Jayapura, Jubi – Asisten Menteri Kesehatan Fiji, Penioni Ravunawa, menyatakan negara itu berpotensi mencatat lebih dari 3.000 kasus HIV pada akhir tahun 2025.
Fiji sebelumnya telah mengumumkan wabah HIV pada Januari lalu. Ravunawa menyebut situasi tersebut sebagai “krisis nasional”.
“Pada tahun 2024, Fiji mencatat 1.583 kasus HIV baru—angka tertinggi dalam sejarah kami. Jumlah ini meningkat 13 kali lipat dari rata-rata lima tahun terakhir,” katanya, dikutip RNZ Pasifik oleh jubi.id, Senin (29/9/2025).
“Tahun ini saja, dalam lima bulan pertama, kami sudah mengonfirmasi lebih dari 800 kasus baru. Dengan laju seperti ini, pada Desember kasus bisa melampaui 3.000. Ini adalah krisis nasional, dan tidak akan melambat,” lanjutnya.
Ravunawa mengungkapkan, remaja berusia 10–19 tahun kini menyumbang 10 persen kasus baru, sebuah lonjakan hingga 45 kali lipat sejak 2022. Faktor risiko meliputi hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan narkoba, serta penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan.
Saat ini, lebih dari sepertiga orang dengan HIV di Fiji sedang menjalani perawatan. Namun, “banyak yang tidak pernah memulai pengobatan, dan hampir setengahnya hilang saat tindak lanjut,” kata Ravunawa.
Pada Juli lalu, Penasihat UNAIDS Pasifik, Renata Ram, menyatakan delapan anak meninggal akibat penyakit terkait HIV di Fiji sepanjang 2024. “Respons di Fiji tertinggal sekitar 15 tahun dari yang seharusnya,” ujarnya.
Menurut data resmi, 48 persen penularan HIV di Fiji terkait penggunaan narkoba suntik, sementara sekitar 40 persen melalui hubungan seksual. Ravunawa menegaskan penggunaan narkoba suntik kini menjadi ancaman besar yang belum tertangani.
“Seks bukan permainan” – Pejabat kesehatan PNG
Sementara itu, Papua Nugini (PNG) juga menghadapi peningkatan kasus HIV. Pemerintah bahkan mengumumkan krisis HIV nasional pada Juni lalu.
Penjabat Sekretaris Kesehatan PNG, Ken Wai, menekankan pentingnya pencegahan sebagai satu-satunya cara efektif untuk menekan penularan HIV.
Menurut laporan Post-Courier, data Kementerian Kesehatan PNG menunjukkan rata-rata 30 orang terinfeksi HIV setiap hari, termasuk tujuh bayi yang lahir dengan virus tersebut. Jumlah kasus baru tahunan melonjak dari 6.500 menjadi 11.000 kasus dalam setahun.
“Ada banyak faktor pendorong, mulai dari keterbatasan akses tes dan pengobatan hingga norma budaya dan sosial yang menimbulkan stigma serta ketakutan,” jelas Wai.
Ia mengingatkan kaum muda, “Seks bukanlah permainan dan bukan pula untuk coba-coba. Gunakan kondom untuk perlindungan, atau cara terbaik adalah tidak melakukan hubungan seks dengan banyak pasangan.”
PTM jadi sorotan di PBB
Di forum global, Presiden Federasi Mikronesia Wesley Simina menegaskan perlunya pembiayaan internasional untuk memperkuat sistem kesehatan Pasifik.
Berbicara di Majelis Umum PBB, Simina mengatakan penyakit tidak menular (PTM), penyakit menular, serta masalah kesehatan mental meningkat di Mikronesia.
“Kami berinvestasi dalam rehabilitasi klinik perawatan primer, pengembangan tenaga kesehatan, dan telehealth untuk melayani populasi paling rentan. Namun, dukungan finansial dan teknis dari komunitas internasional masih sangat diperlukan,” ujarnya.
Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Jeremiah Manele, juga menyebut PTM telah mencapai tingkat krisis di Pasifik.
“Di Kepulauan Solomon, 87 persen kematian terkait PTM. PTM juga menyumbang 84 persen pasien dewasa yang dirawat di rumah sakit, sehingga memberi beban besar pada sistem kesehatan,” katanya.(*)




















Discussion about this post