Intan Jaya, kabupaten dengan pembunuhan OAP oleh pasukan keamanan Indonesia tertinggi

Dia menyaksikan pasukan keamanan memukuli (OAP) di hadapan masyarakat di sebuah desa di Kabupaten Intan Jaya beberapa bulan setelah OPM membunuh tiga pengemudi ojek

Pasukan keamanan
Masyarakat Intan Jaya melakukan protes atas peristiwa kekerasan yang terjadi terus menerus - IST

Jayapura, Jubi – Amnesty International menemukan bahwa Kabupaten Intan Jaya merupakan kabupaten dengan jumlah kasus dugaan pembunuhan di luar hukum tertinggi oleh pasukan keamanan Indonesia di seluruh Papua sepanjang 2020 dan 2021.

Amnesty International mendokumentasikan 8 kasus dengan 12 korban dugaan pembunuhan di luar hukum yang dilakukan oleh anggota pasukan keamanan Indonesia di Kabupaten Intan Jaya pada tahun 2020 dan 2021. 12 korban tersebut merepresentasikan lebih dari seperempat (27%) dari total jumlah korban dugaan pembunuhan di luar hukum oleh aparat keamanan di provinsi Papua dan Papua Barat yang didokumentasikan oleh Amnesty International pada periode yang sama. Amnesty International tidak mendokumentasikan adanya pembunuhan di luar hukum yang dilakukan oleh anggota pasukan keamanan Indonesia di Kabupaten Intan Jaya dalam dua tahun sebelumnya (2018 dan 2019).

Kasus dugaan pembunuhan di luar hukum di Kabupaten Intan Jaya termasuk pembunuhan dua bersaudara Apianus dan Luther Zanambani, pembunuhan Pendeta Zanambani, dan pembunuhan tiga bersaudara di klinik kesehatan setempat.

banner 400x130

Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid mengatakan Orang Asli Papua (OAP) di Intan Jaya menyampaikan kepada Amnesty International bahwa anggota pasukan keamanan Indonesia melakukan penggerebekan di desa-desa dan rumah-rumah. Mereka menjelaskan bahwa penggerebekan sering terjadi setelah baku tembak antara OPM dan pasukan keamanan Indonesia, terutama ketika baku tembak tersebut mengakibatkan jatuhnya korban di antara anggota pasukan keamanan.

“Mereka menambahkan bahwa selama penggerebekan ini, anggota pasukan keamanan Indonesia memukul dan mengancam penduduk setempat,” kata Usman Hamid saat menyerahkan laporan “Perburuan Emas” kepada Gubernur Papua akhir Mei lalu.

Yahya, seorang penduduk setempat, dalam laporan Perburuan Emas tersebut mengatakan kepada Amnesty International bahwa dia menyaksikan anggota pasukan keamanan memukuli warga setelah baku tembak antara pasukan keamanan Indonesia dan OPM di satu desa di Kabupaten Intan Jaya pada awal tahun 2021.

“Tentara dan Polisi Indonesia datang dari markas militer ke desa kami. Kemudian mereka mulai bertanya kepada orang-orang tentang di mana OPM berada. Orang-orang berkata, ‘kami tidak tahu, kami hanya orang biasa’. Saya melihat mereka memukuli dua pria tua dan seorang wanita. Setelah itu, penduduk setempat mengungsi dari desa, meninggalkan rumah, ternak, kebun, dan harta benda lainnya,” kata Yahya.

Seorang warga Intan Jaya lainnya bernama Jimiyo mengatakan kepada Amnesty International bahwa dia menyaksikan pasukan keamanan memukuli (OAP) di hadapan masyarakat di sebuah desa di Kabupaten Intan Jaya beberapa bulan setelah OPM membunuh tiga pengemudi ojek.

“Mereka menduga dia adalah anggota OPM yang mendanai, menyediakan makanan dan informasi tentang tentara Indonesia kepada OPM. Kami diperintahkan untuk berkumpul dan kemudian mereka menyiksanya di hadapan kami. Mereka memerintahkan agar pakaiannya dilepas, rambut dan janggutnya dicukur dengan paksa, dan mereka memukulinya dengan popor senapan,” kata Jimiyo. (*)

Comments Box

Dapatkan update berita terbaru setiap hari dari News Room Jubi. Mari bergabung di Grup Telegram “News Room Jubi” dengan cara klik link https://t.me/jubipapua , lalu join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
banner 400x130    banner 400x130
banner 728x250