Jayapura, Jubi – Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia atau KPK RI melalui Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) menggelar menonton bareng film yang berjudul “Nyanyi sunyi Dalam Rantang” di Kota Jayapura, Papua Kamis (17/7/2025).
Film ini membawa pesan bahwa korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, juga pelanggaran terhadap kemanusiaan dan kehidupan masyarakat.
Kota Jayapura dipilih sebagai lokasi kedua nonton bareng, setelah Yogyakarta sebagai titik awal roadshow pemutaran film selama beberapa bulan kedepan.
Film ini diinisiasi oleh Stranas PK bekerja sama dengan GIZ, sebagai mitra pembangunan yang telah lama mendampingi Papua dalam berbagai inisiatif reformasi tata kelola, termasuk di sektor sumber daya alam dan pelayanan publik.
Koordinator Harian Stranas PK, Sari Angraeni, mengatakan acara itu juga berkolaborasi dengan Direktorat Koordinasi dan Supervisi Wilayah V Komisi Pemberantasan Korupsi atau (Korsup Wilayah V KPK) dengan menghadirkan sejumlah organisasi perangkat Daerah atau OPD Provinsi Papua
Acara itu menjadi bagian dari pelaksanaan ACFEST Regional Indonesia Timur dari Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi atau (Soskam), yang mengusung tajuk Papua Menonton.
Sari Angraeni mengatakan, kehadiran Soskam dan Korsup Wilayah V dari KPK dalam kegiatan ini mempertegas kolaborasi lintas pendekatan, antara strategi kampanye budaya dan supervisi teknokratik kelembagaan.
Selain pemutaran di bioskop, kegiatan roadshow ini juga mencakup talkshow di Radio RRI Jayapura, special screening dan diskusi kampus di UNCEN.
Menurutnya, dipilihnya Jayapura sebagai kota pertama di luar Pulau Jawa merupakan simbol komitmen untuk menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini berada di pinggiran narasi kebijakan nasional.
“Papua bukan hanya lokasi geografis, tetapi juga ruang penting bagi pembaruan tata kelola yang lebih adil dan partisipatif. Pemutaran film yang mengangkat kisah nyata perjuangan warga menghadapi ketidakadilan struktural akibat praktik korupsi ini juga mengundang civitas akedemika di Jayapura dan Forum Penggerak Anti Korupsi Papua/ FORPAK,” kata Sari Angraeni.
Katanya, film “Nyanyi Sunyi dalam Rantang” terinspirasi dari empat kasus nyata, dan menampilkan sosok Puspa Della Dartyan, seorang perempuan yang memilih melawan ketika keadilan tidak berpihak pada mereka yang lemah.
“Papua adalah suara yang perlu didengar, bukan sebagai objek pembangunan, akan tapi sebagai penggerak perubahan melalui film ini, kami ingin menunjukkan bahwa perjuangan melawan korupsi bukan hanya urusan Jakarta, tapi juga bagian dari denyut nadi Papua,” ujarnya.
Pemutaran film “Nyanyi Sunyi dalam Rantang” akan berlanjut ke kota-kota strategis lain seperti Pekanbaru dan Balikpapan, sebagai bagian dari rangkaian Aksi Pencegahan Korupsi 2025–2026.
Film ini bukan hanya produk budaya, tetapi alat pendidikan publik untuk menyuarakan nilai integritas dan membangun ekosistem antikorupsi yang berkelanjutan. (*)






















Discussion about this post