Sorong, Jubi – Kepergian Auguste CR Sagrim, ikon olahraga Papua Barat Daya yang akrab disapa Gusty, menjadi duka mendalam. Banyak gebrakan yang telah dilakukan Gusty untuk membuat generasi muda tertarik berolahraga, dan ketokohan Gusty akan selalu menginspirasi generasi muda.
Auguste CR Sagrim, sosok yang kerap disebut sebagai “Bapak Sepak Bola Sorong Raya” itu telah berpulang pada Rabu (24/09/2025). Jenazahnya dimakamkan di depan halaman rumahnya di Kota Sorong, Senin (29/9/2025).
Musell M Safkaur, pecinta olahraga sekaligus keponakan almarhum, menuturkan panjang lebar perjalanan hidup Gusty. Mulai dari kiprahnya di dunia olahraga, hingga momen-momen terakhir yang mengantar Gusty ke peristirahatan abadi.
Auguste CR Sagrim adalah figur besar dalam medan olahraga Papua Barat, khususnya dalam cabang olahraga sepak bola. “Ia berasal dari Kampung Sauf Koma-Koma, Distrik Ayamaru Selatan, Kabupaten Maybrat,” ujar Musell M Safkaur membuka kisah almarhum.
Gusty lahir di Ayamaru pada 4 Agustus 1983. Beliau adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Marthen Fleswat Sagrim, seorang perawat di Kecamatan Ayamaru pada tahun 1970–1980-an. Sedangkan ibunya, Marice Naa, adalah ibu rumah tangga sekaligus pendoa syafaat di Gereja GPI Jalan Suci.
Sejak kecil Gusty dikenal riang, penuh energi, dan punya bakat luar biasa dalam berolahraga. Pada tahun 1988, ia didaftarkan ke SD Inpres 14 HBM, dan lulus pada tahun 1994. Setelah ayahanya wafatnya, Gusty pindah ke Jayapura untuk melanjutkan sekolah menengah.
Menurut Safkaur, Gusty masuk SMP 6 Kota Jayapura tahun 1994 hingga tamat tahun 1997. Ia lantas melanjutkan pendidikannya di SMA YPPK Katolik Taruna Darma, dan lulus pada 2000. Selepas SMA, Gusty kuliah di Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), dan lulus pada 2005.
Selama kuliah, Gusty bukan hanya berprestasi, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Tahun 2002, ia menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan. Ia lalu pindah ke Jurusan Teknik Sipil, dan sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan, sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Senat USTJ periode 2003–2005.
Setelah lulus kuliah, Gusty masuk ke organisasi kepemudaan, dan menjadi Wakil Ketua KNPI Kota Jayapura periode 2005–2007. Gusty kemudian kembali ke Kota Sorong. Di situlah ia mendirikan Saf’com Football Academy pada tahun 2009. Ia menjadi Presiden Klub Saf’com hingga akhir hayatnya.
Gusty sempat diangkat sebagai aparatur sipil negara (ASN) pada 2008, tetapi ia memilih mengundurkan diri pada 2013 karena mencalonkan diri sebagai anggota DPR Kota Sorong. Tahun 2019, Gusty diangkat sebagai Ketua Komisi III DPR Kota Sorong. Setahun kemudian ia dipercaya menjadi Ketua Badan Anggaran hingga 2024.
“Pada 2024, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPR Papua Barat Daya. Ia lolos, namun memilih mundur untuk maju sebagai calon Wali Kota Sorong. Setelah tidak terpilih, ia kembali fokus ke Saf’com,” kata Safkaur.
Menghidupkan geliat olahraga
Harus diakui, Gusty adalah mesin olahraga Kota Sorong. Ia mulai menggerakkan anak-anak muda Kota Sorong untuk aktif berolahraga sejak 2008. Saat itu, Kota Sorong seperti mati tanpa aktivitas olahraga dan budaya. Kala itu, anak-anak muda lebih banyak terjebak dalam kehidupan klub malam, mabuk-mabukan, dan kehilangan arah masa depan.
Hal itulah yang menggerakkan Gusty mendirikan klub sepak bola dengan nama kampungnya, Saf’com pada 2008. Menurut Musell M Safkaur, kelahiran klub itu mengawali sebuah revolusi olahraga di Sorong.
“Tahun 2009, ia menggelar Saf’com Cup pertama di Lapangan Hoky, Kampung Baru, Sorong. Itu menjadi tonggak sejarah olahraga Sorong. Kejuaraan itu terus berkembang jadi agenda tahunan, dan klub lokal tumbuh mewadahi ribuan talenta muda. Sorong akhirnya dikenal sebagai lumbung pemain sepak bola di Papua Barat Daya,” ujar Safkaur.
Sejak 2010, Gusty aktif mengirim atlet muda Sorong ke berbagai seleksi dan pelatihan. Ia ingin anak muda Sorong punya masa depan.
Bergulirnya kompetisi sepak bola di tingkat lokal itulah yang melahirkan nama-nama pemain sepak bola seperti Elisa Basna, Gideon Way, Brian Fatari, Melkior Majefat, Samuel Balinsa, hingga Ricky Kambuaya. Hampir semua pemain sepak bola berbakat di Papua Barat Daya punya akar dari Saf’com
Safkaur mengenang Gusty yang kerap merenungi mengapa sulit sekali menemukan pemain tim nasional yang tangguh, padahal Indonesia memiliki penduduk 280 juta jiwa. Pada tahun 2013, Gusty meluncurkan Super Saf’com. Pada 2016, Gusty membuat road show Saf’com berkeliling Tanah Papua. Gusty ingin talenta sepak bola Sorong dikenal lebih luas.
Pada 2023, Saf’com berkembang lebih jauhmenjadi klub basket. Gusty mencita-citakan adanya kejuaraan basket di tingkat lokal, namun cita-cita itu belum terwujud.
Menurut Safkaur, Gusty juga mendukung pembinaan olahraga balap motor. Gusty mengirim anak-anak muda Sorong ke berbagai kejuaraan. Gusty juga memperluas wilayah kerja Saf’com ke ranah seni dan budaya, antara lain dengan menggelar Saf’com Cultural Shock. Gusty selalu percaya bakat menari dan seni anak muda juga harus diberi ruang.
Pribadi yang sederhana
Safkaur mengenang Gusty sebagai pemimpin yang bersahaja. Gusty selalu tampil dengan baju hitam dan kacamata, gaya khas yang membuat orang mudah mengenalinya. Sosok Gusty hadir untuk siapa saja, mudah disapa, namun gigih memperjuangkan hak kaum muda.
“Contoh nyata, saat Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya ingin ingin membangun Kantor Gubernur di Lapangan Wombik Kilometer 16, Gusty memimpin aksi pemalangan. Ia menolak perusakan fasilitas olahraga. Gusty juga menggagas pembangunan Stadion Bawela, stadion yang kini jadi pusat olahraga Sorong. [Itu] warisan yang tak akan dilupakan,” kata Safkaur.
Melalui Saf’com Academy, Gusty mendukung banyak kejuaraan olahraga. “Ia jadi bapak bagi generasi muda yang haus ruang ekspresi,” kata Safkaur.
Di balik semangat itu, Gusty didera sakit sejak beberapa bulan yang lalu. Menurut Safkaur, Gusty sering mengeluh lelah, tetapi tetap memimpin anak anak muda di lapangan.
Sepekan sebelum Gusty berpulang, ia jatuh sakit cukup parah. Keluarga sempat membawanya berobat, tetapi ia menolak dirawat lama karena ingin tetap bersama anak-anak binaannya. Safkaur bercerita bahwa sehari sebelum ia meninggal dunia, Gusty masih sempat membicarakan rencana kompetisi basket Saf’com Basket pada bulan Oktober.
Gusty menghembuskan napas terakhir dengan tenang, dikelilingi keluarga dan anak anaknya. Safkaur menuturkan bahwa Gusty bertitip pesan agar anak-anak muda di Kota Sorong jangan dibiarkan kehilangan arah.
“Sorong kehilangan motor utama penggerak olahraga. Kepergiannya membuat banyak even besar berhenti. Kami kehilangan pusat gerakan. Namun, ia meninggalkan tiga orang anak dan warisan yang tak ternilai, [yaitu] karyanya di [bidang] olahraga [yang] akan terus hidup,” kata Safkaur.
Selamat jalan, Bapak Sepak Bola Papua Barat Daya. Jasamu tak terselami, abadi selamanya. “Meen hame, Komandan. Kami akan lanjutkan jejakmu,” ujar Safkaur. (*)






















Discussion about this post