Manokwari, Jubi – Yanto Idorway, presenter di stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) Papua Barat adalah tulang punggung keluarga, bagi ibu dan ketiga saudaranya yang tinggal di Maluku Utara.
Setelah menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Yanto Idorway merantau ke Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat mengikuti temanya dari Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Melanjutan pendidian Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Senja Kaimana hingga tamat.
Pria berdarah Papua-Talaud itu mendapat tempat sebagai presenter di TVRI di Manokwari. Yanto Idorway juga kerap melakukan perjalanan wisata ke beberapa spot wisata di Papua Barat dan Papua Barat Daya, hingga kabar dia terpeleset tersiar hingga ke telinga ibunya, Ratna Tuwing Idorway (59 tahun).
“Saya dapat kabar Kaka dia terpeleset pada Sabtu hari kejadian, tetapi waktu itu saya di tempat kerja jauh dari rumah, hingga pukul 2.00 WIT sepulang kerja saya ke rumah baru sampaikan ke Ibu,” kata Nina, adik perempuan Yanto Idorway yang menemani ibunya ke Manokwari, Kamis (30/7/2026).
Nina mengaku, akanya tak pernah mengeluh saat keluarga meminta uang untuk kebutuhan hidup bersama ibunya di Kabupaten Halmahera Utara.
“Kaka kalau dia alami masalah atau sakit di Manokwari dia selalu telepon saya, tapi pesan dia jangan kasih tahu mama,” ucapnya.
Nina dan ibunya, Ratna tiba di Manokwari Selasa (28/7/2026). Setelah melalui proses transit dari Halmahera Utara hingga ke Gebe, dan Sorong Papua Barat Daya.
Ratna Tuwing Idorway, sesekali mengusap air matanya mengenang anak yang menjadi tulang punggung keluarga.
“Pernah dia meminta agar membangun rumah sederhana buat saya. Tetapi saya bilang tidak masalah mama tinggal di gubuk asalkan anak-anak tetap sehat,” kata Ratna.
Dia mengisahkan kebaikan putranya yang tak mau mendengar orang tua dan adik-adiknya mengeluh.
“Kaka itu paling tidak suka dengar saya atau adik-adiknya mengeluh, kalau bisa dia berikan akan dia usahakan jika di minta,” kata Ratna Tuwing.
Tim dokter forensik, dr Jimmi V.J Sembay S.pf usai melakukan autopsi mengatakan, kondisi jenazah Yanto Idorway memang dalam proses pembusukan setelah beberapa hari di dalam air. Karenanya saat pemeriksaan autopsi tim melakukan pemeriksaan luar dan di bagian dalam.
Katanya, ada pemeriksaan lanjutan, pemeriksaan laboratorium yang memerlukan waktu sehingga hasil autopsi tetap digunakan untuk analisa.
“Kita menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk di satukan, dianalisa dan kemudian keluar hasilnya, dalam bentuk kesimpulan,” kata dr Jimmi usai autopsi.
Menurutnya, ada bagian yang dicurigai sebagai luka dan harus diperiksa untuk memastikan apakah ini terjadi setelah Yanto Idorway sudah meninggal atau sebelum meninggal.
“Juga paru-paru juga apakah didalam paru-parunya ada air atau tidak, harapan bisa membantu penyidikan,” ujarnya.
Kasat Reskrim Polres Pegunungan Arfak, Iptu Dwi mengatakan hasil autopsi sangat penting bagi proses penyelidikan karena merupakan alat bukti.
“Proses autopsi sangat penting bagi kami karena merupakan suatu alat bukti untuk menentukan proses penyelidikan ini berjalan dengan baik,” kata Iptu Dwi.
Dwi memastikan proses ini berjalan transparan dan tak ada yang ditutupi setiap perkembangan akan disampaikan.
“Saksi yang diperiksa yaitu [dua orang yang] bersama korban dan saksi yang melihat korban mereka masuk ke air terjun, juga sudah termasuk kepala Kampung Sisrang,” ujarnya.
Katanya, barang bukti yang diamankan di Polres Pegunungan Arfak yakni telepon genggam, jaket, syal, sendal serta kendaraan yang digunakan.
Yan Cristian Warinussy, kuasa hukum keluarga Yanto Idorway memastikan telah membuat laporan polisi sebagai pendahuluan dan terus mengawal proses hukum.
“Kami juga akan mengembangkan tim kuasa hukum untuk saling berkoordinasi mengawal,” kata Warinussy.
Kepala Bidang Humas Polda Papua Barat, Kombes Pol Trihadi Kuncahyo mengatakan memastikan proses autopsi terhadap jenazah Yanto Idorway dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan hukum serta standar operasional yang berlaku.
Autopsi dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Papua Barat, Kamis (30/7/2026). Ini adalah bagian dari upaya penyelidikan mengungkap penyebab pasti meninggalnya almarhum.
“Proses autopsi dilaksanakan oleh tim dokter forensik dengan melibatkan penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Papua Barat,” kata Trihadi Kuncahyo.
Kabid Humas mengatakan, hasil autopsi tidak dapat disimpulkan secara langsung setelah pemeriksaan selesai. Tim dokter forensik masih akan melakukan analisis dan pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel yang telah diambil sebelum menyusun laporan resmi hasil autopsi.
Polda Papua Barat juga mengimbau seluruh masyarakat untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan dengan tidak menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Masyarakat diharapkan menunggu penyampaian resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan penanganan perkara tersebut,” ujarnya.
Polda Papua Barat mengapresiasi kepada keluarga almarhum yang telah memberikan dukungan terhadap proses autopsi sebagai bagian dari upaya penegakan hukum.
Kepolisian berkomitmen memberikan informasi perkembangan penyelidikan secara proporsional kepada publik tanpa mengganggu proses hukum yang sedang berlangsung.
Yanto Idorway dilaporkan jatuh saat hendak menyeberangi aliran sungai di kawasan air terjun Memti di Kampung Sisrang, Distrik Anggi Gida, Kabupaten Pegunungan Arfak, Provinsi Papua Barat, saat berwisata bersama dua temannya, Sabtu (18/7/2026) sekira pukul 14.00 WP.
Korban diduga terpeleset sebelum terseret arus sungai. Kedua rekannya sempat melakukan upaya pencarian secara mandiri, namun tidak berhasil menemukan korban. Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan Manokwari.
Setelah melakukan pencarian selama tujuh hari tanpa hasil, Basarnas mengumumkan penghentian pencarian secara resmi pada Jumat (24/7/2026).
Pihak keluarga kemudian melakukan pencarian mandiri dibantu warga, tim gabungan Basarnas, TNI dan personel Polres Pegunungan Arfak.
Dalam pencarian mandiri itu, jenazah korban ditemukan terjepit di celah bebatuan sekira 10 meter dari tempat korban diduga jatuh, Senin (27/6/2026).
Jenazah Yanto Idorway kini diserahkan ke pihak keluarga. Disemayamkan di rumah duka di Sowi 3, Kelurahan Sowi, Distrik Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat. Rencana pemakaan akan dilaksanakan Jumat (31/7/2026) pukul 14.00 WP. (*)



















Discussion about this post