• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Rilis Pers

Pembangunan Bandar Antariksa di Biak diduga langgar hak masyarakat adat

June 19, 2026
in Rilis Pers
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Arjuna Pademme
Bandar Antariksa

Masyarakat adat adat Warbon saat melakukan aksi penolakan pembangunan Bandar Antariksa di Kampung Saukobye, Distrik Biak Utara, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua beberapa waktu lalu - Dok. LBH Papua untuk Jubi

0
SHARES
565
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Rencana pemerintah membengun Bandar Antariksa di wilayah adat Warbon, Kampung Saukobye, Distrik Biak Utara, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua diduga melanggar hak masyarakat adat, prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC) dan kewajiban negara dalam perlindungan hak asasi manusia.

Dugaan pelanggaran ini disampaikan Lembaga Bantuan Hukum atau LBH Papua dalam siaran pers tertulis, Jumat (19/6/2026).

LBH Papua menyatakan pemerintah pusat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, tidak boleh melakukan pembangunan di atas tanah adat yang masih dipersengketakan dan tanpa persetujuan masyarakat adat pemilik hak ulayat.

Katanya, pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya telah dijamin secara tegas dan mengikat dalam Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28I ayat (3) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945; Pasal 6 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia; Pasal 43, Pasal 106, dan Pasal 107 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus Papua; serta berbagai instrumen hak asasi manusia internasional, termasuk deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UNDRIP) yang mengakui prinsip Persetujuan Bebas, Didahulukan, dan Terinformasi (Free, Prior and Informed Consent).

“Ketentuan-ketentuan tersebut menegaskan bahwa negara tidak berwenang mengatur, mengalihkan, memanfaatkan, ataupun mengambil wilayah adat dan sumber daya alam yang berada di dalamnya tanpa pengakuan, penghormatan, dan persetujuan dari masyarakat adat pemilik hak yang sah,” kata Direktur LBH Papua, Festus Ngoranmele.

Namun katanya, yang terjadi di lapangan menunjukkan kondisi yang sebaliknya. Sejak rencana pengaktifan kembali lokasi bekas fasilitas Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Distrik Biak Utara menjadi Bandar Antariksa Nasional pada 2025–2026, hak-hak masyarakat adat Warbon justru diabaikan.

Menurutnya, sejak laha 100 hektare dikuasai LAPAN pertama kali pada 1980-an, tidak pernah ada musyawarah adat yang sah, tidak pernah mendapat persetujuan dari masyarakat adat, serta tidak pernah dilakukan ganti rugi yang layak dan adil sesuai ketentuan hukum adat.

BERITATERKAIT

Koalisi desak Lanud Manuhua hentikan penggusuran tanah adat keluarga Marandof

Ratusan CPNS Biak Numfor belum terima SK PNS

Gempar Papua dan Germapa serukan perlindungan hak masyarakat adat

Keberadaan Satgas PKH tak mampu melindungi hak masyarakat adat

“Dokumen pelepasan tanah yang dijadikan dasar penguasaan negara, baru diketahui keberadaannya oleh masyarakat pada 2002. Sejak itu terus terjadi penolakan dan dipersoalkan oleh masyarakat adat pemilik hak ulayat,” ucapnya.

Festus Ngoranmele mengatakan, bukannya menyelesaikan sengketa yang telah berlangsung lebih dari empat dekade tersebut, pemerintah melalui BRIN justru melanjutkan rencana pembangunan Bandar Antariksa Nasional yang menurut informasi dari masyarakat membutuhkan areal kurang lebih 1.000 hektare.

Padahal lahan yang selama ini dikuasai negara melalui fasilitas eks LAPAN hanya sekitar 100 hektare. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius karena kebutuhan perluasan lahan berpotensi mencakup wilayah adat masyarakat Warbon, termasuk tanah adat milik marga Abrauw dan marga Rumander di Kampung Saukobye, Distrik Biak Utara.

LBH Papua menyatakan, perluasan kawasan proyek tersebut tidak hanya menyangkut wilayah daratan, juga berpotensi mencakup kawasan pesisir dan laut yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah adat masyarakat Warbon.

Tanah, pesisir, laut, dan sumber daya alam yang berada di wilayah adat tersebut merupakan ruang hidup yang memiliki nilai historis, sosial, budaya, ekonomi, dan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun serta menjadi sumber penghidupan masyarakat adat.

Seluruh proses sosialisasi, perencanaan, dan persiapan pelaksanaan pembangunan yang dilakukan hingga 2026, dinilai tidak memenuhi standar partisipasi yang bermakna, sebagaimana diwajibkan oleh hukum nasional maupun standar hak asasi manusia internasional.

“Masyarakat adat tidak pernah diberikan kesempatan yang memadai untuk berunding dan mengambil keputusan secara bebas mengenai masa depan wilayah adatnya,” ujarnya.

Proses yang dilakukan sejauh ini diangap lebih bersifat pemberitahuan sepihak daripada musyawarah yang bertujuan mencapai kesepakatan, atau mengabaikan prinsip persetujuan bebas, didahulukan, dan terinformasi (FPIC) telah diabaikan.

LBH Papua menyebut penolakan masyarakat adat Warbon bukanlah tindakan yang muncul tiba-tiba  ataupun bentuk penolakan terhadap pembangunan. Akan tetapi merupakan reaksi karena hak-hak mereka tidak dihormati dan tidak didengar.

Sebelum menyampaikan persoalan ini kepada publik, masyarakat adat bersama Dewan Adat Kainkain Karkara Byak, unsur gereja, perempuan, pemuda, dan pendamping hukum telah menempuh berbagai jalur konstitusional dan kelembagaan yang tersedia.

Namun hingga kini belum ada langkah penyelesaian, maupun perlindungan dari negara. Sebaliknya, persiapan pembangunan terus berjalan seolah tidak terdapat sengketa hak ulayat yang masih berlangsung.

Berdasarkan itu, LBH Papua menilai bahwa rencana pembangunan Bandar Antariksa di wilayah adat Warbon cacat hukum yang mendasar karena bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) dan Pasal 28I ayat (3) UUD 1945, ketentuan Undang-Undang Otonomi Khusus Papua, prinsip bahwa tanah yang sedang disengketakan tidak dapat dijadikan objek keputusan atau pemanfaatan baru, serta prinsip FPIC yang merupakan standar minimum perlindungan hak asasi manusia terhadap masyarakat adat.

Apabila pembangunan tetap dipaksakan tanpa penyelesaian sengketa hak ulayat dan tanpa persetujuan masyarakat adat pemilik hak, hal tersebut berpotensi menimbulkan konflik agraria berkepanjangan.

Berpotensi terjadi penggusuran paksa, hilangnya identitas dan warisan budaya masyarakat adat, serta kerusakan ekosistem pesisir yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

“Pembangunan yang dilaksanakan di atas perampasan hak dan ketidakadilan tidak akan pernah menghasilkan keadilan sosial maupun keberlanjutan.”

LBH Papua menegaskan dan menuntut kepada Presiden Republik Indonesia  agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap rencana pembangunan Bandar Antariksa Biak.

Menempatkan perlindungan hak masyarakat adat Warbon sebagai syarat utama sebelum pembahasan maupun pelaksanaan proyek dilanjutkan.

Kepada Kepala BRIN, agar menghentikan sementara dan menggugurkan seluruh tahapan kegiatan fisik, pengukuran, persiapan lahan, maupun kontrak yang berkaitan dengan lokasi tersebut sampai sengketa hak ulayat diselesaikan secara tuntas dan diperoleh persetujuan bebas, didahulukan, dan terinformasi dari masyarakat adat Warbon.

Gubernur Papua dan Bupati Biak Numfor agar melaksanakan kewajiban konstitusional dan amanat Otonomi Khusus Papua untuk melindungi hak-hak masyarakat adat, serta menolak setiap kebijakan atau proyek yang berpotensi merampas hak ulayat masyarakat adat.

Majelis Rakyat Papua segera melakukan verifikasi lapangan, memanggil para pihak terkait, dan mengeluarkan rekomendasi perlindungan hak Orang Asli Papua sesuai kewenangannya.

Komnas HAM RI diminta segera melakukan pemantauan dan penyelidikan atas dugaan pelanggaran HAM yang terjadi serta menerbitkan rekomendasi yang wajib diperhatikan oleh seluruh instansi negara terkait.

Ombudsman RI diminta memeriksa dugaan maladministrasi dalam proses perencanaan dan pelaksanaan proyek, termasuk pengabaian sengketa tanah adat, tidak adanya partisipasi bermakna, dan dugaan pelanggaran prosedur hukum yang berlaku.

Pemerintah Pusat diingatkan bahwa prinsip FPIC bukan sekadar formalitas atau konsultasi administratif, melainkan syarat sah yang harus dipenuhi sebelum pembangunan dilaksanakan di wilayah masyarakat adat.

Selama prinsip tersebut diabaikan, maka segala izin, keputusan, dan tindakan yang diambil berpotensi mengandung cacat hukum yang serius. (*)

Tags: bandar antariksahak masyarakat adatKabupaten Biak NumforMasyarakat Adat Warbon
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

penggusuran tanah adat

Koalisi desak Lanud Manuhua hentikan penggusuran tanah adat keluarga Marandof

September 3, 2026
CPNS

Ratusan CPNS Biak Numfor belum terima SK PNS

August 24, 2026

Gempar Papua dan Germapa serukan perlindungan hak masyarakat adat

August 10, 2026

Keberadaan Satgas PKH tak mampu melindungi hak masyarakat adat

June 26, 2026

Siapa yang berkomitmen dalam rencana pembangunan Bandar Antariksa di Biak?

June 15, 2026

Gubernur Fakhiri letakkan batu pertama pembangunan Koperasi Merah Putih Biak Utara

May 23, 2026

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Smoke haze blankets Jayapura City and Regency
13 October 2026
Smoke haze blankets Jayapura City and Regency

Jayapura, Jubi – Jayapura City and Jayapura Regency in Papua Province have been blanketed by smoke haze in recent days, [...]

West Papua Marks 27 Years as Poverty Rate Falls
13 October 2026
West Papua Marks 27 Years as Poverty Rate Falls

Manokwari, Jubi – West Papua Governor Dominggus Mandacan says poverty has declined and the economy has continued to grow during [...]

Merauke prison riot: Buildings Set Ablaze, Several Inmates Escape
12 October 2026
Merauke prison riot: Buildings Set Ablaze, Several Inmates Escape

Merauke, Jubi – A riot broke out at Merauke Class IIB Correctional Facility in South Papua on Friday morning, 9 [...]

LBH APIK Jayapura Urges Papua Police to Protect Child Sexual Abuse Victims and Their Advocates
12 October 2026
LBH APIK Jayapura Urges Papua Police to Protect Child Sexual Abuse Victims  and Their Advocates

Jayapura, Jubi – The Jayapura Legal Aid Institute of the Indonesian Women’s Association for Justice (LBH APIK Jayapura) has urged [...]

Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary Forest Management
10 October 2026
Papuan Indigenous Communities Achieve Self-Reliance Through Customary  Forest Management

Teminabuan, Jubi – Indigenous Papuans have their own ways of managing customary forests to ensure they remain protected. They harvest [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Modifikasi cuaca

Pemprov Papua Barat gunakan 8 ton garam untuk modifikasi cuaca

October 14, 2026
Puskesmas Sentani

Puskesmas Sentani terkendala anggaran BPJS Kesehatan

October 14, 2026
Pengawas BPJS Kesehatan RI

Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI tinjau pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayapura

October 14, 2026
Peluncuran aplikasi SIAP

Aplikasi SIAP: Mencegah pungli pelayanan pemerintahan di Papua Tengah

October 14, 2026
Kompetensi petani Papua Tengah

Kompetensi petani langkah penting meningkatkan kemandirian pangan di Papua Tengah

October 14, 2026
Produksi petani lokal mesti ditingkatkan

Produksi petani lokal Papua Tengah mesti ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan

October 14, 2026
Komisioner KPU Papua Barat

Kasus perzinaan: Komisioner KPU Papua Barat diberhentikan sementara

October 14, 2026
Perwakilan PBB ke Papua

Gereja Baptis dukung perwakilan PBB berkunjung ke Tanah Papua

October 13, 2026
Seruan pastoral PGI terkait karhutla

PGI keluarkan seruan pastoral terkait karhutla

October 13, 2026
Marga Ateta tuntut ganti rugi hak ulayat

Marga Ateta tuntut PT Genting Oil Kasuri evaluasi kompensasi tanah ulayat

October 14, 2026
Komisioner KPU Papua Barat

Kasus perzinaan: Komisioner KPU Papua Barat diberhentikan sementara

October 14, 2026
Kesehatan

Kementerian Kesehatan Vanuatu kirim pasokan darurat ke Pulau Ambae

March 17, 2026
pedagang pakaian

Potret lesu pedagang pakaian kaki lima jelang Idulfitri di Jayapura

March 17, 2026
RSUD Yowari

Keluarga pasien berharap Pemkab Jayapura evaluasi menyeluruh RSUD Yowari

March 17, 2026
Modifikasi cuaca

Pemprov Papua Barat gunakan 8 ton garam untuk modifikasi cuaca

0
Puskesmas Sentani

Puskesmas Sentani terkendala anggaran BPJS Kesehatan

0
Pengawas BPJS Kesehatan RI

Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI tinjau pelayanan kesehatan di Kabupaten Jayapura

0
Peluncuran aplikasi SIAP

Aplikasi SIAP: Mencegah pungli pelayanan pemerintahan di Papua Tengah

0
Kompetensi petani Papua Tengah

Kompetensi petani langkah penting meningkatkan kemandirian pangan di Papua Tengah

0
Produksi petani lokal mesti ditingkatkan

Produksi petani lokal Papua Tengah mesti ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan

0
Komisioner KPU Papua Barat

Kasus perzinaan: Komisioner KPU Papua Barat diberhentikan sementara

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara