• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Tanah Papua

Pagar kehidupan Baliem yang telah roboh

December 5, 2023
in Tanah Papua, Opini
Reading Time: 5 mins read
0
Penulis: - Editor:
mama-mama pasar, Perempuan

Foto ilustrasi, para Mama-mama Papua yang berjualan di Pasar Potikelek, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Tengah. - Jubi/Imma Pelle

0
SHARES
168
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Oleh: Kilitus M. Wetipo*

“Yaaa yawu wanuem e, Wamena lago wago weak o hali usuem e Agamua lago wago weak o, yeleli nele motok welagatek hawur en o ao, halugure nele motok welagatek hawur en o wae, yawu wanuem e agamua lago wago weak o, hali usuem e Agamua lago wago weak o, yeleli nele motok welagatek hawur en o ao, halugure nele motok welagatek hawur en ao”.

Lirik lagu dalam bahasa Baliem di atas dipopulerkan oleh Pikalu, sebuah grup musik yang tidak asing lagi di telinga kalangan masyarakat akar rumput di Baliem (Opa. 2021. Youtube. Baliem Studio. Pikalu Group 10 Lagu Pilihan Terbaik). Terdapat sepuluh lagu Pikalu grup, yang masing-masing lagunya menggambarkan kehidupan orang Baliem yang sudah terbawa arus globalisasi dan tidak lagi hidup sesuai dengan norma-norma budaya.

Ketika lagu mereka dikeluarkan untuk pertama kalinya, orang Baliem merasa tersindir, karena hampir semua pesan yang disampaikan dalam lagu-lagu tersebut berdasarkan peristiwa nyata yang sedang dialami oleh orang Baliem saat ini.

Salah satu lagu dengan pesannya yang kuat adalah “Yawu Wanuem”. Lagu ini mengisahkan tentang kehidupan orang Baliem di zaman modern dan menyindir orang Baliem yang sudah tidak mau lagi berkebun, mencari kayu bakar, dan memelihara ternak, tetapi lebih banyak menghabiskan waktu di Kota Wamena dengan hal-hal yang tidak produktif, seperti mengkonsumsi miras, bermain togel, ikut acara malam, hingga melakukan praktik seks bebas.

Aktivitas tersebut justru dilakukan oleh kaum laki-laki yang mengemban tugas dan peran sebagai kepala keluarga. Alhasil, tanggung jawab rumah tangga seperti mengurus anak, kerja di kebun, mencari kayu bakar, mengambil air di sungai, hingga mencari nafkah diserahkan sepenuhnya kepada kaum perempuan dan anak-anak.

BERITATERKAIT

Our Voices Count! Komunitas Global Selatan tuntut pertanggungjawaban IMF-WB

Perempuan PNG mendorong perubahan

Perempuan Pasifik serukan suara mereka lebih besar dalam pembicaraan iklim

Pembinaan perempuan bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga

Ironisnya, pola kehidupan seperti ini terus berkembang. Laki-laki Baliem sebagai kepala rumah tangga sering menganggap dirinya lebih berkuasa dibandingkan dengan perempuan dan bertindak sesuka hatinya.

Perempuan Baliem 

Salah satu dokumentasi penting tentang situasi kekinian orang Baliem ditulis oleh Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, Uskup Jayapura orang asli Papua, dalam disertasi doktoralnya “Model Laki-Laki Baru Masyarakat Hubula Suku Dani, Profeminis dan Egalitarian, Perspektif Gender Masyarakat Hubula Suku Dani Era Modern di Lembah Baliem Wamena Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua (2019)”. Menurutnya, ada tiga permasalahan yang sekaligus menjadi bentuk kekerasan langsung maupun tidak langsung, yang dialami oleh perempuan di Lembah Baliem.

Pertama, adanya beban kerja berlapis perempuan di kebun. Curahan waktu dan energi perempuan di kebun justru semakin meningkat, karena laki-laki lebih sering menghabiskan waktu di kota tanpa tujuan yang jelas. Bahkan sudah banyak laki-laki yang malas untuk berkebun. Perempuan pun terpaksa mengelola kebun secara mandiri, padahal sejak dulu kerja di kebun merupakan tugas utama laki-laki.

Kedua, kurang didengarnya pendapat perempuan ketika mereka bersuara atau menyampaikan pendapatnya. Dalam banyak kasus, para suami langsung main pukul ketika dia merasa tersinggung. Situasi patriarki dan subordinasi terhadap perempuan terus melanggengkan situasi kekerasan tersebut dan mematikan suara-suara perempuan Baliem.

Ketiga, dengan beban kerja berlapis karena minimnya tanggung jawab suami, membuat perempuan memiliki ketakutan memiliki anak yang banyak. Perempuan/isteri sering mengeluhkan perilaku suami yang tidak bekerja, tetapi selalu meminta disediakan makan dan berhubungan seks, bahkan ketika para istri sedang lelah karena beban yang banyak. Jika keinginan suami tidak dipenuhi, maka mereka akan main pukul tanpa merasa malu bahwa dia tidak bertanggung jawab pada keluarga.

Tiga persoalan inilah yang menjadi akar persoalan kekerasan terhadap perempuan di Baliem. Sebagai laki-laki Baliem, saya bertanya kepada diri saya sendiri, bagaimana kehidupan orang Baliem dulu dan sekarang? Apakah kehidupan orang Baliem dulu memberikan tanggung jawab rumah tangga sepenuh nya kepada perempuan? Apakah dulu mereka juga melakukan kekerasan terhadap perempuan karena miras? Seperti apa laki-laki Baliem yang sejati?

Saya mencoba menelusuri perubahan tersebut, dengan mengingat kembali cerita dan pengalaman orang-orang tua, saat duduk di pilamo (rumah adat Wamena).

Wen, wam, wene dan wim 

Dalam kehidupan orang Baliem, ada empat filosofi hidup yang dipegang dan dijalankan oleh perempuan dan laki-laki Baliem, yaitu wen, wam, wene dan wim.

Filosofi pertama adalah wen (berkebun/bertani), salah satu mata pencaharian masyarakat Baliem sejak dulu. Setiap laki-laki dewasa Baliem bekerja untuk membuka lahan, mencangkul, membuat ika (parit kebun), yupan (parit besar) dan wen eken (parit kecil). Setelahnya, perempuan akan menanam ai (bibit ubi), hom (keladi), dan sayur-sayuran.

Mereka akan merawat hingga memanen tanaman tersebut. Pembagian kerja gender diantaranya juga jelas terlihat.

Filosofi kedua adalah wam (babi) sebagai harta kekayaan orang Baliem. Setelah wen, maka hasilnya akan digunakan untuk kebutuhan manusia, sedangkan memelihara wam ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pesta-pesta adat.

Ketiga, wene artinya membuat acara-acara adat. Jadi, setelah wen dan wam, maka hasil dari keduanya akan digunakan untuk membuat wene atau acara-acara adat, seperti pernikahan adat, pesta mawe, ap waya, duka dan acara-acara adat lainnya yang berkaitan.

Keempat, wim artinya perang. Wim menjadi bagian terpenting dalam kehidupan orang Baliem, untuk mempertahankan eksistensi sukunya. Tetapi dengan kehadiran negara dan gereja, maka wim sudah tidak dipraktikkan lagi meskipun perang suku sering bergejolak.

Pola kehidupan yang terefleksi dalam keempat filosofi inilah yang diwariskan oleh nenek moyang orang Baliem, bukan miras, togel, judi ataupun seks bebas. Untuk menjalankannya, maka laki-laki dan perempuan sudah seharusnya bekerja sama. Ketika laki-laki sudah selesai membuat kebun, maka perempuan akan menanam hingga memanen. Ketika perempuan memelihara babi, maka sudah menjadi tugas laki-laki untuk mencari kayu bakar guna memasak makanannya.

Kehidupan orang Baliem sejatinya telah disampaikan oleh Almarhum Pastor Frans Lieshout, OFM, misionaris asal Belanda dalam catatan refleksi berjudul “Kebudayaan Suku Hubula Lembah-Baliem (2019)”. Menurutnya, kehidupan orang Baliem sangat mengesankan, namun sebagian nilai dan praktiknya sudah terkikis akibat pengaruh globalisasi.

Selain catatan tersebut, pada 1991 Pater Antropolog Dr. Herman Peters, OFM yang dibantu oleh Pastor awam Bpk. Nico Lokobal mengadakan suatu penelitian di Lembah Baliem dan mereka mencari jawaban atas pertanyaan: “Apakah sebenarnya ‘hidup baik’ dalam pandangan dan penghayatan orang Baliem?

Tulisan ini tidak bermaksud mendiskriminasi bahwa kehidupan orang Baliem dulu lebih baik daripada sekarang. Namun, saya ingin menyampaikan bahwa kehidupan kita sudah tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai budaya baik, yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita. Sebagai laki-laki Baliem, saya merasa bahwa kehidupan kita sudah sangat jauh dari norma-norma budaya atau istilah khas orang Baliem yaitu “leger misalaga” yang berarti pagar kehidupan telah roboh.

Karakteristik kehidupan orang Baliem seperti yang sudah dijelaskan di atas berakar dari nilai kebersamaan, nilai relasi, nilai membagi, nilai kerja, nilai damai/rekonsiliasi seperti yang ditulis oleh Bpk. Yulianus Hisage dalam sebuah buku kecil berjudul “Ketika Baliem Memandang Hidup”.

Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin menegaskan, bahwa ketimpangan peran dan kekerasan terhadap perempuan dalam kehidupan rumah tangga yang disebabkan oleh miras, judi, acara, togel harus segera ditinggalkan. Karena bukan itu sejatinya karakteristik kehidupan orang Baliem. Maka sudah saatnya kita berubah dan melestarikan nilai-nilai budaya yang baik dengan saling bekerja sama, saling menghargai, saling menghormati sebagai laki-laki dan perempuan Baliem sejati. (*)

* Penulis adalah anggota komunitas SWARA Akar Papua (SWAP) dari Koalisi Kampus Untuk Demokrasi Papua, dan mahasiswa Prodi Hubungan Internasional, Universitas Cenderawasih (Uncen). Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye “16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (HAKTP)” di Tanah Papua

Tags: 16 Hari Anti Kekerasan terhadap PerempuanLembah BaliemPeredaran Minuman Beralkoholperempuan
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Ilustrasi Our Voices Count! - ourvoicescount.org

Our Voices Count! Komunitas Global Selatan tuntut pertanggungjawaban IMF-WB

October 21, 2026
Perempuan PNG

Perempuan PNG mendorong perubahan

October 21, 2026

Perempuan Pasifik serukan suara mereka lebih besar dalam pembicaraan iklim

October 6, 2026

Pembinaan perempuan bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga

September 21, 2026

Angela Flassy: Jurnalis perempuan Papua raih SK Trimurti Award 2026

August 9, 2026

Fiji perlu perbanyak anggota perempuan di Parlemen

August 9, 2026
Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara
23 October 2026
Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara

Jayapura, Jubi – The Papua Justice and Human Integrity Foundation (YKKMP) has reported alleged military sweeps, intimidation, interrogations and physical [...]

Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land
23 October 2026
Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land

Jayapura, Jubi – The Ateta clan, an Indigenous customary law community of the Sumuri people in Teluk Bintuni Regency, West [...]

Klagilit clan demands accountability from coal mining companies
22 October 2026
Klagilit clan demands accountability from coal mining companies

Sorong, Jubi – The Indigenous Moi community’s Klagilit clan has called on PT Megapura Prima Industri (MPI) and PT Gelora [...]

Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  
22 October 2026
Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  

Jayapura, Jubi – Indonesian children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua has won the Global Peace and Friendship [...]

Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe
21 October 2026
Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe

Jayapura, Jubi – The documentary Pesta Babi (Pig Feast) – Colonialism in Our Time was screened 17 times across several [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Tambang emas Makimi

Berebut emas di Makimi, masyarakat adat dapat apa?

October 23, 2026
Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

Dinkes Papua Tengah upayakan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

October 23, 2026
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

October 23, 2026
Undang-undang Media Sosial Fiji

PM Fiji mempertimbangkan adanya undang-undang media sosial

October 23, 2026
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia memperdalam kemakmuran melalui kerja sama ekonomi

October 23, 2026
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

October 23, 2026
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

October 23, 2026
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

October 23, 2026
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

October 23, 2026
Pengembangan pertanian dan perikanan di Mamberamo Raya

Pemkab Mamberamo Raya jajaki kerja sama pengembangan pertanian dan perikanan

October 23, 2026
Pemkab siapkan lokasi bagi siswa SD Inpres Doyo

Pemkab siapkan lokasi belajar sementara bagi siswa SD Inpres Doyo Baru

October 22, 2026
Pemkab Jayapura lengkapi dokumen kerja

Pemkab Jayapura lengkapi dokumen kerja sama dengan PT Palma Pertiwi Makmur

October 22, 2026
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

October 23, 2026
Israel bergabung dengan PIF

Israel bergabung dengan PIF sebagai mitra

October 21, 2026
Tambang emas Makimi

Berebut emas di Makimi, masyarakat adat dapat apa?

0
Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

Dinkes Papua Tengah upayakan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

0
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

0
Undang-undang Media Sosial Fiji

PM Fiji mempertimbangkan adanya undang-undang media sosial

0
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia memperdalam kemakmuran melalui kerja sama ekonomi

0
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

0
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : [email protected]

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara