisahan saudara-saudara kita di sana. Semua yang bersuara hari ini, mewakili ratapan orang-orang Papua yang [menjadi] korban program negara di daerah lain,” ucapnya.
Aktivis Raja Ampat, Paulina Awom, menceritakan kehadiran tambang nikel di Raja Ampat yang membawa perubahan besar bagi kehidupan sosial budaya masyarakat.
Menurutnya, sebelum ada tambang masyarakat hidup harmonis dengan alam, dan mengandalkan hasil alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Namun setelah adanya tambang nikel, terjadi pergeseran nilai budaya. Muncul konflik sosial yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan serta sistem mata pencaharian masyarakat.
“Masyarakat memiliki struktur sosial yang kuat dengan nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi. Setelah ada tambang, kebiasaan itu hilang dengan adanya konflik antara masyarakat penerima perusahaan tambang dan yang nolak perusahaan tambang,” kata Paulina Awom.
Katanya, kini masyarakat adat Raja Ampat saling bermusuhan satu sama lain. Ada kelompok masyarakat yang menerima kehadiran perusahaan dan ada yang menolak.
“Sekarang banyak terjadi konflik antara masyarakat di Kampung kami ada sebagian masyarakat yang sudah berdamai ada juga tidak hingga saat ini,” ucapnya. (*)





















Discussion about this post