• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

Jangan tutup mata, permasalahan HIV/AIDS di Papua butuh aksi nyata

June 4, 2025
in Opini
Reading Time: 3 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Admin Jubi
HIV/AIDS

Kampanye pencegahan HIV/AIDS. - dok. Jubi

0
SHARES
153
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Oleh: Isadora Ravenska Lewaherilla

Ketika statistik menjadi ancaman nyata

Papua, dengan keindahan alamnya yang memukau dan kekayaan budaya yang beragam, kini menghadapi ancaman kesehatan yang serius. Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2023, Papua memiliki tingkat penderita HIV tertinggi di seluruh Indonesia, mencapai 2,3 persen dari total jumlah penduduk. Angka ini hampir 5 kali lebih tinggi dari rata-rata nasional yang hanya 0,5 persen.

Lebih mengkhawatirkan lagi, data terbaru dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua tahun 2025, mencatat 21.129 orang telah terinfeksi HIV/AIDS hingga Desember 2024, di 9 kabupaten dan kota di Provinsi Papua. Bayangkan, hal ini setara dengan penduduk satu kota kecil yang semuanya terjangkit penyakit mematikan ini.

Angka-angka di atas bukan hanya sekedar statistik. Ini adalah permasalahan nyata yang mengancam generasi Papua. Setiap hari, ada keluarga yang kehilangan anggotanya karena HIV/AIDS. Setiap hari, ada anak-anak yang lahir sudah membawa virus HIV dalam tubuhnya karena tertular oleh ibunya. Dan yang paling menyedihkan, banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa mereka sudah terinfeksi.

Permasalahan ini semakin parah karena penyebarannya seperti bola salju yang menggelinding semakin lama semakin besar. Satu orang yang terinfeksi, bisa menularkan ke pasangannya, pasangannya bisa menularkan ke orang lain, dan seterusnya. Tanpa aksi tegas, angka 21.129 ini bisa berlipat ganda dalam beberapa tahun ke depan.

Perilaku berisiko: Akar permasalahan yang harus diakui

BERITATERKAIT

Dinkes Kota Jayapura sosialisasi TBC dan HIV/AIDS bagi wartawan

Penanganan penyakit menular di Papua belum optimal, Gubernur Fakhiri minta dukungan Pusat

34 kasus HIV/AIDS baru tercatat di Kepulauan Solomon pada 2025

Plt Sekda Kabupaten Jayapura: Mitigasi HIV/AIDS penting

Penyebab utama tingginya kasus HIV/AIDS di Papua adalah perilaku seksual berisiko yang sudah mengakar dalam sebagian masyarakat. Mari kita bahas secara jujur.

Berganti-ganti pasangan seksual. Kebiasaan berhubungan seks dengan banyak pasangan menjadi jalan utama masuknya virus HIV. Sayangnya, praktik ini masih dianggap wajar oleh sebagian masyarakat.

Hubungan seks tanpa kondom, masih ada orang yang menganggap kondom tidak perlu atau bahkan tabu untuk dibicarakan. Padahal kondom adalah salah satu cara untuk mencegah penularan HIV. Selain itu orang yang mau membeli kondom terkadang merasa malu dan takut dikucilkan sehingga memutuskan untuk tidak memakai kondom sama sekali.

Penularan dari ibu ke bayi, ibu hamil yang terinfeksi HIV bisa menularkan virus ke bayinya saat hamil, melahirkan, atau menyusui. Tragisnya, banyak ibu tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV karena tidak memeriksakan diri.

Penggunaan jarum suntik bergantian, meski jumlahnya tidak sebanyak kasus penularan seksual, penggunaan jarum suntik bergantian (terutama untuk narkoba) juga menjadi jalur penularan HIV.

Dampak berlipat: Sosial, ekonomi, dan generasi

HIV/AIDS di Papua tidak hanya membunuh penderitanya, tapi juga menghancurkan kehidupan keluarga dan masyarakat secara keseluruhan. Penderita HIV/AIDS sering dijauhi bahkan oleh keluarga sendiri. Mereka kehilangan pekerjaan, dikucilkan dari masyarakat, dan hidup dalam ketakutan setiap hari. Stigma ini membuat banyak orang takut memeriksakan diri, sehingga penyakit semakin menyebar.

Ketika ada salah satu keluarga sakit HIV/AIDS, maka biaya pengobatan terus membengkak. Anak-anak yang lahir dengan HIV membutuhkan perawatan khusus dan mahal seumur hidup. Mereka juga bisa saja menjadi yatim piatu di usia dini, karena orang tuanya meninggal akibat AIDS. Bayangkan masa depan Papua jika generasi mudanya sudah terancam sejak lahir.

HIV/AIDS
Kampanye penanggulangan HIV-AIDS terus digalakkan di Papua Nugini. – Jubi/rnz.com

Saatnya Papua bangkit melawan HIV/AIDS

Pemerintah Papua sudah memiliki hukum yang menaungi pengendalian HIV/AIDS, seperti tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) No 8 tahun 2010 yang mengatur tentang Pengendalian dan Pencegahan HIV/AIDS. Namun, keberadaan regulasi ini belum mampu mengatasi tingginya angka penderita HIV/AIDS di Papua. Implementasi di lapangan masih jauh dari harapan, terlihat dari terus meningkatnya jumlah kasus HIV/AIDS setiap tahunnya.

Perda yang sudah berusia 15 tahun ini juga perlu dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi terkini, mengingat karakteristik penyebaran HIV/AIDS terus berkembang. Kurangnya sosialisasi yang efektif, minimnya anggaran untuk program pencegahan, serta lemahnya koordinasi antar instansi membuat regulasi ini seakan hanya menjadi macan kertas yang tidak memiliki dampak nyata di masyarakat.

Menghadapi masalah yang semakin serius ini, Pemerintah Papua harus bertindak cepat dan tepat. Tidak boleh hanya menunggu ada korban baru, tapi harus mencegah sejak awal. Semua pihak harus ikut terlibat, mulai dari tokoh adat, pemuka agama, sampai organisasi masyarakat. Untuk dapat keluar dari lingkaran stigma dan diskriminasi yang memperparah penyebaran HIV/AIDS, langkah advokasi dan rekomendasi kebijakan perlu segera diambil oleh Pemerintah Provinsi Papua. Dua hal yang utama yang perlu dilakukan diantaranya;
1. Perbaikan akses layanan kesehatan
Pemerintah harus memperhatikan ketersediaan obat ARV (antiretroviral) atau obat untuk menekan pertumbuhan virus HIV/AIDS di setiap puskesmas di seluruh wilayah Provinsi Papua, merupakan obat yang bisa memperpanjang hidup penderita HIV, yang harus tersedia gratis dan mudah diakses. Program kesehatan keliling dengan dokter dan perawat yang rutin mengunjungi kampung-kampung terpencil juga sangat dibutuhkan.

2. Edukasi dan penghapusan stigma
Masyarakat Papua harus diberi pemahaman yang benar tentang HIV/AIDS. Kampanye edukasi harus melibatkan tokoh adat, pendeta, dan pemimpin masyarakat agar pesan dapat diterima dengan baik. Yang paling penting, stigma terhadap penderita HIV/AIDS harus dihapus total. Penderita HIV/AIDS adalah manusia yang butuh bantuan, bukan musuh yang harus dijauhi.

Papua butuh aksi sekarang, bukan besok

Papua butuh tindakan sekarang. Permasalahan HIV/AIDS adalah tanggung jawab kita bersama. Setiap hari yang kita sia-siakan, semakin banyak nyawa yang terancam. Setiap bulan yang berlalu tanpa tindakan nyata, semakin banyak keluarga yang merasakan kehilangan. Papua memiliki potensi besar untuk bangkit dari permasalahan ini. Dengan komitmen kuat dari pemerintah, dukungan masyarakat dan edukasi yang tepat, kita bisa menekan penyebaran HIV/AIDS. Setiap orang Papua berhak hidup sehat dan bahagia. Mari bersama-sama menyelamatkan Papua dari ancaman HIV/AIDS. Papua yang sehat adalah Papua yang kuat. (*)
Penulis adalah Magister Kesehatan Masyarakat (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada.

Tags: butuh aksi nyataHIV-AIDSHIV/ AIDS di Papuajangan tutup matapermasalahanpermasalahan HIV/AIDS
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Sosialisasi

Dinkes Kota Jayapura sosialisasi TBC dan HIV/AIDS bagi wartawan

June 12, 2026
menular

Penanganan penyakit menular di Papua belum optimal, Gubernur Fakhiri minta dukungan Pusat

April 28, 2026

34 kasus HIV/AIDS baru tercatat di Kepulauan Solomon pada 2025

December 8, 2025

Plt Sekda Kabupaten Jayapura: Mitigasi HIV/AIDS penting

December 1, 2025

Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Jayapura capai 5.985 kasus

December 1, 2025

Cegah HIV AIDS, KPA Papua Tengah buat modul pembelajaran untuk sekolah

August 24, 2025

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara
23 October 2026
Papua rights group reports alleged military abuses in Tolikara

Jayapura, Jubi – The Papua Justice and Human Integrity Foundation (YKKMP) has reported alleged military sweeps, intimidation, interrogations and physical [...]

Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land
23 October 2026
Ateta clan boycotts Genting Oil activities on customary land

Jayapura, Jubi – The Ateta clan, an Indigenous customary law community of the Sumuri people in Teluk Bintuni Regency, West [...]

Klagilit clan demands accountability from coal mining companies
22 October 2026
Klagilit clan demands accountability from coal mining companies

Sorong, Jubi – The Indigenous Moi community’s Klagilit clan has called on PT Megapura Prima Industri (MPI) and PT Gelora [...]

Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  
22 October 2026
Papua children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua wins Global Peace and Friendship award  

Jayapura, Jubi – Indonesian children’s film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua has won the Global Peace and Friendship [...]

Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe
21 October 2026
Documentary Pesta Babi screened 17 times across Europe

Jayapura, Jubi – The documentary Pesta Babi (Pig Feast) – Colonialism in Our Time was screened 17 times across several [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Tambang emas Makimi

Berebut emas di Makimi, masyarakat adat dapat apa?

October 23, 2026
Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

Dinkes Papua Tengah upayakan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

October 23, 2026
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

October 23, 2026
Undang-undang Media Sosial Fiji

PM Fiji mempertimbangkan adanya undang-undang media sosial

October 23, 2026
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia memperdalam kemakmuran melalui kerja sama ekonomi

October 23, 2026
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

October 23, 2026
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

October 23, 2026
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

October 23, 2026
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

October 23, 2026
Pengembangan pertanian dan perikanan di Mamberamo Raya

Pemkab Mamberamo Raya jajaki kerja sama pengembangan pertanian dan perikanan

October 23, 2026
Pemkab siapkan lokasi bagi siswa SD Inpres Doyo

Pemkab siapkan lokasi belajar sementara bagi siswa SD Inpres Doyo Baru

October 22, 2026
Pemkab Jayapura lengkapi dokumen kerja

Pemkab Jayapura lengkapi dokumen kerja sama dengan PT Palma Pertiwi Makmur

October 22, 2026
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

October 23, 2026
YKKMP laporkan penyisiran dan penganiayaan

YKKMP laporkan penyisiran dan dugaan penganiayaan penyandang disabilitas di Tolikara

October 22, 2026
Tambang emas Makimi

Berebut emas di Makimi, masyarakat adat dapat apa?

0
Peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

Dinkes Papua Tengah upayakan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit

0
Pembakaran hutan

Warga mengecam dugaan pembakaran hutan di Distrik Libarek

0
Undang-undang Media Sosial Fiji

PM Fiji mempertimbangkan adanya undang-undang media sosial

0
Australia dan Indonesia

Australia dan Indonesia memperdalam kemakmuran melalui kerja sama ekonomi

0
El Nino terkuat

El Nino terkuat yang pernah tercatat

0
Ikan mati di Kepulauan Solomon

Puluhan ikan mati di sepanjang garis pantai Munda Kepulauan Solomon

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : [email protected]

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara