Jayapura, Jubi – Malam itu, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Grup Mambesak, Rabu 5 Agustus 2026, kafe milik Yayasan Pembangunan Masyarakat Desa (YPMD) Papua, sedang menggelar Malam Seni Papua bersama enam turis asal Jepang yang berkunjung ke Kota Jayapura.
Mereka berkunjung dan melihat keindahaan alam Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura selama lima hari. Acara malam seni di kafe YPMD Papua, diisi anak-anak dari Grup Honong pimpinan Theo Yepese, dengan menampilkan tarian dan lagu.
Lagu karya Arnold C Ap berjudul, Nyanyian Sunyi membuka acara malam itu dilanjutkan dengan beberapa lagu daerah lainnya termasuk lagu asal Jepang Kokoronotomo, artinya teman dalam hati.
Tak lupa pula seniman muda Sanggar Budaya Grup Honong menyajikan tarian Pangkur Sagu, diakhiri tarian Yosim Pancar Bersama para turis asal Jepang.
“Mambesak artinya Cenderawasih dalam Bahasa Byak, sehingga nama ini menginspirasi untuk menjadikan satu kelompok kesenian yang Bernama Mambesak,” kata Theo Yepese mengawali acara malam seni malam itu.
Menurut Yepese, Grup Mambesak pimpinan Arnold Clemens Ap, lahir (didirikan) di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih pada 5 Agustus 1978.
Mambesak berkarya dengan menampikan budaya asli Papua lewat tari, cerita lucu (mop), kata dan irama. Mereka merasa terpanggil untuk harus bernanyi.
“Mereka bekerja sama dengan penyair alam, tua, muda, laki laki, perempuan dari kampung-kampung terpencil dan menghimpun lagu lagu rakyat yang berkembang di kampung-kampung,” ucapnya.
Katanya, karya seni dan lagu Mambesak pun tetap dikenang, dilestarikan serta menjadi milik semua orang di seluruh Tanah Papua hari lepas hari.
Theo Yepese yang merupakan tokoh seniman dan budaya Papua itu mengutip semboyan dari Mambesak, “Menyanyi untuk hidup dulu kini dan nanti.”
Lagu Nyanyian Sunyi yang dibawakan oleh puluhan seniman muda dari Sanggar Honong menggambarkan bahwa, Tanah Papua adalah “Surga yang terlantar yang penuh senyuman”.
Ini merupakan bagian dari lirik lagu Nyanyian Sunyi yang diciptakan oleh Arnold Clemens Ap pada 1980-an. Lagu ini menggambarkan kekayaan alam Tanah Papua yang luar biasa bagaikan surga.
Namun menyiratkan kepedihan dan ironi atas kondisi sosial serta marginalisasi masyarakatnya dengan proyek-proyek besar yang mengabaikan lingkungan hidup, masyarakat dan kerusakan lingkungan serta hilangnya keanekaragaman hayati kekayaan Tanah Papua. (*)


























Discussion about this post