Jayapura, Jubi – Suasana di kawasan lapangan sepak bola Berg En Dal di Argapura Minggu (14/6/2026) siang itu tampak sepi. Belum ada hiruk-pikuk orang bermain bola seperti yang terlihat pada waktu sore. Pintu pagarnya dibiarkan terbuka, seolah menyambut siapa saja yang hendak berolahraga.
Lapangan masih ditumbuhi rumput hijau, namun di beberapa sisi bercampur dengan rumput yang telah menguning. Sementara di beberapa titik permukaannya terlihat gundul, seakan menjadi penanda bahwa lapangan itu adalah ruang yang hidup, tempat anak-anak muda setempat dan sejumlah klub lokal menghabiskan peluh mengolah bola saban sore.
Tepat di balik salah satu tiang gawang, deretan rumah dengan atap seng berjejer rapat di kaki bukit, menciptakan latar belakang pemukiman padat yang khas.
Di balik kesunyiannya, Lapangan Berg En Dal menyimpan sejarah panjang sepak bola Tanah Papua. Pada zaman Belanda, lapangan ini sempat menjadi primadona dan tempat lahirnya sejumlah pesepakbola hebat dari Hollandia, nama Kota Jayapura di zaman Belanda.
Berawal dari lapangan bisbol
H.R. Steenhuizen, seorang warga Belanda yang pernah bermain untuk klub Sekolah Polisi di Hollandia pada 1946 dalam penuturannya di sebuah arsip koran berbahasa Belanda, menceritakan bahwa lapangan Berg En Dal adalah bekas lapangan bisbol yang dibangun oleh tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II.
“Saya ingin memberikan sedikit catatan kecil. Pada 1946, kami sudah bermain dalam ikatan kompetisi dengan sejumlah kecil klub, di antaranya SOP (Sekolah Pelatihan Penerjun Payung), KNIL, para OVW-ers, BASIS (Basis orang-orang, tenaga pengecualian dari Belanda), Dragon Hill (Pekerja kontrak dari Manado, Ambon, dan Ternate),” tuturnya.

Ia menceritakan Dragon Hill adalah sebuah kompleks barak di sebelah kiri atas Kloofkamp, tempat di mana saat itu juga Pengadilan Tinggi dan Sekolah Polisi dari Kepolisian Umum (7th Fleeth, kemudian berganti nama menjadi IFAR) bermarkas.
Sekolah Polisi pada saat itu tidak terkalahkan, dengan diperkuat sejumlah pemain berbakat pada masa itu, seperti Janus Manuputty, Jos Trauerbach, Boelie van Coesvelt, Bert Wiggers, dan Henk van Leeuwen.
Orang-orang Belanda yang bermain sepak bola pada saat itu menamakan lapangan Berg En Dal dengan sebutan ‘Karang-Arena’ karena permukaannya yang putih krem akibat lapisan batu karang yang keras. Jaring gawangnya memanfaatkan jaring kamuflase militer, sementara garis lapangan dari kapur sering kali hilang saat hujan.
“Pertandingan-pertandingan dimainkan di ‘Karang-Arena’ di Berg en Dal. De Basis memiliki bekas lapangan Bisbol (tentara Amerika telah membangun sekitar sepuluh ‘lapangan’ seperti ini di dalam dan di sekitar Hollandia) yang diubah menjadi bidang putih yang sedikit menyerupai lapangan sepak bola, karena adanya gawang yang lengkap dengan jaring kamuflase tentara dan hampir tidak dapat dibedakan dari garis kapur,” katanya.
Kondisi lapangan yang sempit dituturkan Steenhuizen membuat para pemain sering mengalami cedera karena menabrak batas luar lapangan yang merupakan dinding karang dan hutan sagu.
”Ketika Anda menyerbu ke gawang Timur dan Anda tahu bahwa Anda tidak dapat menahan kecepatan, Anda akan langsung menabrak dinding batu putih/krem tersebut. Gawang Barat kurang berbahaya namun lebih penuh petualangan, Anda akan mendarat di antara lientah (lintah) dan Anda bisa langsung mulai memukul sagu,” tulis Steenhuizen.
Karena rutin digunakan sebagai arena untuk menggelar kompetisi lokal, Steenhuizen mengungkapkan pengelola kompetisi akhirnya memperluas ukuran Karang-Arena pada akhir 1947 untuk mengurangi risiko pemain menabrak dinding batu atau jatuh ke rawa lintah.
“Terlepas dari semua rintangan itu, kami telah menghabiskan sore yang sangat menyenangkan dan sportif di ‘Karang-Arena’. Akhir 1947, Karang-Arena diperbesar, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan hidung berdarah atau konfrontasi yang kurang menyenangkan dengan Lientah menjadi berkurang,” sebutnya.
Di antara gunung dan lembah
Berg En Dal adalah penamaan dari bahasa Belanda, yang artinya ‘Gunung dan Lembah’, karena letak lapangan ini memang berada di lembah dan dikelilingi perbukitan.
Yafet Sibi, mantan pemain Persipura era 1970-an, menceritakan bahwa pusat kompetisi sepak bola lokal pada tempo dulu berada di Lapangan Argapura atau yang lebih dikenal dengan nama Berg en Dal.
Sewaktu kecil, ia masih sempat melihat para pemain berkiprah di kompetisi Voetbal Bond Hollandia (VBH) yang berlangsung di Lapangan Berg En Dal.
”Pembukaan kompetisinya waktu zaman itu di Jayapura, cuma lapangan Argapura saja, Berg En Dal. Berg En Dal itu diambil dari bahasa Belanda, artinya ‘Gunung dan Lembah’. Jadi kiri-kanan gunung, lembahnya dibuat lapangan. Dan satu-satunya itu rumputnya pun bagus, tidak bisa anak-anak main sembarang, itu dijaga,” kata Yafet Sibi.
Meski memiliki kualitas rumput yang baik, posisi lapangan ini sangat terbatas karena berbatasan langsung dengan alam sekitar.

”Kiri-kanan gunung, terus rawa. Rawanya itu rawa sagu,” ujar Yafet.
Mantan Wali Kota Jayapura yang juga Ketua PSSI Papua, Benhur Tomi Mano pernah mengatakan bahwa Lapangan Berg En Dal adalah tempat bersejarah yang melahirkan banyak talenta-talenta hebat sejak masa lampau. Mulai dari Barnabas Youwe, Gaspar Sibi, hingga era Yafet Sibi.
“Lapangan ini punya sejarah bagi Kota Jayapura. Dari lapangan ini sudah banyak melahirkan pemain terkenal yang kemudian bermain di Persipura. Persipura juga berjaya karena adanya lapangan ini, karena ada pemain-pemain dari sini,” kata Tomi Mano.
Voetbal Bond Hollandia
Berg En Dal menjadi saksi kehebatan para pesepakbola lokal di Bumi Hollandia pada zaman Belanda. Ada dua kompetisi yang digelar pada periode 1950-an hingga 1960-an awal. Tapi yang paling familiar adalah Voetbal Bond Hollandia karena banyak memunculkan sejumlah talenta hebat.
Dari atas rumput Berg En Dal, lahir nama-nama para legenda yang dikenal hingga saat ini. Beberapa di antaranya adalah Daniel Hanasbey, Gaspar Sibi, Janus Manuputty, dan Hengky Heipon.
Dalam tulisannya, penulis sejarah sepak bola Hollandia, Hanggua Rudi Mebri mengulas tentang perjalanan kompetisi sepak bola di Hollandia pada zaman Belanda. Di mana pada masa itu, ada dua kompetisi yang digelar oleh dua federasi berbeda, yakni Voetbal Bond Hollandia (VBH) dan Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO).
Sejumlah bonden (klub-klub) yang berkiprah di kompetisi VBH di antaranya KSM, Ajapo, SVC, dan tim lokal dari Hollandia dan sekitarnya. Lalu kompetisi VHO diikuti beberapa klub seperti WIK, POMS, HVC, EDO, Zeemacht, dan ZIGO.
“Pertandingan dilangsungkan atau dibagi menjadi tiga liga regional, pada tahun 1958 mulai digabung dua kompetisi atau federasi,” tulis Rudi Mebri.
Penyisihan kompetisi-kompetisi itu digelar pada tiga lapangan berbeda. Ada lapangan Juliana Hollandia Binnen (Trikora), Lapangan Karang Hamadi, dan Lapangan Sentani.
Lalu, kedua tim juara dari dua federasi itu akan saling bertemu di Lapangan Berg En Dal, yang memang disiapkan untuk para pemenang.
Yafet Sibi menuturkan, pada era kompetisi Hollandia, pertandingan tak hanya digelar di lapangan Berg en Dal, tapi juga ada Lapangan Hamadi yang terletak di dekat lokasi pendaratan pasukan Sekutu.
”Lapangan resmi yang digunakan untuk kompetisi saat itu adalah Lapangan Berg En Dal di Argapura. Kalau Lapangan Hamadi, itu sebenarnya dibangun oleh Sekutu. Tugu pendaratannya ada di sebelah SD itu. Dulu kami sekolah masih sering jalan di bawah kapal-kapal pendaratan Sekutu (Landing Ship). Lapangan itu sudah ada sejak tahun 1958. Setelah Perang Dunia II berakhir, lapangan itu sudah jadi. Isinya pasir semua,” tutur Yafet.
Jauh setelahnya, pada saat menjelang perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX tahun 2021, skuad sepak bola Papua di bawah asuhan Eduard Ivakdalam memusatkan latihan di lapangan Berg En Dal selama berbulan-bulan, hingga kemudian berhasil menggenggam medali emas untuk kontingen Papua. (*)




Discussion about this post