Jayapura, Jubi – Jaringan Kerja Rakyat Papua (Jerat) menggelar workshop pengembangan ekonomi hijau dan biru sebagai model pembangunan berkelanjutan basis kampung di Kabupaten Boven Digoel dan Supiori.
Workshop dilakukan untuk mengidentifikasi praktek-praktek ekonomi hijau dan biru yang selama ini telah dilakukan masyarakat adat di Kampung Rayori Kabupaten Supiori dan Kampung Awayanka Kabupaten Boven Digoel.
Peserta yang diundang berasal dari kelompok pemberdayaan ekonomi yang sudah punya usaha-usaha di dua kampung, Awayanka Kabupaten Boven Digoel, dan Kampung Rayori Kabupaten Supiori. Ada Kelompok Nelayan, Kelompok Aibon, Kelompok Penanaman Mangrove, Mananwir Sup Mnuk Sowek. Kelompok Usaha Pemuda, Kelompok Usaha Perempuan, Akademisi Pertanian, dan Akademisi Kelautan dan Perikanan.

Kegiatan berlangsung tiga hari mulai 26 sampai 28 Februari di salah satu hotel di Kota Jayapura, Papua pada Rabu, (26/02/2025).
Direktur Program Jaringan Kerja Rakyat Papua, Jimmy Biay mengatakan dalam beberapa dekade terakhir, dunia menghadapi tantangan besar terkait perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Krisis ekologi yang tidak hanya berdampak pada keseimbangan ekosistem, tetapi juga terhadap ekonomi, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat.
Untuk menjawab tantangan ini, konsep Blue-Green Economy muncul sebagai pendekatan yang mengintegrasikan prinsip ekonomi biru dan ekonomi hijau guna mencapai pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif.
“Ekonomi biru berfokus pada pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan, mencakup sektor-sektor seperti perikanan, pariwisata bahari, energi terbarukan berbasis laut, serta konservasi ekosistem pesisir dan laut,” katanya
Sementara ekonomi hijau menekankan transisi menuju sistem ekonomi yang rendah emisi karbon, efisien dalam penggunaan sumber daya, serta berbasis energi terbarukan dengan praktik ramah lingkungan.
Sinergi antara kedua konsep ini sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga melindungi lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat, ujarnya.
“Tanah Papua ini kan pulau dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga kami berpikir penerapan Blue-Green Economy memiliki urgensi yang besar. Apalagi sumber daya laut dan hutan tropis yang melimpah dapat menjadi modal utama dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Namun tantangan yang dihadapi hari ini sangat besar seperti eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, polusi, konversi lahan hutan menjadi lahan Perkebunan kelapa sawit, pengelolaan hasil hutan kayu oleh perusahan skala besar. Serta lemahnya kebijakan pengelolaan berkelanjutan masih menjadi hambatan utama dalam implementasi konsep ini.
Untuk itu, Jerat Papua dalam programnya periode tahun 2024 sampai 2026, melalui Departemen Pemberdayaan Masyarakat Adat (DPMA) menggelar rangkaian kegiatan workshop Pengembangan Ekonomi Hijau dan Biru sebagai model pembangunan berkelanjutan berbasis kampung. Kegiatan itu mengundang kelompok masyarakat dari dua kampung untuk berbagali tentang topik pengembangan ekonomi hijau yang sudah dilakukan,
“Ada berapa tujuan dari workshop ini salah satunya untuk mengetahui kebijakan prioritas pemerintah daerah terkait ekonomi hijau dan biru di Kabupaten Supiori dan Kabupaten Boven Digoel. Dan memetakan potensi sumber daya adat yang akan menjadi dasar untuk mendesain konsep ekonomi hijau dan biru sebagai model Pembangunan berkelanjutan berbasis kampung,” kata dia.
Hasil yang diharapkan dari workshop itu teridentifikasinya berbagai praktik ekonomi hijau dan biru yang telah diterapkan masyarakat adat di Kampung Rayori, Kabupaten Supiori, dan Kampung Awayanka, Kabupaten Boven Digoel. Kemudian adanya pemahaman mengenai kebijakan prioritas pemerintah daerah terkait ekonomi Hijau di Kabupaten Boven Digoel dan Ekonomi Biru di Kabupaten Supiori.
“Dan adanya desain konsep ekonomi hijau dan biru sebagai model pembangunan berkelanjutan berbasis kampung,” katanya.
Kabid Teknologi Tepat Guna (TTG) dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK) dan Orang Asli Papua, Provinsi Papua, Victor Rimindubby dalam sambutannya mengatakan kegiatan pengembangan ekonomi hijau dan biru sebagai model pembangunan berkelanjutan berbasis kampung ini sangat baik untuk meningkatkan ekonomi di masyarakat kampung.
Ia juga mengatakan kegiatan ini diharapkan meningkatkan kualitas dan produktivitas ekonomi masyarakat kampung, agar meningkatkan taraf hidup masyarakat. Masing-masing daerah di Tanah Papua ini memiliki sumber daya alam yang melimpah tinggal bagaimana melakukan pengembangan kapasitas kepada masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
“Agar menciptakan ekonomi hijau dan biru yang berkelanjutan pada masyarakat di kampung. Bagian-bagian seperti ini memberikan masukan bagi kami untuk mengambil kebijakan-kebijakan ke depan,” katanya.
Ia mengajak peserta yang hadir bisa memberikan masukan kegiatan yang bisa dibuat untuk menjaga sumber daya alam yang ada di Papua baik di darat tapi juga di laut. Sama-sama memberikan pikiran, ide yang baik bisa mendapatkan model yang baik untuk pembangunan yang tetap lestari dan berkelanjutan.
“Kita tahu bahwa saat ini sumber daya alam kita terbatas sehingga perlu kita kelola secara baik dan bijaksana, untuk bisa memberdayakan ekonomi kampung,” katanya. (*)



















Discussion about this post