Sorong, Jubi – Malam di sekitar Kompleks Masjid Raya, Kota Sorong, selalu riuh. Sejak pukul 18.00 WP, deretan warung tenda di emperan Bukit Barisan mulai dipadati pengunjung. Mie ayam, lalapan, nasi goreng, hingga kafe mini menyala di bawah lampu seadanya orang orang lalu lalang, kendaraan keluar masuk, dan suasana nongkrong menjadi pemandangan rutin kota minyak itu.
Namun, di balik hiruk pikuk tersebut, ada satu potret kehidupan yang kerap luput dari perhatian. Seorang Perempuan Asli Papua berdiri tegak di area parkir, mengatur kendaraan bermotor dan mobil dengan suara lantang, penuh konsentrasi, dan tanpa rasa ragu
Ia adalah Fera Doo (33), biasa dipanggil Mama Doo, perempuan Moi asal Kampung Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong, yang kini menetap di Lorong Emaus, Kelurahan Kofkerbu, Kota Sorong.
Selama hampir enam tahun terakhir, Mama Doo menghidupi keluarganya dengan menjadi juru parkir.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
“Banyak orang tatap saya aneh waktu awal-awal kerja. Mereka pikir saya perempuan mabuk, bikin malu orang Papua. Ada juga yang marah marah ke saya hanya karena saya jaga parkir,” kata Mama Doo saat ditemui media Jubi di sela sela mengatur kendaraan, peluh membasahi wajahnya.
Ia mengaku, profesi ini bukan pilihan hidup yang ia impikan. Namun, realitas ekonomi memaksanya bertahan di ruang publik yang keras dan penuh stigma. “Kalau saya tinggal di rumah saja, siapa yang mau kasih makan saya dan anak-anak? Perut tidak bisa tunggu. Anak-anak tidak bisa tunggu,” ujarnya tegas.
Mama Doo mulai bekerja sebagai tukang parkir sejak awal 2020. Saat itu, tekanan ekonomi keluarga mencapai titik terendah. Suaminya bekerja sebagai kuli bangunan, dengan penghasilan tidak menentu tergantung panggilan mandor dan proyek yang tersedia.
“Kalau ada panggilan kerja, kami bersyukur. Kalau tidak ada, ya tinggal di rumah. Tidak ada jaminan apa-apa,” katanya.
Situasi makin sulit setelah lahan tempat tinggal keluarga mertuanya di sekitar Bandara DEO yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan lewat kolam kangkung ditimbun untuk pelebaran pembangunan. Sejak itu, Mama Doo dan keluarga harus bertahan dengan kerja serabutan.
Keputusan menjadi juru parkir bukan tanpa beban psikologis. Hari pertama bekerja, ia mengaku diliputi rasa malu dan takut.
“Saya malu sekali. Orang lalu lalang lihat saya teriak ‘mundur, mundur’, atur motor, atur mobil. Hati saya gemetar. Tapi saya kuatkan diri karena saya ingat anak saya harus sekolah dan harus makan,” tuturnya
Tekanan itu semakin berat ketika anak sulungnya harus masuk sekolah dasar di SD Inpres 65 Kampung Nenas (kini SD Negeri 29 Kota Sorong).
“Saat itu anak saya yang paling besar harus masuk SD. Saya tidak mau dia putus sekolah seperti banyak anak Papua lain yang orang tuanya tidak mampu,” ucapnya.
Kini, enam tahun berlalu, Mama Doo masih setia di tempat yang sama. Anak pertamanya telah duduk di kelas 5 SD, anak keduanya kelas 2 SD, sementara dua anak lainnya masih membutuhkan perhatian penuh.
“Saya sadar betul, ini pekerjaan tidak cocok untuk perempuan. Tapi tuntutan ekonomi itu tidak bisa ditawar. Hidup tidak tunggu kita siap,” katanya.
Dari pekerjaan ini, Mama Doo mengantongi sekitar Rp80.000 hingga Rp100.000 per hari. Jika pengunjung ramai, pendapatannya bisa mencapai Rp160.000 per hari, angka yang tetap jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga dengan empat orang anak, dengan biaya hidup tinggi seperti Kota Sorong.
“Besar kecil hasilnya saya tetap bersyukur. Saya percaya Tuhan kasih sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan,” ujarnya lirih.
Namun, di balik sikap pasrah itu, Mama Doo menyimpan tekad besar memastikan anak-anaknya tidak mengulang nasib yang sama. “Saya sudah komitmen, anak-anak saya harus sekolah. Jangan sampai mereka besar nanti jadi tukang parkir seperti saya. Saya tidak mau, katanya.
Baginya, gereja menjadi ruang penguatan spiritual di tengah kerasnya hidup. GKI Jemaat Syaloom Klademak itu saksi setiap doa-doanya.
“Saya cuma doa satu hal. Tuhan kasih saya kesehatan, kasih saya umur panjang, supaya saya sanggup kerja dan lihat anak-anak saya punya masa depan meskipun saya cuma tukang parkir,” ucap Mama Doo.
Kisah Mama Doo menjadi potret nyata kemiskinan struktural, ketimpangan ekonomi, serta kerasnya kehidupan perempuan Papua di Kota Sorong. Di tengah pembangunan yang terus digembar-gemborkan, perempuan seperti Mama Doo masih harus mempertaruhkan tubuh dan martabatnya di jalanan demi memastikan anak-anaknya tetap bersekolah dan dapat bertahan hidup.(*)
Untuk melihat lebih banyak content JUBI TV, click here!




















Discussion about this post