Jayapura, Jubi – Dua kardinal akan mewakili negara-negara Kepulauan Pasifik dalam konklaf di Vatikan untuk memilih Paus baru.
Paus Fransiskus wafat pada Senin (21/4/2025) pagi, bertepatan dengan Paskah, dalam usia 88 tahun. Kabar ini dikutip Jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Rabu (24/4/2025).
Wafatnya Paus memicu masa berkabung, setelah itu semua kardinal yang berusia di bawah 80 tahun akan berkumpul untuk memilih pemimpin Gereja Katolik yang baru. Hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang memiliki hak suara dalam konklaf, meskipun yang lebih tua dapat turut hadir.
Saat ini terdapat 252 kardinal, dan 138 di antaranya merupakan kardinal elektor.
Kardinal Soane Patita Paini Mafi dari Tonga dan Kardinal John Ribat dari Papua Nugini akan menuju Roma untuk mengikuti konklaf.

Vatikan telah mengonfirmasi keikutsertaan Kardinal Mafi, sementara Gereja Katolik di Papua Nugini juga telah memastikan bahwa pengaturan perjalanan bagi Kardinal Ribat sedang dipersiapkan.
Uskup Lae di Papua Nugini, Rosario Menezes, menyampaikan bahwa Paus Fransiskus, yang sempat mengunjungi negara itu pada September tahun lalu, telah memberikan banyak kontribusi bagi Gereja di PNG.
“Ini adalah kehormatan besar bagi kami. Karena Paus Fransiskus, kami memiliki kardinal pertama kami, yaitu Kardinal John Ribat,” kata Menezes.
“Dengan mengangkatnya sebagai kardinal, Paus menempatkan Gereja Katolik di PNG pada peta dunia, memberi kami keyakinan bahwa meskipun kami adalah gereja misionaris, kami dapat memberikan kontribusi besar bagi Gereja universal,” tambahnya.
“Kami sangat bangga karena PNG bisa ambil bagian dalam pemilihan pemimpin Gereja Katolik berikutnya,” ujarnya.
Para pemimpin Pasifik turut bergabung dengan para pemimpin dunia dalam menyampaikan penghormatan kepada mendiang Paus.
Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape, mengatakan bahwa wafatnya Paus merupakan kehilangan besar bagi seluruh umat manusia.
“Dia adalah bapa rohani bagi lebih dari satu miliar umat Katolik di seluruh dunia, serta suara moral di tengah ketidakpastian global,” ujar Marape.
Paus Fransiskus pernah mengunjungi PNG pada September lalu. Menurut Marape, kehadiran dan pesan-pesannya memberikan inspirasi kepada rakyat untuk peduli pada negara, memperhatikan yang rentan, berlaku adil, dan berjalan rendah hati bersama Tuhan.
“Selama berada di Port Moresby dan Vanimo, Paus Fransiskus menyampaikan pesan persatuan, inklusivitas, dan harapan,” katanya.
Perdana Menteri Kepulauan Cook, Mark Brown, menyebut Paus sebagai “pria dengan kerendahan hati yang dalam dan iman yang teguh.”
Sementara itu, Perdana Menteri Fiji, Sitiveni Rabuka, mengatakan bahwa warisan iman, kasih sayang, dan pelayanan yang ditinggalkan Paus akan terus menginspirasi generasi di dalam maupun di luar Gereja Katolik.
Kepala Gereja Katolik Fiji, Uskup Agung Peter Loy Chong, menuturkan bahwa Paus Fransiskus selalu bergerak dengan kursi rodanya dengan penuh humor, kegembiraan, dan kenyamanan.
Ia menambahkan bahwa Paus menerima keterbatasannya sendiri, dan sering meminta umat untuk mendoakannya.
Pastor Paulo Filoiali’i dari Samoa, warga Pasifik pertama yang belajar di Roma dan merayakan misa Samoa pertama di Vatikan saat ditahbiskan pada 1990, mengenang Paus sebagai sosok yang penuh spiritualitas.
“Beliau bukan hanya Paus, tetapi juga seorang Bapa,” ujar Pastor Paulo, yang mengenal Fransiskus sejak masih menjadi imam Jesuit.
Berita Palsu dan Klarifikasi
Uskup Menezes mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak telepon dan pesan untuk mengonfirmasi kabar wafatnya Paus.
Ia mengatakan, awal tahun ini, ketika Paus sempat jatuh sakit, banyak kabar bohong yang tersebar di media sosial.
“Kami harus mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan bahwa jika Paus wafat, ada protokol yang harus diikuti, dan informasi resmi akan datang dari Vatikan,” katanya.
“Banyak panggilan telepon masuk pada malam hari hanya untuk memastikan kebenaran kabar. Masyarakat sangat berduka, dan ucapan belasungkawa pun terus mengalir,” tambahnya.
Jenazah Paus Fransiskus akan dibawa ke Basilika Santo Petrus pada Rabu (24/4/2025) pukul 07.00 GMT dalam prosesi yang dipimpin para kardinal. Ia akan disemayamkan di sana hingga Jumat (26/4/2025) malam.
Upacara pemakaman akan digelar pada Sabtu (27/4/2025) pukul 10.00 pagi waktu setempat di Lapangan Santo Petrus, di depan basilika abad ke-16. Upacara ini akan dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re, dekan berusia 91 tahun dari Dewan Kardinal. (*)



















Discussion about this post