Jayapura, Jubi – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat merilis beberapa wilayah di Indonesia yang berpotensi alami banjir pesisir atau rob periode satu sampai 10 Juni 2024. Wilayah pesisir Jayapura dan sekitarnya termasuk berpotensi rendah, namun tetap perlu diwaspadai.
Menurut data-data dari BMKG Maritim Jayapura, secara umum wilayah perairan utara Jayapura kondisi gelombangnya ada di kategori tenang hingga rendah. Hal itu dikatakan Muhammad Hanif Arifin Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Maritim Dok II Jayapura, di Kota Jayapura, Provinsi Papua pada Senin (03/06/2024).
“Jadi secara umum, potensi banjir di wilayah perairan utara Jayapura tergolong rendah karena dari prakiraan kondisi gelombang dan prakiraan kondisi angin tidak ada yang menunjukkan kondisi signifikan yang mengarah pada adanya banjir rob,” katanya.
Banjir dari laut atau yang disebut dengan banjir rob terjadi akibat adanya gelombang tinggi maupun kecepatan angin yang cukup tinggi sehingga mendorong air laut naik menuju ke daratan.
Menurut Hanif Arifin, ketinggian gelombang perairan utara Jayapura berkisar antara 0,5 sampai 1,25 meter, sehingga tidak masuk kategori gelombang tinggi karena cenderung rendah. Untuk kondisi angin dari tanggal 1 sampai 9 Juni umumnya bergerak dari arah timur laut hingga tenggara dengan kecepatannya berkisar antara 2 hingga 10 not.
Namun menurut Arifin kondisi tersebut tidak serta merta bisa disebut bebas banjir. Potensi banjir tetap ada, yang didorong oleh faktor lain seperti peningkatan cuaca buruk, peningkatan kondisi angin yang berubah-ubah. Selama 10 hari ke depan jika ada perubahan kondisi angin atau gelombang, maka bisa berpotensi terjadi banjir dengan tingkatan rendah.

“Urutan [potensi banjir rob rendah] wilayah pesisir seperti Sarmi, Kota Jayapura, Distrik Depapre dan sekitarnya dan Pantai Holtekamp ke arah timur dan teluk di sekitaran Kota Jayapura,” katanya.
“Dilihat pada gambar ada warna hijau di daerah Jayapura dan sekitarnya [artinya] memiliki potensi rawan banjir itu tingkatnya rendah tidak terlalu tinggi,” lanjutnya.
Secara umum banjir di wilayah daratan biasanya terjadi karena adanya curah hujan yang cukup tinggi dan juga hujan deras yang intensitasnya deras atau lebat di waktu singkat, yang tergantung kondisi ketinggian curah hujan dan kondisi daerahnya. Seperti bagaimana tingkat penyerapan air di wilayah tersebut.
“Jadi meskipun tergantung daerahnya, kalau daerah tersebut memiliki resapan air yang baik maka meskipun hujan lebat tidak terjadi banjir, tapi di daerah yang resapannya kurang baik atau aliran airnya buruk maka meskipun hujannya itu tidak terlalu deras bisa terjadi banjir, walaupun sebentar,” katanya.
Banjir yang disebabkan dari pasang air laut biasanya terjadi di pesisir pantai atau daerah sekitar bibir pantai yang disebut dengan banjir rob. Banjir ini dipengaruhi salah satunya oleh kondisi angin dimana arah atau kecepatan angin, lalu tinggi gelombang karena pergerakan angin, serta pasang surut gelombang laut yang dipengaruhi fase bulan.
“Disaat fase bulan purnama biasanya gelombang akan cenderung pasang dan sebaliknya jika bulan mati istilahnya biasa kondisinya lebih surut,” katanya.
Ia mengimbau kepada masyarakat yang ada di daerah pesisir atau bibir pantai dan daerah sekitar Jayapura untuk tetap waspada. Masyarakat diminta selalu memperhatikan kondisi cuaca dan kondisi gelombang saat melakukan aktivitas maupun di darat maupun di laut.
“Jika terdapat angin kencang maupun gelombang tinggi harap diperhatikan dan lebih waspada kondisi-kondisi perubahan cuaca saat beraktifitas,” katanya.
Ezri Yustina Ronsumbre Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG Wilayah V Jayapura mengatakan cuaca sepekan ke depan di wilayah Provinsi Papua, 4 hingga 10 Juni 2024, umumnya didominasi cerah berawan.
Cuaca berawan hingga hujan ringan masih berpotensi terjadi pada tanggal 4 Juni 2024, namun diperkirakan cuaca dominan cerah berawan pada periode 5 – 9 Juni 2024. “Peluang hujan yang merata dengan intensitas ringan hingga sedang kembali berpeluang terjadi pada tanggal 10 Juni 2024,” katanya.
Romsumbre mengatakan aktifnya angin monsun Australia sejak akhir April 2024 ini umumnya akan menurunkan frekuensi kejadian hujan lebat pada wilayah yang pola hujannya masuk pada tipe Monsunal. Hal ini karena angin membawa massa udara yang bersifat dingin dan kering dari Benua Australia menuju Benua Asia melintasi wilayah Indonesia.
“Kami tetap mengimbau masyarakat untuk memperbaharui informasi cuaca mengingat cuaca di wilayah Papua sangat dinamis dan cepat berubah. Masyarakat di wilayah rawan bencana juga dapat meningkatkan kewaspadaan, dapat juga menebang pohon atau ranting yang rapuh karena dapat menimbulkan dampak apabila terjadi perubahan cuaca signifikan,” katanya. (*)



















Discussion about this post