Jayapura, Jubi – Warga Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Petronela Merauje, memanfaatkan potensi hutan mangrove untuk membuka usaha mikro kecil menengah atau UMKM dengan memanfaatkan buah pedada atau Sonneratia caseolaris yang banyak ditemukan di hutan mangrove.
Ada seluas delapan hektare hutan mangrove tumbuh di Hutan Perempuan di Kampung Enggros, begitu nama kawasan itu disebut masyarakat Kampung Enggros dan Kampung Tobati. Di sana tumbuh berbagai jenis pohon mangrove salah satunya, pohon pedada (Sonneratia caseolaris), yang dimanfaatkan buahnya sebagai bahan dasar es krim oleh Merauje.
Petronela Merauje mengatakan, ide membuka usaha es krim buah pedada muncul ketika melihat buah pedada banyak dikonsumsi warga setempat. Sumbernya melimpah. Melihat potensi itu, muncul ide kreatifnya memanfaatkan buah pedada sebagai bahan dasar makanan olahan rumahan.
Merauje sendiri merupakan seorang aktivis lingkungan sekaligus tokoh perempuan Enggros. Selama 13 tahun ia mengabdikan dirinya merawat dan membersihkan hutan mangrove (hutan perempuan) dari berbagai sampah yang mengancam lingkungan sekitarnya. Pengalamannya sehari-hari menyusuri hutan itu telah melekatkan rasa cintanya terhadap hutan yang juga menjadi sumber ekonominya.
“Saya sudah jaga [hutan] mangrove, saya tanam sejak tahun 2011 sampai sekarang [tahun 2024]. Selain melestarikan mangrove itu, saya coba untuk manfaatkan buahnya menjadi sesuatu. Pertama kali saya coba ambil buah [pedada] itu bikin sirup, selain itu saya bikin selai roti. Selain saya ada warga lain yang juga coba bikin agar-agar dan dodol tapi belum ada yang coba bikin es krim, akhirnya saya coba bikin dari buah Pedada juga,” kata Merauje saat diwawancara Jubi di rumahnya di Kampung Enggros, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua pada senin (11/11/2024).
Merauje merinci, tahapan membuat es krim, langkah awal adalah mengambil buah pedada sebanyak satu karung (25 kilogram). Buah pedada dikuliti, direndam selama 20 menit pada air panas mendidih untuk menghilangkan getah.
Kemudian, buah pedada yang direndam, ditiriskan. Setelah dingin buah itu dibelah-belah untuk dihaluskan oakai blender.
“Tahap berikutnya adalah disaring untuk memisahkan sari buah Pedada dan airnya. Untuk sari buah untuk diproses menjadi selai roti, airnya yang disebut sirup yang kemudian diolah menjadi es krim,” Katanya.
Menurut Merauje, buah Pedada cocok dijadikan bahan dasar karena unik dan langka dan belum pernah digunakan pengusaha lain untuk membuat es krim. Secara otodidak, Merauje mengolah dan menciptakan resep pembuatan es krim dan mengemasnya pada kemasan dengan berbagai ukuran.

“Awalnya saya belajar dari tutorial di youtube,” katanya. Setelah mengetahui bahan-bahan yang harus dipakai, Ia mulai menyiapkan bahan-bahannya.
“Detail resepnya saya rahasiakan ya, tapi, kalau bahan-bahannya yang saya gunakan, tentunya ekstrak buah mangrove [pedada] yang sudah jadi sirup, air masak mendidih, tepung maizena, susu kental manis, dan susu bubuk, semua bahan itu dicampurkan saat air yang dimasak sedang mendidih di tungku atau kompor,” tuturnya.
Setelah semua campuran diaduk hingga merata, adonan es krim buah pedada kemudian didiamkan di dalam lemari es (freezer) selama delapan jam. Setelah membeku, adonan dikeluarkan untuk diolah menggunakan alat mikser untuk ditambahkan pewarna makanan sesuai varian rasa yang diinginkan.
“Kalau warna coklat saya tambahkan pewarna coklat, begitu juga kuning dan warna lainnya tapi rasanya tetap rasa mangrove. Setelah adonannya dimixer, masukan ke dalam tempat kemasannya sesuai ukuran yang saya mau, kemudian dimasukan kembali ke freezer selama delapan jam, jadi proses itu biasanya bikin selama dua hari,” katanya.
Usahanya itu juga telah didaftarkan ke Badan Pengawasan Makanan dan Obat (BPOM) Provinsi Papua, Nomor Induk Berusaha (NIB). “Untuk hak cipta, rahasia dagang dan halal baru saya urus, masih tunggu suratnya dikeluarkan,” .
“Untuk pasarnya, saya pasarkan dari rumah secara online, jual di kegiatan-kegiatan Festival, dan juga saya titipkan di Rumah Oleh-oleh Papua milik Kehutanan Papua di Lingkaran Abe. Harganya bervariasi dari Rp3,000 sampai Rp20,000 tergantung ukuran kemasannya,” katanya lagi
Seorang warga Kampung Enggros, Mila Semra mengatakan, buah pedada punya rasa yang mirip buah markisa. Selain dibuat sirup, selai dan ice cream, buah pedada sendiri biasanya diolah menjadi jenis makanan lain seperti puding dan permen. (*)




Discussion about this post