Merauke, Jubi – Hilarius Gebze menenteng sebatang bambu dengan ujung yang telah dipasangi jolokan sederhana. Ia menyusuri hutan di sekitar Biras, kawasan rekreasi di Kampung Wasur, Merauke, Papua Selatan untuk mencari sarang semut yang menjadi bahan baku usaha keluarganya.
Sesekali Hilarius berhenti dan menengadah ke antara dahan pepohonan. Matanya mencari sarang semut yang menggantung di pepohonan. Bagi orang lain, benda itu mungkin sekadar bagian dari ekosistem hutan. Akan tetapi bagi Hilarius dan keluarganya, sarang semut adalah sumber penghidupan.
Sejak 2010, Hilarius mengambil dan mengolah sarang semut bersama istrinya, Ayu Handayani. Mereka mengolahnya menjadi Teh Celup Sarang Semut yang diproduksi Kelompok Ndungger di Kampung Wasur. Dalam bahasa setempat, Ndungger berarti sarang semut.
Untuk mengambil sarang, Hilarius tidak membawa kapak. Ia menggunakan bambu dan cabang kayu rahae yang diikat dengan binen hingga membentuk alat seperti kait. Sarang yang dinilai siap panen dikait dari atas.
Satu pohon dapat memiliki dua, tiga, lima, tujuh, hingga sekitar sepuluh sarang. Namun, Hilarius tidak mengambil semuanya. Ia biasanya memilih tiga atau empat sarang berukuran cukup besar, sedangkan sarang yang masih kecil dibiarkan tumbuh.

Cara itu penting karena usaha mereka bergantung pada keberadaan sarang semut di hutan.
Ketika sarang jatuh, Hilarius dan Ayu tidak langsung mendekat. Duri pada sarang dapat mengenai tubuh. Semut yang berada di dalam dan di sekitar sarang juga dapat menyerang. Dalam perjalanan pencarian bersama Hilarius, penulis sempat merasakan gigitan semut.
Hilarius memilih memegang tangkai atau ujung daun tempat sarang menempel. Ayu kemudian mengumpulkan sarang yang jatuh dan memasukkannya ke dalam karung.
Bagi keluarga itu, hasil hutan tersebut ikut membiayai kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak.
“Selain untuk keperluan dalam rumah tangga, biaya yang lain-lain juga, terutama biaya anak sekolah,” kata Hila.
Bahan Baku Sulit Diangkut
Persoalan muncul ketika musim berganti. Pada musim kemarau, kendaraan roda tiga masih dapat masuk mendekati lokasi pencarian. Saat hujan, jalan berubah menjadi berlumpur dan sebagian jalur tergenang. Kendaraan harus ditinggalkan lebih dekat ke jalan utama. Sarang semut kemudian dibawa dengan berjalan kaki.
Sekali pengambilan, satu karung dapat berisi sekitar 30 hingga 50 kilogram bahan mentah. Hilarius biasanya mengumpulkan beberapa karung sebagai persediaan. Beratnya menyusut setelah sarang dibersihkan, dikupas, dipotong atau diparut, lalu dikeringkan.
Di rumah, Ayu melanjutkan pekerjaan. Sarang dibersihkan dari kulit luar dan durinya, kemudian diparut agar ukurannya lebih seragam. Jika cuaca mendukung, pengeringan berlangsung sekitar satu hingga dua hari.

Bahan yang telah kering kemudian dikemas menjadi Teh Celup Sarang Semut dengan netto 40 gram atau 20 kantong teh per kemasan. Produk tersebut dipasarkan dari Kampung Wasur ke Merauke dan kepada pemesan dari luar daerah. Promosi dilakukan melalui media sosial, terutama Facebook, serta jaringan pembeli dan pendamping.
Bagi Ayu, usaha itu berpengaruh langsung terhadap ekonomi keluarganya.
“Kalau saya usaha berpengaruh dalam ekonomi keluarga. Untuk satu anak biaya sekolah, uang bensin tiap hari, karena dia sekolah di kota,” kata Ayu.
Kelompok Ndungger Menyusut
Usaha tersebut pernah melibatkan sekitar 30 orang melalui Kelompok Ndungger. Kini hanya beberapa anggota yang masih aktif, terutama ketika pesanan datang dalam jumlah banyak.
Yosefina Ndiken bergabung sejak 2022. Ketika pesanan datang, anggota kelompok dipanggil untuk bekerja bersama. Jika tidak ada pesanan, mereka kembali mengerjakan aktivitas masing-masing di rumah.

Kendaraan menjadi salah satu kendala utama. Anggota yang tidak memiliki kendaraan harus menumpang atau menyewa untuk mengambil bahan baku dari hutan.
“Kami beberapa orang bertahan sampai sekarang, cuma kendalanya kendaraan. Itu yang jadi kendala buat kita kelompok,” kata Yosefina.
Absalonia Helena Basik-Basik, anggota yang telah bergabung sejak 2010, menghadapi persoalan serupa. Saat musim hujan, kendaraan roda dua harus ditinggalkan di jalan utama. Bahan baku yang diambil dari dalam hutan kemudian dipikul keluar.
“Kalau musim hujan kendaraan yang roda dua itu parkir di luar, parkir di jalan besar, baru kita ambil di dalam, pikul lagi keluar,” kata Absalonia.
Selain kendaraan, kelompok membutuhkan peralatan produksi, modal untuk membeli kantong teh dan bahan pendukung, serta akses pasar. Blender dan alat press yang digunakan juga sudah lama dan tidak lagi dalam kondisi baik.
Kelompok pernah mengajukan proposal bantuan. Namun, menurut anggota kelompok, proposal yang disampaikan melalui pihak di luar dinas belum memperoleh respons seperti yang diharapkan.
Menjaga Hutan agar Usaha Tetap Berjalan
Kepala Balai Taman Nasional Wasur, Acha Anis Sokoy, mengatakan pemanfaatan sarang semut merupakan salah satu bentuk pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang dapat dilakukan dengan memperhatikan keberlanjutan kawasan.

Menurut Acha, pengelolaan kawasan konservasi mencakup perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. Masyarakat dapat mengambil sarang semut selama keberadaannya tetap dijaga.
Masyarakat yang selama ini mengambil sarang semut, kata Acha, telah mengetahui sarang yang layak dipanen dan sarang yang masih kecil untuk dibiarkan tumbuh.
“Pemanfaatan secara lestari yang berkelanjutan adalah memanfaatkan yang sudah umur panen. Artinya harus ada yang ditinggalkan untuk keberlanjutan,” kata Acha.
Keberadaan sarang semut juga berkaitan dengan tumbuhan, pohon tempatnya tumbuh, dan kondisi tanah. Karena itu, pohon tempat sarang semut tumbuh perlu dijaga. Di kawasan Taman Nasional Wasur, masyarakat juga tidak diperbolehkan mengambil pohon tersebut.
Balai Taman Nasional Wasur telah mendampingi kelompok masyarakat di Wasur, Yanggandur, Sota, dan Rawa Biru. Pendampingan mencakup peralatan produksi, dukungan permodalan untuk kebutuhan tertentu, pelatihan kewirausahaan, peningkatan kapasitas pengolahan, dan pengelolaan kelompok.
Namun, ketika produk hendak masuk ke pasar yang lebih luas, persoalan legalitas usaha dan produk muncul.
Acha mengatakan legalitas serta pemasaran perlu dicarikan jalan keluar bersama pemerintah daerah.
“Karena masyarakat itu sebenarnya secara kearifan, mereka sudah punya cara-cara bagaimana memanfaatkan yang berkelanjutan. Tinggal kita mengarahkan, mendampingi saja sebenarnya,” katanya.
Legalitas Menjadi Syarat Pasar
Kepala Bidang UKM Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Merauke, Pompea Habsari, mengatakan pemerintah daerah memiliki program bantuan modal bagi pelaku usaha Orang Asli Papua yang bersumber dari dana Otonomi Khusus.
Bantuan tersebut diberikan sejak 2023. Besarannya disesuaikan dengan jenis dan skala usaha. Bantuan terendah yang ia sebut sekitar Rp13 juta untuk satu kelompok.

Pelaku usaha harus memiliki usaha yang telah berjalan sekurang-kurangnya enam bulan. Proposal juga harus memenuhi persyaratan administrasi, termasuk NIB dan persyaratan kelompok.
Dinas melakukan verifikasi administrasi dan lapangan sebelum menentukan besaran bantuan. Karena itu, nominal yang diajukan tidak otomatis diberikan seluruhnya.
Untuk produk seperti Teh Celup Sarang Semut, Pompea mengatakan legalitas usaha dan produk penting agar produk dapat dipasarkan lebih luas. Pemerintah daerah juga memiliki pendampingan untuk pengajuan merek dan mendorong produk UMKM masuk ke toko oleh-oleh serta lokasi penjualan di bandara sepanjang persyaratannya terpenuhi.
“Intinya produk itu bisa dipasarkan. Yang penting memenuhi syarat. Kalau tidak memenuhi syarat kan pasar tidak akan membeli,” kata Pompea.
Kelompok Ndungger kini menghadapi sejumlah pekerjaan sekaligus: bahan baku berada di dalam hutan, akses menuju lokasi bergantung pada cuaca dan kendaraan, peralatan produksi mulai tua, jumlah anggota menyusut, sementara produk membutuhkan legalitas dan pasar yang lebih luas.
Di sisi lain, hutan Wasur tidak bisa diperlakukan sebagai gudang bahan baku yang terus diambil isinya.
Pagi itu, setelah beberapa sarang berhasil dikumpulkan, Hilarius membawa hasilnya keluar dari hutan. Sarang-sarang itu akan kembali melewati tangan Ayu sebelum berubah menjadi teh dalam kemasan.
Dari hutan Wasur, rantai ekonomi itu bermula; sarang tumbuh di pepohonan, dipanen secukupnya, dibawa pulang, diolah, dikemas, lalu dijual untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Keberlanjutannya bergantung pada dua hal yang berjalan bersamaan, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari hutan, sementara hutan tetap mampu menyediakan sumber kehidupan.
Bagi Hilarius, selama pohon tempat sarang semut tumbuh tetap ada dan sarang yang kecil masih diberi kesempatan berkembang, hutan belum sekadar menjadi tempat mengambil hasil.
Bagi masyarakat orang asli Papua, hutan adalah tempat menggantungkan kehidupan. (*)



Discussion about this post