Manokwari, Jubi – Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari tengah melakukan berbagai persiapan untuk meningkatkan statusnya menjadi Institut Hukum dan Pembangunan Papua.
Upaya ini dilakukan dengan menggelar kajian akademik yang menghadirkan para ahli dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di kampus STIH Manokwari, Jumat (21/3/2025), mahasiswa dan dosen turut berdiskusi bersama sejumlah pembicara, di antaranya, Prof. Ir. Joko Budiyanto Setyohadi, M.Eng., Ph.D, Prof. Dr. Drs. MG Endang Sumiarni, S.H., M.Hum. Ada Prof. Dr. T. Ir. Paulus Wisnu Anggoro, S.T., M.T., IPU, kemudian Prof. Dr. T. Ir. Baju Bawono, S.T., M.T., IPU dan Nugroho Mamayu Hayuning Bawono, S.T., M.T.
Ketua STIH Manokwari, Dr. Filep Wamafma, S.H., M.Hum., mengatakan evaluasi terhadap lulusan STIH menjadi bagian penting dari upaya pengembangan perguruan tinggi tersebut.
“Salah satu langkah yang kami siapkan adalah menambah program studi. Jika kelak STIH menjadi institut, target utama kami adalah memastikan lulusan siap kerja. Oleh karena itu, selain hukum, kami memasukkan manajemen teknologi agar bisa berkolaborasi dengan industri dan seni,” kata Filep Wamafma.
Ia menyebut data Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) yang mencatat sekitar 200–300 ribu sarjana di Indonesia masih menganggur setiap tahun.
“Banyak lulusan perguruan tinggi masih menunggu peluang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), sementara sektor lain kurang diminati,” ujarnya.
Menurutnya, dengan menghadirkan manajemen teknologi sebagai bagian dari pendidikan vokasi, STIH Manokwari ingin mencetak lulusan yang mampu menciptakan lapangan kerja sendiri.
“Kami ingin menghasilkan lulusan yang bisa membuka peluang usaha dan terserap di industri, bukan hanya menunggu seleksi CPNS. Target kami, minimal tahun ini perubahan itu sudah bisa direalisasikan dengan mendirikan Institut Hukum dan Pembangunan Papua,” tegasnya.
Filep menekankan bahwa keberhasilan perguruan tinggi kini tidak lagi diukur dari jumlah sarjana yang diluluskan, tetapi dari seberapa banyak yang terserap di dunia kerja.
“Selama ini kita masih bergantung pada produk dari luar, termasuk kebutuhan rumah tangga dan mas kawin. Ke depan, kita ingin lulusan STIH bisa menciptakan industri rumahan berbasis kearifan lokal Papua,” katanya.
Prof. Dr. T. Ir. Paulus Wisnu Anggoro, S.T., M.T., IPU., dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menyebut bahwa inisiatif ini bertujuan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia Papua agar lebih siap bersaing di dunia kerja.
“Konsep ini berawal dari ilmu hukum. Untuk mendirikan institut, syaratnya harus memiliki minimal dua atau tiga program studi. Maka, kami menawarkan Ilmu Manajemen Teknologi, Ilmu Pemerintahan, dan Ilmu Komunikasi,” kata Prof. Paulus Wisnu.
Menurutnya, transformasi STIH menjadi institut akan berorientasi pada manajemen teknologi, komunikasi, dan ilmu pemerintahan dengan pendekatan sekolah vokasi.
“Pendidikan vokasi akan dikolaborasikan dengan pemerintah daerah agar biaya pendidikan lebih terjangkau bagi mahasiswa Papua,” ujarnya.
Paulus menambahkan bahwa Papua memiliki potensi besar dalam pengembangan industri berbasis budaya, seperti yang diterapkan di Bali.
“Selain teknologi yang terhubung ke industri, Papua juga memiliki potensi besar dalam sektor berbasis budaya. Mungkin kita bisa mengusulkan program studi yang mengintegrasikan manajemen teknologi dengan kearifan lokal Papua,” katanya. (*)





















Discussion about this post