Jayapura, Jubi – Beberapa mama-mama Papua yang menjual noken saat Festival Colo Sagu di Kota Jayapura, Papua mengaku tidak mendapatkan keuntungan sama sekali.
Mereka bahkan menyatakan mengalami kerugian selama festival berlangsung sejak 26 Juni 2025 hingga 28 Juni 2025.
Mama Noper Gobay, salah satu yang berjualan noken dalam Festival Colo Sagu mengatakan, jangan mendapat keuntungan, tak ada satu pun pengunjung yang sekadar datang untuk melihat atau menanyakan jualannya.
“Semua pengunjung lebih milih ke dalam, di pusat festival [di bagian] dalam. Kalau mama di sini sepi pengunjung. Tidak dapat keuntungan anak, dari hari pertama sampai sekarang. Mama rugi bayar ongkos taksi pulang pergi Kota Raja-Jembatan Merah, selama tiga hari ini,” kata Mama Gobay, Sabtu (28/06/2025).
Menurutnya, ia dan dua orang rekannya berjualan di luar area festival, sebab tidak mendapat tempat dalam kawasan kegiatan. Situasi di luar area festival pun tidak menguntungkan bagi Mama Gobay dan rekannya. Sebab, lokasi mereka minim penerangan, dan daya tarik pengunjung terhadap noken minim.
“Tapi tidak apa-apa anak. Mungkin mama dong belum punya berkat hari ini. Hari ini orang lain punya [berkat]. Nanti dikemudian hari, mama punya berkat lagi,” ucap mama lima orang anak itu sambil tersenyum.
Mama Papua lainnya, Lina Pekey mengatakan hal yang sama. Menurutnya pengunjung lebih milih masuk ke dalam area festival.
“Tempat [di dalam area festival] tidak cukup. Jadi panitia suruh [kami] di luar sini saja. Hanya satu teman kami yang dapat tempat jualan di dalam. [Di sini] gelap, tetapi mama pakai senter handphone. Pengunjung datang langsung masuk ke dalam, mungkin lebih tertarik di stan-stan lain yang ada di dalam,” ujar Mama Pekey.
Katanya, selama tiga hari pelaksanaan festival, ia mesti mengeluarkan biaya transportasi Rp150 ribu setiap hari. Namun Mama Pekey yang terkadang berjualan noken di kawasan Lingkaran Abepura, atau di depan Bank Papua Kota Jayapura, mengaku tidak mendapat keuntungan sama sekali.
“Biar kami meramaikan festival saja sudah. Trada (tidak) ada pembeli jadi. Tempat kami berjualan juga gelap, jadi orang tra (tidak) lihat atau memang orang trada niat beli noken,” ucapnya.
Sementara itu, mama Papua yang lain, Rini Pakage juga mengakui harus membayar ongkos taksi (angkutan umum) yang ia pakai pergi dan pulang ke lokasi festival untuk berjualan Rp200 ribu setiap hari. Namun ia tidak mendapat keuntungan sama sekali.
“Jangan dapat keuntungan, orang yang [datang] tanya-tanya atau sekadar berkunjung ke tempat kami saja tidak ada, dari hari pertama sampai terakhir ini. Tapi tidak apa-apa, yang penting [kami] sudah berusaha. Orang banyak yang datang dari pertama sampai sekarang, hanya saja begitu sudah, tidak ada yang beli,” kata Mama Rini Pakage.
Noken yang dijual ketiga mama Papua itu mulai Rp50 ribu untuk ukuran kecil, ukuran sedang Rp100 ribu, ukuran besar Rp500 ribu sampai Rp1 juta, dan pakaian noken Rp3 juta. (*)























Discussion about this post