Jayapura, Jubi – Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat atau KNPB, Victor Yeimo menyatakan bahwa Arnold Ap adalah seorang kurator, komposer, sekaligus pengumpul lagu-lagu tradisional Papua. Menurutnya, semangat Arnold Ap adalah semangat dekolonisasi, yaitu melawan kolonialisme dalam hegemoni kekuasaan.
“Melawan kolonialisme harus dengan semangat dekolonisasi. Dekolonisasi itu membangun literasi kita sendiri, membangkitkan kreasi hingga orang Papua membuat lagu-lagu sendiri. Semangat itu yang harus kita bawa: dekolonisasi pikiran, kreasi, dan musik dalam perjuangan kita,” kata Victor Yeimo saat mengenang 41 tahun wafatnya Arnold Ap dalam acara “Melawan Lupa” di Kota Jayapura, Papua, Sabtu (26/4/2025).
Yeimo mencontohkan di Afrika ada tokoh bernama Ngũgĩ wa Thiong’o, penulis dan akademisi Kenya yang terkenal kritis terhadap politik dan masyarakat. Ia melakukan dekolonisasi intelektual melalui buku-buku yang ditulis dalam bahasa lokalnya. Menurut Yeimo, Arnold Ap termasuk sosok yang mendekolonisasi dan membangkitkan identitas kebangsaan Papua.
“Arnold Ap bisa disebut sebagai nasionalis, pembentuk kebangsaan orang Papua. Spiritnya mengajarkan kita untuk kembali membangun literasi kita sendiri, menghargai budaya dan karya orang Papua dari segala sisi,” ujarnya.
Juru Bicara Nasional KNPB itu menambahkan, dekolonisasi harus terjadi di dunia akademik, seni, musik, dan budaya. Orang Papua harus kembali ke budayanya untuk memperkuat identitas kebangsaan sebagai entitas politik perjuangan.
“Kolonialisme telah memperbesar hegemoninya. Kita harus melawan dengan semangat menciptakan budaya, lagu, dan identitas kita sendiri. Kita harus bangga dengan identitas kita dan mempublikasikannya di semua ruang yang ada,” tambahnya.
Victor Yeimo juga menekankan pentingnya membangun semua bidang dalam konteks kebangsaan Papua. Menurutnya, hegemoni budaya kolonial harus dilawan dengan memperkuat budaya lokal, karena budaya membentuk identitas politik dan kebangsaan.
“Pesan untuk anak muda: mari kita bangun bangsa kita sendiri. Arnold Ap dulu menyatukan orang Papua lewat lagu-lagunya meski dengan akses media yang sangat terbatas. Hari ini, media terbuka luas untuk kita gunakan menyatukan Papua,” katanya.
Meskipun kini ada pemekaran provinsi dan berbagai bentuk politik faksional yang memecah belah, Yeimo menegaskan bahwa semangat menjaga satu Papua tetap harus dipertahankan.
“Menjaga satu Papua berarti menghargai semua budaya dan bahasa yang ada, sebagai fondasi kebangsaan Papua,” ujarnya.
Aktivis perempuan, Iche Morib, juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Arnold Ap dan kawan-kawan yang telah meletakkan fondasi perjuangan melalui seni dan budaya.
“Melalui lagu-lagu mereka, lahir keyakinan bahwa suatu hari bangsa Papua akan bebas dan merdeka,” kata Iche.
Ia menjelaskan bahwa dari sudut pandang perempuan, perjuangan Arnold Ap tidak lepas dari keterlibatan perempuan, baik dari keluarga maupun sahabat-sahabatnya, dalam membangun dan memperkuat perjuangan Papua melalui seni dan budaya.
“Ini menjadi inspirasi bagi perempuan Papua yang hingga kini terus berjuang, baik melalui seni, budaya, politik, lingkungan, maupun gerakan masyarakat adat. Di tengah situasi penjajahan dan penindasan, perempuan tidak mundur, melainkan terus berjuang,” ujarnya.
Morib mengatakan, semangat perjuangan perempuan Papua banyak terinspirasi dari semangat yang ditinggalkan Arnold Ap melalui karya-karyanya. Ia berharap ke depan lebih banyak perempuan terlibat aktif dalam perjuangan, baik di organisasi masyarakat sipil, NGO, maupun gerakan politik.
“Semoga perpecahan di antara organisasi tidak mengurangi semangat kita. Kita harus mengingat para pendahulu, menjaga semangat mereka dalam setiap langkah perjuangan pembebasan bangsa. Baik di gereja, LSM, maupun organisasi politik lain,” ujarnya. (*)





















Discussion about this post