Jayapura, Jubi – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menganugerahkan SK Trimurti Award 2026 kepada jurnalis perempuan Papua, Angela Flassy saat malam resepsi memperingati 32 tahun kelahiran organisasi pers itu dengan tema ‘Bertahan, Bersuara, Berkarya’ di Hall Dewan Pers Jakarta, Jumat malam (7/8/2026).
Dewan juri SK Trimurti Award 2026 terdiri dari Armayanti Sanusi, aktivis perempuan yang kini berkiprah sebagai Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan.
Ia memiliki pengalaman lebih dari satu dekade dalam memperjuangkan
hak asasi perempuan, keadilan gender, demokrasi, serta keadilan sosial dan
lingkungan.
Selain itu, Siti Aminah Tardi, Advokat Hak Asasi Manusia yang kini menjadi Direktur Eksekutif The Indonesian Legal Resource Center (ILRC), dan komisioner Komnas Perempuan periode 2020-2025.
Ada pula Rachmawati dari satuan Tugas Anti Kekerasan Seksual di AJI Indonesia yang berpengalaman lebih dari 10 tahun dalam jurnalisme dan aktivisme media.
Ketiganya sepakat memilih Angela Flassy setelah melewati serangkaian proses
penilaian dan diskusi. Dewan juri mempelajari usulan, memeriksa rekam jejak, penelusuran sepak terjang di jaringan aktivisme, publikasi, dampak terhadap publik, dan keberlanjutan gerakan yang diperjuangkan.
Dewan Juri menilai, Angela Flassy menunjukkan konsistensi dalam menjalankan jurnalisme yang independen, berpihak pada kelompok yang termarjinalkan, serta berkontribusi pada penguatan demokrasi dan hak asasi manusia selama lebih dari 20 tahun berkarya.
Semangat tersebut sejalan dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh SK Trimurti: keberanian menyuarakan kebenaran, keberpihakan kepada rakyat, serta penggunaan jurnalisme sebagai instrumen perjuangan untuk keadilan sosial.
Angela Flassy merupakan jurnalis perempuan Papua, penulis, editor, pendidik literasi media, dan pembuat film dokumenter.
Ia telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk menghadirkan suara-suara yang selama ini berada di pinggiran ruang publik.
Mantan Pemimpin Redaksi Suara Perempuan Papua dan Jubi.id itu, selalu mengangkat isu perempuan Papua di media massa, meski terasa begitu sulit.
Sebab, disaat yang sama isu-isu tentang hak-hak dasar, seperti hak hidup di Papua tempat masyarakat paling dimarjinalkan, didiskriminasi, bahkan direpresi pun terus diabaikan negara.
“Akibatnya, media minim isu perempuan. Bahkan sering dianggap tidak ada,” kata Anggela Flassy saat memberikan pernyataan melalui video pendek di depan peserta acara peringatan ke-32 kelahiran AJI, Jumat malam.
Angela Flassy mengatakan, penghargaan tersebut SK Trimurti Award 2026, adalah milik ribuan aktivis, terutama perempuan di Tanah Papua dan di Indonesia, yang setiap hari memilih berdiri untuk bersuara untuk orang-orang yang paling dimarjinalkan, didiskriminasikan, direpresi dan dianggap minoritas di negara ini.
“Saya belajar banyak dari mereka. Salah satunya, saya belajar bahwa keberanian itu tidak selalu bersuara lantang. Kadang keberaian adalah meilih untuk tidak menyerah dan tekun terus bekerja di jalan ini,” ujar Flassy.
Sejak memulai karier jurnalistik pada 2004, Angela Flassy secara konsisten menjadikan isu perempuan, masyarakat adat, hak asasi manusia, konflik sosial,
budaya, dan kehidupan masyarakat Papua sebagai fokus utama kerja jurnalistiknya.
Keteguhan dan komitmennya terhadap jurnalisme yang berpihak pada kelompok
rentan tercermin ketika ia memimpin Suara Perempuan Papua pada 2010, sebuah
media yang memberikan ruang bagi pengalaman dan perspektif perempuan Papua yang selama ini jarang memperoleh perhatian dalam media arus utama.
Pada 2018, Angela menjadi Pemimpin Redaksi di Jubi.id, media independen yang
dikenal konsisten meliput berbagai persoalan Papua secara kritis dan
memperjuangkan kepentingan publik.
“Di tengah situasi Papua yang sarat konflik, kekerasan, dan pembatasan ruang sipil,
Angela tetap menghadirkan jurnalisme yang mengutamakan keberanian, empati,
serta penghormatan terhadap martabat manusia,” ujar Dewan Juri SK Trimurti
2026, Armayanti Sanusi.
Dewan Juri dari ILRC, Siti Aminah Tardi, mengatakan bahwa Angela Flassy menunjukkan komitmen yang konsisten dalam memperjuangkan kebebasan pers,
hak atas informasi, dan kesetaraan gender melalui kerja jurnalistiknya di Papua
selama lebih dari dua dekade.
Baginya, karya jurnalisme Angela secara konsisten memberikan perhatian pada
pengalaman perempuan Papua, masyarakat adat, kebebasan berekspresi dan kebebasan pers, keadilan lingkungan, serta dampak konflik terhadap warga sipil.
Melalui karya-karyanya, ia menghadirkan perspektif hak asasi manusia yang
menghubungkan pengalaman hidup masyarakat dengan persoalan-persoalan
struktural, seperti ketimpangan pembangunan, diskriminasi, dan kekerasan.
Angela Flassy dinilai salah satu jurnalis Papua yang berhasil mengembangkan praktik human rights journalism dengan integritas, keberanian, dan keberpihakan kepada kelompok marjinal.
“Atas komitmen, konsistensi, profesionalisme, dan kontribusinya dalam memajukan jurnalisme yang berpihak pada keadilan dan kemanusiaan, saya meyakini Angela Flassy sangat layak menerima SK Trimurti Award,” ujar Siti Aminah Tardi.
Sementar itu juri lain, Rachmawati dari satuan Tugas Anti Kekerasan Seksual di AJI Indonesia mengatakan menjadi Angela Flassy itu tidak mudah.
Sebagai perempuan Papua yang berprofesi sebagai jurnalis, penulis, dan pembuat film, ia berada dalam posisi yang rentan terhadap kekerasan di tengah konflik Tanah Papua.
Terlebih, karya-karyanya konsisten menyoroti kehidupan sosial dan budaya Papua yang selama ini jarang tersorot oleh media umum.
Tak berhenti pada dirinya sendiri, Angela Flassy juga aktif melatih kelompok perempuan Lapua untuk membuat konten. Upaya ini melahirkan lebih banyak narasi lokal yang ditulis langsung dari sudut pandang warga Papua.
“Dedikasi dan kerja senyap yang berdampak nyata inilah yang membuat Angela Flassy layak meraih Penghargaan SK Trimurti dari AJI Indonesia,” kata Rachmawati.
Angela Flassy melalui karya jurnalistiknya banyak mengangkat pengalaman perempuan Papua yang mengalami pengungsian, kehilangan ruang hidup, kerusakan lingkungan, serta ancaman terhadap identitas budaya.
Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana jurnalisme dapat menjadi alat advokasi bagi mereka yang suaranya sering diabaikan.
Ia juga memperluas praktik bercerita melalui film dokumenter. Terlibat dalam produksi berbagai film dokumenter bersama Jubi, termasuk Suara Lembah Grime (2023), yang mendokumentasikan kehidupan masyarakat Papua, relasi
mereka dengan tanah adat, serta dinamika sosial yang dihadapi.
Penggunaan media audiovisual ini memperluas jangkauan informasi mengenai Papua sekaligus memperkuat dokumentasi atas pengalaman masyarakat adat dan kelompok rentan,” lanjut Armayanti.
Sebagai penulis, Angela Flassy juga menerbitkan buku Luka Papua: HIV, Otonomi Khusus, dan Perang Suku (2008) yang mengangkat persoalan-persoalan kompleks di Papua melalui pendekatan jurnalistik dan sosial.
Kumpulan cerpennya, Kitorang (2012),
memperlihatkan keberpihakannya pada identitas lokal melalui penggunaan bahasa Melayu Papua dan pengalaman hidup masyarakat Papua dari sudut pandang orang Papua sendiri.
Kontribusi Angela Flassy tidak berhenti pada produksi karya. Ia aktif mengajar penulisan kreatif, jurnalisme, dan literasi media bagi perempuan serta generasi muda Papua.
Melalui pendidikan dan pendampingan, ia membangun regenerasi jurnalis lokal
sekaligus memperluas akses perempuan terhadap ruang produksi pengetahuan dan
informasi.
“Perannya sebagai pendidik memperlihatkan bahwa jurnalisme bukan hanya profesi, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat,” ucapnya. (*)




Discussion about this post