Jayapura, Jubi — Perdana Menteri (PM) Fiji, Sitiveni Rabuka mendesak para jurnalis untuk memeriksa dan memverifikasi informasi sebelum disebarluaskan kepada publik.
Ia memperingatkan meningkatnya kecerdasan buatan, konten sintetis, dan manipulasi digital telah menambah tantangan yang dihadapi para jurnalis.
Berbicara pada pembukaan KTT Media Pasifik ke-8 di Savusavu, Rabu (23/9/2026), ia mengatakan bahwa berita utama dapat menjangkau ribuan orang sebelum fakta-fakta diperiksa dan diverifikasi dengan benar.
Ia menambahkan, klaim palsu dapat menyebar sebelum informasi yang akurat sampai ke publik.
“Inilah mengapa standar profesional menjadi lebih penting dari sebelumnya,” katanya, sebagaimana dilansir Jubi dari laman http://www.fijitimes.com.fj, Kamis (24/9/2026).
Dia mengatakan seruannya untuk berhati-hati bukanlah seruan agar para jurnalis tetap diam.
“Ini bukan seruan untuk diam. Ini adalah seruan untuk jurnalisme yang bertanggung jawab.”
Ia menyerukan kehati-hatian yang lebih besar, terutama ketika melaporkan isu-isu yang dapat memicu ketegangan sosial atau berkontribusi pada konflik, khususnya karena informasi menyebar dengan cepat secara daring.
“Informasi dapat menyebar ke seluruh dunia dalam hitungan detik atau sepersekian detik,” katanya.
Ia mengatakan inovasi digital seharusnya memperkuat pemahaman publik dan kerja sama regional, bukan menjadi alat untuk misinformasi, disinformasi, atau sensasionalisme yang memecah belah masyarakat.
Rabuka juga menyerukan peningkatan literasi media, dengan mengatakan warga negara perlu mempertanyakan apa yang mereka lihat dan dengar, sementara jurnalis perlu memverifikasi informasi.
Dia mengatakan, ruang redaksi juga perlu beradaptasi dengan teknologi yang berkembang sambil tetap menjaga standar profesional.
“Kebebasan juga datang bersama tanggung jawab,” katanya.
Ia mengatakan media yang bebas, independen, dan profesional tetap penting bagi demokrasi yang sehat. (*)























Discussion about this post