Teminabuan, Jubi – Nelayan asli Papua di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya berharap adanya perhatian dari pemerintah kabupaten (pemkab), terutama terkait kondisi laut sekitar yang kini tercemar sampah dan bantuan peralayan yang dibutuhkan nelayan.
Salah satu nelayan asli Papua di Kabupaten Sorong Selatan, Michael Thesia mengatakan sampah plastik yang mencemari laut menjadi yang semakin nyata, dan berdampak terhadap mata pencaharian nelayan tradisional di kawasan pesisir Teminabuan.
“Dulu kami datang ke sini pasti pulang membawa ikan, kepiting dan hasil laut lainnya. Sekarang, sebelum dapat ikan, kami harus keluarkan dulu sampah-sampah plastik dari jaring. Hampir setiap hari begini kondisinya. Ini yang kami rasakan sebagai nelayan lokal,” kata Michael Thesia Jubi di Muara Saflas, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, tercemarnya kawasan laut di wilayah itu tak hanya berdampak pada berkurangnya hasil tangkapan nelayan. Akan tetapi menggambarkan makin memburuknya situasi lingkungan di wilayah itu.
Karenanya, pemerintah kabupaten diharapkan memberi perhatian serius terhadap kondisi itu. Sebab, para nelayan di sana menggantungkan hidup mereka kepada laut.
“Setiap kali kami memasang jaring di kawasan Muara Saflas, saat jaring kami angkat justru lebih banyak sampah plastik dibandingkan hasil tangkapan,” ucapnya.
Katanya, situasi ini berbeda saat dengan kondisi Muara Saflas puluhan tahun silam ketika Teminabuan masih berstatus distrik. Ketika itu kawasan tersebut masih menjadi habitat berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan biota lainnya yang mudah ditemukan tanpa harus berlayar jauh.
Ketika itu, para nelayan mencari ikan di Muara Saflas. Mereka tidak perlu melaut terlalu jauh. Namun situasi itu kini berubah, ikan semakin sulit didapat karena tumpukan sampah makin banyak dan habitat ikan perlahan menghilang dari kawasan tersebut.
Selain itu kata Michael Thesia, nelayan lokal asli Papua di Kabupaten Sorong Selatan juga menghadapi tantangan lain, dengan masuknya nelayan dari luar daerah menggunakan kapal berukuran lebih besar, dilengkapi peralatan tangkan yang jauh lebih modern dibandingkan pihaknya.
“Sekarang banyak nelayan non asli Papua datang menggunakan perahu besar, dengan alat tangkap yang lebih modern. Sementara kami nelayan lokal masih memakai perahu kayu kecil dan mendayung secara manual. Kami jelas kalah bersaing. Mereka bisa menjangkau lokasi yang jauh dan hasil tangkapannya lebih banyak. Kami hanya mampu bertahan dengan peralatan seadanya,” ujarnya.
Katanya, karena ikan di sekitara Muara Saflas makin berkurang dampak dari laut yang tercemar dan kehadiran nelayan dari luar, pihaknya terpaksa mencari daerah tangkapan yang lebih jauh.
Namun keterbatasan armada membuat para nelayan lokal kesulitan melaut lebih jauh dari Muara Saflas secara rutin.
“Kami harus mendayung berjam-jam. Itu sangat melelahkan dan berisiko. Karena itu sekarang kami hanya turun melaut pada waktu-waktu tertentu saja”.
Ia pun berharap Pemkab Sorong Selatan memberikan perhatian lebih serius kepada nelayan tradisional asli Papua di wilayahnya, terutama adanya bantuan perahu bermesin, alat tangkap memadai, dan program pemberdayaan yang tepat sasaran.
Michael Thesia mengatakan, pihaknya tidak memita sesuatu yang berlebihan. Hanya berharap pemerintah membantu perahu atau mesin tempel, agar nelayan lokal asli Papua di sana bisa mencari ikan lebih jauh dan bersaing dengan para nelayan yang menggunakan peralatan modern.
“Kami juga berharap pemerintah dan masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan pesisir dan muara. Pencemaran sampah plastik tidak hanya merusak keindahan kawasan pesisir, juga mengancam habitat ikan dan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada hasil laut,” katanya. (*)



















Discussion about this post