• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Indepth Story

Lapangan Berg En Dal, jejak kompetisi sepak bola Hollandia

Di balik kesunyiannya, Lapangan Berg En Dal menyimpan sejarah panjang sepak bola Tanah Papua.

June 18, 2026
in Indepth Story
Reading Time: 4 mins read
0
Penulis: Sudjarwo Husain - Editor: Syofiardi Bachyul Jb
Lapangan Berg en Dal

Dua klub kompetisi Hollandia hendak bertanding di Lapangan Berg En Dal. –Dok Nationaalarchief.nl

0
SHARES
244
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

Jayapura, Jubi – Suasana di kawasan lapangan sepak bola Berg En Dal di Argapura Minggu (14/6/2026) siang itu tampak sepi. Belum ada hiruk-pikuk orang bermain bola seperti yang terlihat pada waktu sore. Pintu pagarnya dibiarkan terbuka, seolah menyambut siapa saja yang hendak berolahraga.

Lapangan masih ditumbuhi rumput hijau, namun di beberapa sisi bercampur dengan rumput yang telah menguning. Sementara di beberapa titik permukaannya terlihat gundul, seakan menjadi penanda bahwa lapangan itu adalah ruang yang hidup, tempat anak-anak muda setempat dan sejumlah klub lokal menghabiskan peluh mengolah bola saban sore.

Tepat di balik salah satu tiang gawang, deretan rumah dengan atap seng berjejer rapat di kaki bukit, menciptakan latar belakang pemukiman padat yang khas.

Di balik kesunyiannya, Lapangan Berg En Dal menyimpan sejarah panjang sepak bola Tanah Papua. Pada zaman Belanda, lapangan ini sempat menjadi primadona dan tempat lahirnya sejumlah pesepakbola hebat dari Hollandia, nama Kota Jayapura di zaman Belanda.

Berawal dari lapangan bisbol

H.R. Steenhuizen, seorang warga Belanda yang pernah bermain untuk klub Sekolah Polisi di Hollandia pada 1946 dalam penuturannya di sebuah arsip koran berbahasa Belanda, menceritakan bahwa lapangan Berg En Dal adalah bekas lapangan bisbol yang dibangun oleh tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II.

“Saya ingin memberikan sedikit catatan kecil. Pada 1946, kami sudah bermain dalam ikatan kompetisi dengan sejumlah kecil klub, di antaranya SOP (Sekolah Pelatihan Penerjun Payung), KNIL, para OVW-ers, BASIS (Basis orang-orang, tenaga pengecualian dari Belanda), Dragon Hill (Pekerja kontrak dari Manado, Ambon, dan Ternate),” tuturnya.

Infografis Lapangan Berg En Dal

BERITATERKAIT

Tiada lapangan, Askab PSSI: Anak-anak tetap menaruh harapan ada masa depan sepak bola di Boven Digoel 

Michael Menufandu: Keseimbangan lingkungan kunci masa depan Kota Jayapura

Ia menceritakan Dragon Hill adalah sebuah kompleks barak di sebelah kiri atas Kloofkamp, tempat di mana saat itu juga Pengadilan Tinggi dan Sekolah Polisi dari Kepolisian Umum (7th Fleeth, kemudian berganti nama menjadi IFAR) bermarkas.

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

​Sekolah Polisi pada saat itu tidak terkalahkan, dengan diperkuat sejumlah pemain berbakat pada masa itu, seperti Janus Manuputty, Jos Trauerbach, Boelie van Coesvelt, Bert Wiggers, dan Henk van Leeuwen.

Orang-orang Belanda yang bermain sepak bola pada saat itu menamakan lapangan Berg En Dal dengan sebutan ‘Karang-Arena’ karena permukaannya yang putih krem akibat lapisan batu karang yang keras. Jaring gawangnya memanfaatkan jaring kamuflase militer, sementara garis lapangan dari kapur sering kali hilang saat hujan.

“Pertandingan-pertandingan dimainkan di ‘Karang-Arena’ di Berg en Dal. De Basis memiliki bekas lapangan Bisbol (tentara Amerika telah membangun sekitar sepuluh ‘lapangan’ seperti ini di dalam dan di sekitar Hollandia) yang diubah menjadi bidang putih yang sedikit menyerupai lapangan sepak bola, karena adanya gawang yang lengkap dengan jaring kamuflase tentara dan hampir tidak dapat dibedakan dari garis kapur,” katanya.

Kondisi lapangan yang sempit dituturkan Steenhuizen membuat para pemain sering mengalami cedera karena menabrak batas luar lapangan yang merupakan dinding karang dan hutan sagu.

​”Ketika Anda menyerbu ke gawang Timur dan Anda tahu bahwa Anda tidak dapat menahan kecepatan, Anda akan langsung menabrak dinding batu putih/krem tersebut. Gawang Barat kurang berbahaya namun lebih penuh petualangan, Anda akan mendarat di antara lientah (lintah) dan Anda bisa langsung mulai memukul sagu,” tulis Steenhuizen.

Karena rutin digunakan sebagai arena untuk menggelar kompetisi lokal, Steenhuizen mengungkapkan pengelola kompetisi akhirnya memperluas ukuran Karang-Arena pada akhir 1947 untuk mengurangi risiko pemain menabrak dinding batu atau jatuh ke rawa lintah.

“Terlepas dari semua rintangan itu, kami telah menghabiskan sore yang sangat menyenangkan dan sportif di ‘Karang-Arena’. Akhir 1947, Karang-Arena diperbesar, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan hidung berdarah atau konfrontasi yang kurang menyenangkan dengan Lientah menjadi berkurang,” sebutnya.

Di antara gunung dan lembah

Berg En Dal adalah penamaan dari bahasa Belanda, yang artinya ‘Gunung dan Lembah’, karena letak lapangan ini memang berada di lembah dan dikelilingi perbukitan.

Yafet Sibi, mantan pemain Persipura era 1970-an, menceritakan bahwa pusat kompetisi sepak bola lokal pada tempo dulu berada di Lapangan Argapura atau yang lebih dikenal dengan nama Berg en Dal.

Sewaktu kecil, ia masih sempat melihat para pemain berkiprah di kompetisi Voetbal Bond Hollandia (VBH) yang berlangsung di Lapangan Berg En Dal.

​”Pembukaan kompetisinya waktu zaman itu di Jayapura, cuma lapangan Argapura saja, Berg En Dal. Berg En Dal itu diambil dari bahasa Belanda, artinya ‘Gunung dan Lembah’. Jadi kiri-kanan gunung, lembahnya dibuat lapangan. Dan satu-satunya itu rumputnya pun bagus, tidak bisa anak-anak main sembarang, itu dijaga,” kata Yafet Sibi.

​Meski memiliki kualitas rumput yang baik, posisi lapangan ini sangat terbatas karena berbatasan langsung dengan alam sekitar.

Lapangan Berg En Dal
Suasana Lapangan Berg En Dal saat ini. –Jubi/Sudjarwo Husain

​”Kiri-kanan gunung, terus rawa. Rawanya itu rawa sagu,” ujar Yafet.

Mantan Wali Kota Jayapura yang juga Ketua PSSI Papua, Benhur Tomi Mano pernah mengatakan bahwa Lapangan Berg En Dal adalah tempat bersejarah yang melahirkan banyak talenta-talenta hebat sejak masa lampau. Mulai dari Barnabas Youwe, Gaspar Sibi, hingga era Yafet Sibi.

“Lapangan ini punya sejarah bagi Kota Jayapura. Dari lapangan ini sudah banyak melahirkan pemain terkenal yang kemudian bermain di Persipura. Persipura juga berjaya karena adanya lapangan ini, karena ada pemain-pemain dari sini,” kata Tomi Mano.

Voetbal Bond Hollandia

Berg En Dal menjadi saksi kehebatan para pesepakbola lokal di Bumi Hollandia pada zaman Belanda. Ada dua kompetisi yang digelar pada periode 1950-an hingga 1960-an awal. Tapi yang paling familiar adalah Voetbal Bond Hollandia karena banyak memunculkan sejumlah talenta hebat.

Dari atas rumput Berg En Dal, lahir nama-nama para legenda yang dikenal hingga saat ini. Beberapa di antaranya adalah Daniel Hanasbey, Gaspar Sibi, Janus Manuputty, dan Hengky Heipon.

Dalam tulisannya, penulis sejarah sepak bola Hollandia, Hanggua Rudi Mebri mengulas tentang perjalanan kompetisi sepak bola di Hollandia pada zaman Belanda. Di mana pada masa itu, ada dua kompetisi yang digelar oleh dua federasi berbeda, yakni Voetbal Bond Hollandia (VBH) dan Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO).

Sejumlah bonden (klub-klub) yang berkiprah di  kompetisi VBH di antaranya KSM, Ajapo, SVC, dan tim lokal dari Hollandia dan sekitarnya. Lalu kompetisi VHO diikuti beberapa klub seperti WIK, POMS, HVC, EDO, Zeemacht, dan ZIGO.

“Pertandingan dilangsungkan atau dibagi menjadi tiga liga regional, pada tahun 1958 mulai digabung dua kompetisi atau federasi,” tulis Rudi Mebri.

Penyisihan kompetisi-kompetisi itu digelar pada tiga lapangan berbeda. Ada lapangan Juliana Hollandia Binnen (Trikora), Lapangan Karang Hamadi, dan Lapangan Sentani.

Lalu, kedua tim juara dari dua federasi itu akan saling bertemu di Lapangan Berg En Dal, yang memang disiapkan untuk para pemenang.

Yafet Sibi menuturkan, pada era kompetisi Hollandia, pertandingan tak hanya digelar di lapangan Berg en Dal, tapi juga ada Lapangan Hamadi yang terletak di dekat lokasi pendaratan pasukan Sekutu.

​”Lapangan resmi yang digunakan untuk kompetisi saat itu adalah Lapangan Berg En Dal di Argapura. Kalau Lapangan Hamadi, itu sebenarnya dibangun oleh Sekutu. Tugu pendaratannya ada di sebelah SD itu. Dulu kami sekolah masih sering jalan di bawah kapal-kapal pendaratan Sekutu (Landing Ship). Lapangan itu sudah ada sejak tahun 1958. Setelah Perang Dunia II berakhir, lapangan itu sudah jadi. Isinya pasir semua,” tutur Yafet.

Jauh setelahnya, pada saat menjelang perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2021, skuad sepak bola Papua di bawah asuhan Eduard Ivakdalam memusatkan latihan di lapangan Berg En Dal selama berbulan-bulan, hingga kemudian berhasil menggenggam medali emas untuk kontingen Papua. (*)

Tags: Berg En DalHolandialapangan sepak bolasejarah kota jayapurasejarah sepakbola
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Boven Digoel

Tiada lapangan, Askab PSSI: Anak-anak tetap menaruh harapan ada masa depan sepak bola di Boven Digoel 

March 7, 2024

Michael Menufandu: Keseimbangan lingkungan kunci masa depan Kota Jayapura

March 8, 2022

Discussion about this post

Survey Pembaca
Reader's Survey

English Story

Different approaches to Papua’s problems are blocking dialogue
29 September 2026
Different approaches to Papua’s problems are blocking dialogue

Jayapura, Jubi – Papuan political figure Laurenzus Kadepa says differences in perspectives have made it difficult to find the best [...]

The Legal and Human Rights Department of the Evangelical Church in Indonesia launches legal aid institute
29 September 2026
The Legal and Human Rights Department of the Evangelical Church in  Indonesia launches legal aid institute

Jayapura, Jubi – The Legal and Human Rights Department of the Evangelical Church in Indonesia (GIDI) has launched the GIDI [...]

Maybrat resident allegedly tortured at Marine post
28 September 2026
Maybrat resident allegedly tortured at Marine post

Sorong, Jubi – A resident of Wakom Village, East Aifat District, Maybrat Regency, Southwest Papua, identified as Wilem, also known [...]

YKKMP: Indonesia must address human rights concerns in Papua with evidence
28 September 2026
YKKMP: Indonesia must address human rights concerns in Papua with evidence

Jayapura, Jubi – The Papua Foundation for Justice and Human Integrity (YKKMP) says the Indonesian government should respond to allegations [...]

Farewell to two Papuan journalists, Joost Mirino and Hendrikus Ondi
26 September 2026
Farewell to two Papuan journalists, Joost Mirino and Hendrikus Ondi

Jayapura, Jubi – Papua has lost two journalists who studied at Satya Wacana Christian University in Salatiga, Central Java. Joost [...]

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Komisi Yudisial atau KY Papua

Penghubung KY Papua dorong masyarakat adat terlibat mengawasi integritas hakim

September 29, 2026
PNG

Strategi kakao di PNG: Menargetkan menciptakan lapangan kerja

September 29, 2026
PINA

Presiden PINA: Memperkuat ruang redaksi di wilayah Pasifik

September 29, 2026
PNG

Tiga bayi kembar prematur di pedalaman PNG meninggal sebelum bantuan tiba

September 29, 2026
praperadilan

Hakim kabulkan praperadilan: Penetapan tersangka Yonex Carter tidak sah

September 29, 2026
Sulitnya menyelesaikan masalah Papua

Perbedaan cara pandang penyebab sulitnya menyelesaikan masalah Papua

September 28, 2026
LBH GIDI

Departemen Hukum dan HAM GIDI luncurkan LBH GIDI

September 28, 2026
Kantor ICC

AS mengucapkan selamat kepada Naoero atas keputusan penarikan diri dari ICC

September 28, 2026
Pasifik

Para pemimpin Pasifik mendesak Jakarta mengizinkan kunjungan PBB ke Papua Barat

September 28, 2026
Pre-COP

Jelang Pre-COP: Masyarakat sipil Pasifik meluncurkan ‘seruan funafuti keadilan iklim’

September 28, 2026
LBH GIDI

Departemen Hukum dan HAM GIDI luncurkan LBH GIDI

September 28, 2026
Presiden Media PNG

Neville Choi, Presiden Media PNG, terpilih jadi Presiden PINA di Fiji

September 27, 2026
Pers bebas membutuhkan uang

Wakil Perdana Menteri Fiji: Pers bebas membutuhkan uang

September 27, 2026
Warga Maybrat disiksa Marinir

Seorang warga Maybrat diduga disiksa di pos Marinir

September 28, 2026
Komisi Yudisial atau KY Papua

Penghubung KY Papua dorong masyarakat adat terlibat mengawasi integritas hakim

0
PNG

Strategi kakao di PNG: Menargetkan menciptakan lapangan kerja

0
PINA

Presiden PINA: Memperkuat ruang redaksi di wilayah Pasifik

0
PNG

Tiga bayi kembar prematur di pedalaman PNG meninggal sebelum bantuan tiba

0
praperadilan

Hakim kabulkan praperadilan: Penetapan tersangka Yonex Carter tidak sah

0
Sulitnya menyelesaikan masalah Papua

Perbedaan cara pandang penyebab sulitnya menyelesaikan masalah Papua

0
LBH GIDI

Departemen Hukum dan HAM GIDI luncurkan LBH GIDI

0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara