Jayapura, Jubi – Sejumlah laporan resmi pemerintah terkait penanganan gempa bumi dahsyat di Vanuatu menyebutkan data jumlah korban tewas yang saling berlainan. Radio New Zealand (RNZ) melansir berita berjudul “Immediate response still the focus in Vanuatu, but move to rebuild coming, High Commissioner says” yang menyebut tim penyelamat terus menyisir puing-puing untuk mencari korban selamat.
Gempa bumi berkekuatan 7,3 Skala Richter terjadi di Vanuatu pada 17 Desember 2024. Gempa itu merusak berbagai bangunan, jalan, jembatan, dan melumpuhkan pelayanan pasokan air bersih, listrik, maupun jaringan telekomunikasi.
RNZ menyoroti pernyataan Kantor Manajemen Bencana Nasional Vanuatu pada 17 Desember 2024 yang menyatakan jumlah korban tewas dalam gempa bumi itu sebanyak 14 korban. Sejumlah empat korban telah dipastikan meninggal dunia oleh tenaga medis di rumah sakit. Sejumlah enam korban lainnya tewas akibat tertimbun tanah longsor. Ada lagi empat korban lainnya yang meninggal dunia akibat bangunan yang runtuh.
Namun, pada 18 Desember 2024 jumlah korban tewas yang dinyatakan Kantor Manajemen Bencana Nasional Vanuatu justru berkurang. Kantor itu menyatakan hanya sembilan korban yang dipastikan meninggal dunia oleh rumah sakit. Laporan pada 18 Desember itu juga tidak menyebutkan kematian korban terkait tanah longsor atau bangunan runtuh.
Data itu berubah lagi pada 19 Desember 2024, ketika Presiden Vanuatu, Nike Vurobatavu mengatakan jumlah korban tewas dalam gempa bumi dahsyat itu sekitar 16 korban.
Data korban terluka akibat gempa bumi itu cenderung konsisten. Data resmi lembaga pemerintah Vanuatu menyatakan jumlah korban terluka ada lebih dari 200 orang. Pihak rumah sakit menyatakan sebagian besar korban dirawat karena patah tulang.
Polisi Vanuatu mengimbau warga untuk mencari keberadaan kerabat mereka, dan segera melapor jika ada anggota keluarganya yang hilang.
Kerusakan dan kehancuran
Menurut Tim Penilaian Bencana Pemerintah Vanuatu, sebagian besar kerusakan akibat gempa bumi terjadi di CBD Port Vila. Lokasi itu berada di pulau utama, Efate.
Area itu telah ditutup untuk umum, dan operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Bangunan apa pun yang masih berdiri telah mengalami kerusakan struktural yang signifikan.
Dermaga utama Port Vila tetap ditutup karena tanah longsor besar.
Sejumlah dua waduk air utama yang memasok Port Vila telah hancur total, dan harus dibangun ulang. Hingga kini pemerintah masih melakukan penilaian terhadap kondisi sisa jaringan air dari kedua waduk itu.
Pemberitahuan untuk merebus air telah diberlakukan di seluruh Port Vila.
Perusahaan utilitas, Unelco sedang berupaya memulihkan pasokan listrik dan air. Vodafone Vanuatu memberi tahu pelanggannya bahwa pesan instan di Messenger, Viber, dan WhatsApp telah dipulihkan di jaringan selulernya.
Namun, panggilan audio dan video melalui platform itu masih belum tersedia hingga Kamis (19/12/2024). Vodafone mengatakan timnya bekerja keras untuk mengatasi masalah ini dan memulihkan layanan internetnya sepenuhnya.
Penanganan darurat
Pada Selasa (17/12/2024), Presiden Vanuatu, Nikenike Vurobaravu mengumumkan pemberlakuan keadaan darurat untuk daerah-daerah yang terkena dampak paling parah. Polisi telah mengimbau masyarakat mematuhi ketentuan jam malam yang diberlakukan mulai pukul 18.00 – 06.00 waktu setempat.
Polisi juga memperingatkan adanya potensi lebih besar terjadinya kejahatan untuk memanfaatkan situasi bencana itu. Polisi mengimbau semua orang untuk saling menjaga satu sama lain.
Hampir 100 warga Selandia Baru yang ada di Vanuatu telah dievakuasi dengan penerbangan militer. Sejumlah 93 warga Selandia Baru itu meninggalkan Port Vila pada Kamis malam, dan tiba di Auckland pada hari yang sama, sekitar pukul 23.00 waktu setempat.
Staf urusan luar negeri berencana Selandia Baru menemui para warga yang dievakuasi itu.
Pemerintah Selandia Baru menyatakan pusat panggilan daruratnya akan bekerja sepanjang malam untuk menghubungi warga Selandia Baru yang masih berada di Vanuatu, dan bersiap untuk melakukan evakuasi lagi.
Pemerintah Selandia Baru melakukan evakuasi itu, karena tidak ada penerbangan komersial yang beroperasi masuk atau keluar dari Vanuatu. Pihak berwenang setempat mengatakan pada Selasa (17/12/2024) bahwa mereka menutup Bandara Internasional Bauerfield untuk penerbangan komersial selama 72 jam. Penutupan bandara itu dilakukan untuk memperbaiki kerusakan dan memprioritaskan penerbangan bantuan bencana.
Penerbangan komersial diperkirakan akan mulai melayani lagi penerbangan dari dan ke Vanuatu mulai Sabtu (21/12/2024) besok. Jadwal keberangkatan penumpang yang memesan tiket penerbangan Fiji Airways ke Vila pada Kamis telah dijadwalkan ulang pada Sabtu. Solomon Airlines juga mengindikasikan akan melanjutkan penerbangan ke Vanuatu mulai Sabtu.
Akan tetapi, Virgin Airlines telah memutuskan membatalkan semua penerbangan mereka hingga Minggu (22/12/2024). Juru bicara Qantas Group mengatakan kepada ABC bahwa mereka memantau situasi penanganan gempa bumi di Vanuatu dengan cermat.
Personel pertahanan dan medis internasional, tim pencarian dan penyelamatan, serta pakar tanggap bencana dari Selandia Baru, Australia, dan Prancis kini berada di Port Vila. Mereka membantu tim tanggap darurat setempat yang telah bekerja sepanjang waktu sejak gempa berkekuatan 7,3 skala Richter mengguncang Vanuatu.
Tim pencari lokal itu bekerja bersama staf lokal di badan-badan PBB dan organisasi non-pemerintah di Vila. Waktu sangat penting bagi tim yang menyisir reruntuhan untuk mencari tanda-tanda korban selamat. (*)




















Discussion about this post