Wasior, Jubi – Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat menargetkan 15 ribu hingga 20 orang akan menghadiri peringatan satu abad pendidikan modern masuk ke Tanah Papua.
Peringatan itu akan digelar pada Oktober 2025, di Kabupaten Teluk Wondama, yang sering disebut negeri peradaban bagi orang Papua.
Bupati Teluk Wondama, Elisa Auri meminta pimpinan organisasi perangkat daerah atau OPD agar tidak keluar daerah, untuk menyiapkan agenda peringatan satu abad pendidikan modern masuk ke Tanah Papua.

“Tidak boleh kepala OPD keluar kota, kita fokus pekerjaan bulan Oktober [2025], siapa [yang] tinggalkan tempat tanpa izin saya, saya berikan sangsi,” kata Elisa Auri, Senin (19/5/2025).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Peringatan satu abad pendidikan modern masuk ke Tanah Papua, dan Teluk Wondama sebagai negeri peradaban orang Papua merujuk pada awal masuk Zending berkebangsaan Jerman, Isak Samuel Kijne pada 1925.
Kabupaten Teluk Wondama menjadi negeri yang mula-mula menjadi daerah pendidikan pendidikan modern di Tanah Papua oleh Isak Samuel Kijne.
Elisa Auri mengatakan, meski pemerintah daerah mungkin akan kesulitan menyiapkan akomodasi saat peringatan satu abad orang Papua mengenal menulis dan membaca, yang diperkirakan dihadiri 15.000 hingga 20.000, namun pihaknya akan berupaya memenuhi apa yang dibutuhkan.
“Pemerintah Daerah dan gereja akan berupaya semaksimal mungkin, [menyiapkan] baik itu transportasi maupun akomodasi. Bulan lalu kita rapat koordinasi. Bapak gubernur sudah bersedia membicarakan dengan Kementrian Perhubungan, agar kita dibantu kapal putih,” ujar Elisa Auri.
Menyongsong peringatan satu abad itu, Pemerintah Kabupaten Wondama dan Pemerintah Provinsi Papua Barat, telah melaunching beberapa agenda.
“Satu abad atau 100 tahun ini menunjukan kepada kita semua di Tanah Papua bahwa pada 1925, Pendeta I.S Kijne meletakan nubuatan bagi kita semua orang Papua mengenal menulis dan membaca,” ucapnya.
Katanya, di atas batu di Bukit Aitumeri pada 25 Oktober 1925, Isak Samuel Kijne menuliskan kalimat “Di atas batu ini, saya meletakkan peradaban orang Papua. Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri.”
“Nubuatan inilah [yang] nanti berusia seratus tahun. Seluruh orang Papua mari kita merenungkan kita mengenal tulis dan baca,” katanya.
Elisa Auri, selain menuliskan nubuatan di batu di atas Bukit Aitumeri pada 1975, Isak Samuel Kijne kembali bernubuat dengan mengatakan “Barang Siapa yang bekerja di Tanah ini dengan setia, jujur dan dengar-dengaran, maka ia akan berjalan dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain.”
Elisa Auri menegaskan mengimbau seluruh anak-anak di Tanah papua, yang lahir sampai dengan hari ini, untuk merenungkan bahwa anak Papua ada karena nubuatan itu.
Selain wisata religi, Teluk Wondama memiliki wisata pantai yang memukau
Sejumlah objek wisata di Kabupaten Teluk Wondama menjadi referensi bagi pengunjung yang akan menghadiri peringatan 1 abad Wondama sebagai negeri peradaban orang Papua.

Dari spot wisata religi batu ‘peradaban’ di Bukit Aitumeri dan tangga 1.000 tempat pendeta I.S Kijne duduk mencari inspirasi, hingga lokasi pendaratan Injil di Pulau Roswar dan Pulau Ron. Selain itu di Windesi, ada wisata religi seperti situs pendaratan Injil Kamadiri.
Spot diving terbaik ada di Kepulauan Auri, dengan suasana laut. Pengunjung yang bernasib baik akan melihat hiu paus dan berbagai biota laut di kawasan zona inti di Teluk Cenderawasih itu.
Di Kota Wasior dan sekitarnya juga terdapat sejumlah objek wisata pantai seperti Pantai Ketapang Lima di Kampung Karumatiri, Pantai Kaibi di Distrik Wondiboy dan Pantai Pasir di Rasiei Distrik Rasiei.
Tonci Somisa, Ketua Kelompok Ekowisata Waduwun Beberin di Kampung Aisandami mengatakan, kelompok wisata di kampung tersebut kini memiliki sembilan home stay, yang dibangun untuk menampung wisatawan di kawasan Aisandami.
Di Aisandami, juga terdapat objek pengamatan burung cendrawasih, air terjun Mambi, tracking hutan mangrove, diving dan snorkling di Pulau Numamurem, atraksi tokok sagu oleh mama Papua Aisandami dan permainan rakyat aikekis. Pengunjung juga dapat melihat bangkai pesawat peninggalan perang dunia kedua di Pulau Repon.
“Ada permainan rakyat yang ada di sini, kemudian kita punya spot wisata,” kata Tonci
Katanya, home stay yang di Aisandami awalnya merupakan swadaya. Namun seiring waktu warga terus membuat home stay untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga, dengan memanfaatkan pekarangan atau lahan yang ada.
“Ini setiap warga yang punya home stay ketika ada tamu masuk mereka dapat uang untuk peningkatan ekonomi rumah tangga tapi bagi warga yang tidak punya home stay kita libatkan mereka untuk memasak menu makanan bagi tamu,” ujarnya.
Otto Bosayor (62 tahun), warga Aisandami menuturkan bahwa secara mandiri ia membangun home stay di pinggir laut dari bahan bahan alami, seperti gaba-gaba dan atap rumbia di atas permukaan air.
“Satu malam saya sewakan dengan harga Rp350 ribu, per kamar,” kata Otto Bosayor.
Katanya, sebelumnya ia merupakan pemburu satwa dilindungi seperti burung Kakatua dan Cendrawasih di hutan Aisandami. Namun sejak 2017, Otto Bosayor memulai fokus membangun home stay sejak 2017.
Sementara itu, Wakil Bupati Teluk Wondama, Anthonius Marani menyadari, terdapat banyak objek wisata di daerah ini. Namun terkendala promosi dan campur tangan pihak lain.
“Untuk membangun pariwisata di Teluk Wondama saya melihat bahwa tidak hanya Dinas Pariwisata harus libatkan semua stakeholder maka mari semua Dinas mari bergandengan tangan,” kata Marani. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua















Discussion about this post