Nabire, Jubi – Warga Kampung Napan, Distrik Napan, Kabupaten Nabire, Papua Tengah mempercayai keberadaan sebuah pohon keramat yang berusia satu abad lebih atau 110 tahun. Mereka percaya, pohon tersebut berpenghuni. Namanya Raja Sibah, penjaga kampung.
Secara kasat mata, pohon tersebut adalah pohon mangga. Tapi masyarakat meyakini juga sebagai pohon keramat, pohon persahabatan antar kampung dan antar pulau.
Pohon mangga keramat itu terletak di sebuah bukit kecil, di antara pemukiman warga Napan yang berasal dari Suku Kamiroki. Masyarakat menyebutnya “Bukit Asam.”
Batang pohon mangga itu cukup besar, seukuran 3 kali dari drum BBM 200 liter, dengan tinggi sekitar 30 meter. Dedaunan yang terlihat segar dan lebat, serta ranting-rantingnya bercabang banyak. Walau pohon itu dipenuhi benalu, namun hanya sedikit dahannya tampak kering kekuningan.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Tak jauh dari pohon keramat, sekira 50 meter, berdiri Patung Yesus yang memberkati pulau-pulau dan kampung-kampung sekitar. Patung Yesus adalah tugu peringatan masuknya Injil di kampung itu.
Menurut cerita nenek moyang orang Napan, marga Marei yang menanam pohon mangga itu pada kisaran tahun 1915. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Pohon mangga ditanam usai perang suku antara suku asli Kampung Napan dengan suku dari Wate atau yang disebut “Warga Tarung Gerei.”
“Pohon ini di tahun 2025 sudah berumur 110 tahun. Dia tanam ini untuk mempersatukan mereka, mempererat hubungan antara moyang mereka dengan orang-orang pendatang yang datang berburu dan mencari di lingkungan sekitar tempat ini, kampung kami tinggal ini, Kampung Napan,” katanya.
Feliks Peki Marei menuturkan, karena pohon ini umurnya sudah 110 tahun, jadi warga kampung ini menjaga.
“Jadi pohon ini memang ada rajanya [penunggu]. Raja yang tinggal di pohon ini namanya Sibah. Raja Sibah ini sewaktu waktu baru dia keluar. Jadi kalau ada orang yang punya kelebihan, bisa ketemu atau kalau tepat dengan dia punya waktu, dia ketemu warga, tapi dia baik,” ujar Feliks.

Feliks Peki Marei membeberkan kalau Raja Sibah adalah perempuan, namun warga menyebutnya raja, bukan ratu. Ia keluar menampakan diri pada malah hari. Masyarakat melihat, dan sewaktu-waktu bertemu, tapi tidak bisa mengganggu dia. Karena dia penjaga kampung dan pantai. Kalau ada masyarakat meminta sesuatu lewat Raja Sibah, biasa dikabulkan. Ia mengulas orang biasa menyembah dia, tapi hanya orang memiliki kemampuan spirirual.
“Artinya orang punya kekebalan, itu dia tahu. Dia kasih tahu orangnya, tapi khusus keluarga yang bisa itu keluarga besar Marei. Di luar dari itu tidak, karena itu khusus untuk keluarga. Saya tujuh turunan dari moyang Abraham Marei yang tanam pohon ini,” katanya.
Dewan Adat Kampung Napan, Anis Sayori juga mengakui kekeramatan pohon mangga tersebut. Ia mengatakan pohon mangga itu terlihat seperti mangga biasa. Dalam bahasa Napan mangga Dodu.
“Kalau bukan dia ada penghuni tidak mungkin dia segar seperti ini tapi karena dia ada penghuni. Jadi Mangga ini dua tinggal sampai sekarang masih kelihatan muda tidak kering sampai sekarang itu karena dia ada penghuni. Bukit ini tempat ini ada penghuni itu yang menjaga kampung ini,” ujarnya.
Anis Sayori membeberkan bahwa karena berpenghuni, pohon itu masih subur sampai saat ini. Tidak pernah tua, tidak pernah kering, dahan pun tidak ada yang kering juga. Saat musimnya, Mangga ini berbuah dengan sarat. Rasanya juga masnis.
“Ini mangga tertua yang menjadi bibit dari mangga ke pulau-pulau dan kampung-kampung lain. Bibit yang dikembang di kampung Napan, Weinami, Mosan dan Maspawa. Dia kalau berbuah semua orang datang, karena dia punya daging lebih enak dari pada yang di tanam di sekitar ini. Meski sumber bibit dari mangga besar ini tapi rasa lain, jadi semua mau datang kesini kalau musim buah. Mereka tahu musim buah jadi datang,” katanya.

Tua-tua kampung, Samuel Marei juga menambahkan. Sejak dirinya kecil, saat mangga itu berbuah, hasilnya dibagi-bagi ke orang-orang yang ada di sekitar kampung ini. Termasuk dalam himpunan ini orang Kamuki-Kamuki. Teman-teman, sahabat-sahabat dari pulau ini.
“Mereka ada di Pulau Mor, Arwi, Mambor Hariti, dan pulau-pulau lainnya. Dia bagi-bagi jadi setiap kali musim buah panen, mereka bagi-bagi sepuluh-sepuluh buah satu keluarga. Dengan begitu orang tua di kampung ini mau menjaga tanda persahabatan antara kampung-kampung ini dengan orang-orang adat yang ada di kampung ini,” ujarnya.
Tokoh adat Kampung Napan itu menjelaskan bahwa setiap kali mangga ini berbuah, berarti itu mengikatkan hubungan keluarga antara sahabat-sahabat yang ada di sekitar kampung ini. Jadi mereka datang, berhimpun sama-sama, makan sama-sama di tempat ini.
Makan Serdadu Jepang
Pada masa perang Pasifik, tulang belulang Serdadu Jepang yang meninggal di pulau ini, juga diletakkan di sana.
“Ada kuburan orang Jepang di atas pohon keramat ini. Moyang kami mengubur orang Jepang yang mati waktu itu. Ada empat orang,” kata Feliks Peki Marei.
Feliks juga adalah pewaris atau penjaga pohon keramat itu bercerita pada masa perang dunia kedua, pulau mereka juga menjadi tempat serdadu Jepang. Ketika sekutu bertempur dengan serdadu Jepang, ditemukan 4 serdadu yang mati, kemudian dimakamkan di bawah pohon ini.
“Kuburannya masih ada, tulang belulang juga masih ada. Kami jaga awasi, jaga tempat itu,” katanya.
Feliks berusia 67 tahun. Ia adalah keturunan ketujuh dari moyang Abraham Marei yang menanam pohon itu.
“Moyang kami yang selamatkan jenazah-jenazah itu kubur di situ. karena tidak mau tercecer sehingga diamankan satu tempat baru dikubur di situ. Jadi tempat supaya mana kalah ada orang bisa kasih tahu ceritanya,” ujarnya.
Dewan adat Napan, Anis membenarkan soal cerita makam serdadu Jepan di bawah pohon itu. Pohon mangga menjadi tanda supaya kehidupan anak cucu ini bisa cerita tentang sejarah tempat ini dan untuk daerah ini, karena ada masih ada bekas Bom waktu perang dunia.
“itu masih ada di sebelah gunung, jadi disini dulu pertahanan tentara jepang, Belanda atau sekutu Belanda sikat itu di sini hancur kelapa-kelapa, pinang pohon hancur karena peluru dan bom. Dan bekas-bekas itu masih ada sampai kita bisa melihat,” ujarnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




















Discussion about this post