Jayapura, Jubi – Direktur Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Desa (YPMD) Papua, Yan Hambur mengatakan ‘Paitua’ Bill Rettob mantan pemimpin redaksi Tifa Irian milik Yayasan Pers Katolik di Irian Jaya, merupakan wartawan senior yang melahirkan banyak wartawan di Tanah Papua.
”Saya bekerja dengan Pak Bill Retob sejak 1980 an di Kantor Redaksi Tifa Irian bersama Wolas Krenak, Chris Ansaka, Matias Refra dan Carl Lukas Degey,” kata Yan Hambur kepada Jubi di ruang kerjanya, Senin (15/6/2026)
Menurut Yan Hambur, Bill Rettob juga pernah menjadi koresponden daerah untuk Harian Pagi Kompas di Jakarta.
“Beliau pernah meraih penghargaan sebagai koresponden Kompas terbaik dari daerah di seluruh Indonesia waktu itu,” ucap Hambur yang pernah menjadi koresponden The Jakarta Post di Jayapura.
Hal senada juga dikatakan Wolas Krenak, mantan wartawan Tifa Irian dan Suara Pembaruan di Jakarta. Katanya Bill Rettob ketekunan dan kerajinan dalam membimbing para wartawan muda kala itu.
“Suatu hari di Kantor Redaksi Tifa Irian, Pak Bill Rettob bilang, Wolas saya mau lihat kau mewawancarai Presiden Indonesia. Rupanya benar, bahwa pesan dari beliau terwujud,” kata Krenak.
“Saya bertugas di Istana Kepresidenan dan mewawancari Presiden Gus Dur, Presiden Megawati sampai dengan Presiden SBY selama masih bertugas di Redaksi Harian Sore Suara Pembaruan di Jakarta,” ucap mantan anggota MRP Papua Barat.
Bill Rettob menyelesaikan Pendidikan di Sekolah Menengah (SMA) Gabungan Dok V di Kota Jayapura, Papua. Rekan-rekan seangkatannya, di antaranya Dr. JR Mansoben, Ir. Henock Mackbon dan jurnalis Burhan yang pernah di studi Sosiologi Universitas Leiden.
“Ya saya memang teman sekolah dengan Bill Rettob dan juga Burhan saat di SMA Gabungan serta sama sama dengan Burhan melanjutkan kuliah di Universitas Leiden Negeri Belanda,” kata Mansoben kala itu.
Sementara itu jurnalis senior Papua, Nunung Kusmiati saat menerima Penghargaan Apresiasi Noken Pers Papua dari Asosiasi Wartawan Papua (AWP) dalam Festival Media se-Papua Raya di Nabire, mengaku penghargaan yang diterima didedikasikan kepada jurnalis senior, Bill Rettob.
Mengutip seputarpapua.com, Nunung menuturkan pertama kali ke Papua pada 1990-1991, saat mengikuti Pertukaran Pemuda Antar Provinsi Irian Jaya – Jawa Barat.
“Karena basicnya penulis freelence, ia ditempatkan di SKM Tifa Irian yang saat itu pemimpin redaksinya adalah Bill Rettob,” kata mantan jurnalis Pikiran Rakyat di Bandung itu.
Ia mengatakan, Bill Rettob merupakan jurnalis senior yang banyak melahirkan jurnalis di Papua seperti Wolas Krenak, Alm. Lukas Degei, Alm. Pater Neles Tebay, Alm. Frans Tekege, Alm. Anton Kelanangame, Kris Ansaka, Albert Yogi, Markus Youw, Marcel Douw dan yang lainnya.
Bill Rettob menekuni dunia jurnalis sejak 1975, setelah lulus dari Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta. Ia kemudian dipercayakan mengelola Tifa Irian yang sebelumnya bernama De Tif, milik Yayasan Pers Katolik, selanjutnya Bernama Tifa Irian.
Putra kelahiran Kokonao, Mimika 78 tahun ini mengelola Tifa Irian dari 1975 hingga 1998 dan sempat menjadi reporter BBC untuk Papua.
Tak lama berselang bersama Zadrak Wamebu mendirikan Tabloid Jubi, sekitar era 2000-an. Bukan hanya Tabloid Jubi saja, Bill Rettob juga ikut mendirikan Harian Fajar Papua di Sorong, sejak itulah ia terkena stroke.
Akibat sakit stroke yang dideritanya, Bill Rettob kembali ke Jayapura dan tinggal bersama istrinya hingga sekarang.
Bupati Kabupaten Mimika, Papua Tengah, John Rettob mengatakan bahwa Bill Rettob merupakan kakak ke empat dari 11 bersaudara.
“Kami bersaudara 11 orang dan kaka Biil anak ke empat dari pasangan Bapak Caspar Rettob dan Ibu Fransina Kebubun,” kata John Rettob mantan penulis Bulletin Pandora SMA Gabungan di era 1980 an.
Ayah dari Bill Rettob bernama Caspar Rettob, pertama kali datang ke Bumi Mimika sebagai seorang guru perintis dan misionaris Katolik yang berasal dari Kepulauan Kei, Maluku.
Pada 1939, saat berusia muda 19 tahun, Caspar memutuskan untuk merantau ke Mimika guna menyusul ayahnya (kakek John Rettob yang bernama Cristian Rettob) demi mengabdikan diri dalam dunia pendidikan, pengajaran agama, serta pemberdayaan masyarakat lokal di wilayah pesisir Mimika.
Ayah kandung dari John Rettob dan Bill Rettob ini juga dikenal sebagai sosok yang menggabungkan tiga wilayah (Ipiri, Paripi, dan Yaraya) menjadi nama Ipaya untuk memudahkan akses sekolah bagi anak-anak setempat. (*)
























Discussion about this post