Jayapura, Jubi – Pusat Operasi Pemulihan atai ROC yang berada di bawah Departemen Kebijakan Strategis, Perencanaan dan Koordinasi Bantuan Vanuatu sejauh ini telah menerima 122 proposal proyek pemulihan pascagempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter terjadi di Vanuatu pada 17 Desember 2024. Total nilai proposal proyek pemulihan itu setara 408.313 juta dolar AS, atau setara Rp6,678 triliun.
Pada Jumat (1/2/2025), Daily Post Vanuatu melansir berita berjudul “VT50 billion for 122 recovery project proposals” yang menyebut rencana pemulihan ini disebut sebagai Program Investasi Pemerintah. Berbagai proposal itu diajukan oleh sektor utama yang terdampak gempa bumi, seperti infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan bisnis. Setiap sektor mengajukan proposal yang merinci kerusakan, rencana perbaikan, dan pendanaan yang dibutuhkan.
Semua proposal proyek itu akan ditinjau dan ditentukan skala prioritasnya. Proposal yang disetujui oleh Komite Pemulihan Nasional (NRC) dapat langsung dilaksanakan jika dananya tersedia. Proyek pemulihan didanai oleh mitra donor dan pemerintah. Menurut ROC, beberapa proposal telah menerima pendanaan, dan proposal yang lain menunggu persetujuan dana.
ROC menyampaikan hingga kini nilai proposal yang telah mendapatkan pendanaan baru mencapai 50 persen dari total nilai proposal pemulihan. ROC menyatakan proposal yang tidak dipilih oleh mitra donor akan didanai melalui Proposal Proyek Baru dan anggaran rutin Pemerintah Vanuatu. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi masyarakat sipil juga mendanai inisiatif pemulihan bencana bagi masyarakat.
Dana Darurat senilai 1,5 persen dari anggaran tahunan Pemerintah Vanuatu digunakan untuk dukungan kemanusiaan selama keadaan darurat. ROC mengatakan dana yang tersisa dapat digunakan, tetapi tidak dapat digunakan untuk membiayai proyek jangka panjang.
ROC menghentikan operasinya setelah lebih dari sebulan bekerja mengoordinasikan dan mengawasi upaya pemulihan setelah gempa bumi. ROC akan tetap melakukan koordinasi, tetapi tugas operasionalnya dialihkan kepada Manajer Pemulihan dan Sub-Komite yang ditunjuk berdasarkan Undang-Undang Pemulihan dan Ketahanan Bencana yang baru.
“Tugas utama kami adalah mengoordinasikan rencana pemulihan, dan setelah disetujui oleh NRC, kami akan melanjutkan proses normal untuk mencari pendanaan berdasarkan rencana pemulihan. Kami harus bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk melaksanakan rencana pemulihan,” demikian pernyataan ROC, sebagaimana dikutip dari Daily Post.
“Kami akan tetap memantau kemajuan upaya yang dilakukan oleh Manajer Pemulihan. Misalnya, Kementerian Pekerjaan Umum harus melaporkan penyelesaian perbaikan jalan utama dan [melaporkan] apakah akses ke dermaga telah dipulihkan sepenuhnya,” demikian pernyataan ROC.
Gempa bumi baru-baru ini di Port Vila telah mengakibatkan banyak bangunan, termasuk Gedung Keuangan baru dan Istana Kepresidenan, rusak. Bangunan-bangunan ini, yang dibangun oleh China Gezhouba Group Company Limited, tampak jelas terkena dampak gempa. Mengingat kerusakan yang tampak, para ahli dan pejabat tengah berupaya menilai situasi.
China Gezhouba Group, yang terkenal dengan proyek konstruksi dan tekniknya, bertanggung jawab atas pembangunan Gedung Keuangan dan Istana Presiden. Setelah selesainya pembangunan gedung-gedung ini, perusahaan tersebut menyatakan bahwa tanggung jawab mereka terhadap struktur bangunan telah berakhir.
Menurut perusahaan, setelah proyek diserahkan, tanggung jawab untuk pemeliharaan dan perbaikan jatuh ke tangan pemerintah Vanuatu. “Kami telah memenuhi kewajiban kontraktual kami; perbaikan di masa mendatang merupakan tanggung jawab pemerintah Vanuatu,” kata Chinese Construction Group.
Meskipun Gezhouba Group secara hukum telah menutup keterlibatannya, Kedutaan Besar Tiongkok di Vanuatu telah memberikan jaminan. Sambil mengakui kurangnya tanggung jawab perusahaan untuk perbaikan, kedutaan menekankan bahwa Tiongkok tetap berkomitmen untuk mendukung Vanuatu. “Meskipun kontrak telah selesai, kami masih menganggap Vanuatu sebagai saudara dan bersedia memberikan bantuan dan dana darurat sesuai kebutuhan,” demikian pernyataan Kedutaan Besar Tiongkok di Vanuatu.
Tim yang terdiri dari empat pakar gempa bumi Tiongkok juga telah melakukan penilaian terhadap bangunan yang rusak. Mereka mengonfirmasi bahwa meskipun Gedung Keuangan mengalami kerusakan yang tampak, strukturnya sendiri tetap utuh. “Kerusakan yang tampak tidak mengurangi kekuatan bangunan. Hanya perbaikan yang diperlukan untuk memulihkannya.”
Penilaian lebih lanjut akan dilakukan untuk menentukan apakah bangunan tersebut dapat diperbaiki atau perlu dihancurkan. Pada hari Senin, selama pengarahan di Recovery Operation Centre (ROC), para pejabat membahas perlunya evaluasi yang lebih rinci. “Penilaian menyeluruh, termasuk tinjauan fisil dan struktural, harus diselesaikan sebelum keputusan apa pun dibuat tentang masa depan bangunan tersebut,” kata mereka.(*)



















Discussion about this post