Sentani, Jubi – Yos Martha Okoseray, pelajar SMK Negeri 5 Penerbangan Waibu, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua mengaku bangga bisa menjadi pembawa baki bendera merah putih, saat upacara peringatan hari ulang tahun atau HUT kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-80 tahun di Kabupaten Jayapura pada 17 Agustus 2025.
Martha, sapaan akrabnya, yang hobi membaca berasal dari Kampung Yongsu Spari, Kabupaten Jayapura dan merupakan putri dari alm. Eduard Alberth Okoseray dan Martince Trapen.
Menurutnya, ia melakukan persiapan dan latihan selama empat bulan.
“Tadi agak grogi sedikit, tapi puji Tuhan bisa menjalankan tugas dengan baik,” kata Martha yang sejak kecil bercita-cita menjadi polisi wanita.
Bagi Martha, peringatan HUT RI merupakan momentum mengenang para pahlawan yang rela berkorban dan gugur di medan perang demi merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Ia pun berpesan agar para generasi muda terus menjaga semangat kemerdekaan Bangsa Indonesia.
“Untuk teman-teman, semoga tahun depan bisa [ambil bagian] menjadi pengibar bendera merah putih, karena kita adalah pemuda-pemudi generasi penerus bangsa kita. Jangan ragu untuk terus belajar,” kata pelajar jurusan Airframe and Powerplant
Ariance Ajollo (49 tahun) yang merupakan orang tua asuh Yos Martha Okoseray semenjak di bangku SMK mengaku bangga bisa melihat Martha sukses menjalankan tugasnya sebagai pembawa baki saat pengibaran bendera merah putih pada upacara HUT RI ke-80 tahun.
“Itu suatu perjuangan yang biasa dari anak kami, Yos Martha Okoseray. Kami sebagai orang tua sangat mendukung dan terus memberikan motivasi. Dia bisa jadi pembawa baki itu hingga bendera berkibar itu, satu kebanggan bagi saya,” kata Ariance Ajollo.
Ajollo mengungkapkan rasa haru dan bangga berulang kali, hingga menyembunyikan tangisannya di antara perwakilan orang tua lainnya, yang juga bangga menyaksikan anak mereka.
“Mungkin saya rasa sedih, tapi saya tidak bisa menangis di sini. Hati saya ini mungkin menangis karena di sekeliling saya banyak yang buat saya bangga. Saya bersyukur buat Tuhan karena sesuatu yang luar biasa yang di dalam hati saya. Terima kasih banyak buat semuanya dan terima kasih buat semua dukungan doa dari semua yang sudah melatih mereka,” ucapnya.
Ajollo menceritakan keseharian Martha untuk menempuh pendidikan di sekolah penerbangan, yang harus jauh dari kampung halamannya, Yongsu Spari.
Katanya, Martha adalah anak yang disiplin, untuk ke sekolah Martha mesti menggunakan jasa ojek. Akan tetapi jika terkendala biaya, Martha harus berjalan kaki satu jam lebih.
“Martha ini, saya punya anak piara di rumah. Semenjak masuk kelas satu, dia harus pindah dan tinggal dengan saya di rumah, di Doyo Lama, karena rumahnya dengan sekolah penerbangan terlalu jauhnya,” ucapnya.
“Saya bilang, mama tidak [bisa] memberikan apa-apa, tapi mama cuma bisa berdoa untuk ke depan yang lebih baik,” katanya lagi. (*)






















Discussion about this post