Jayapura, Jubi – Setiap pagi, satu demi satu warga berjalan ke Kios Bosayor di pinggir jalan masuk menuju jembatan Kampung Aisandami, Distrik Teluk Duairi, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Maklum, kios itu milik warga Buton bernama La Ayadi, yang akrab disapa warga kampung sebagai Lawe.
Pagi itu, Jumat (16/5/2025), suasana di depan Kios Bosayor cukup ramai. Warga membawa hasil tangkapan mereka berupa teripang berbagai jenis, mulai dari teripang susu atau dalam bahasa Latin disebut Holothuria fuscogilva. Teripang ini dikenal sebagai teripang susu putih, merupakan spesies teripang dalam genus Holothuria, subgenus Microthele.
“Saya biasa setiap bulan bisa mengumpulkan hampir 1.000 kg atau satu ton untuk dikirim ke Makassar,” kata La Ayadi kepada Jubi. Ia menambahkan bahwa semua teripang masih dalam kondisi basah, dan nantinya akan dijemur sampai kering sebelum dikirim. Ia biasa membayar dengan uang tunai. Jika uang belum ada, ia menyarankan warga untuk bersabar atau membawa pulang dulu teripang tersebut hingga ada uang yang cukup.

Salah seorang warga Kampung Aisandami merasa senang karena bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual teripang hitam maupun teripang susu dan lainnya. “Ya, senang bisa terjual dan Lawe mau beli,” katanya sambil tersenyum. Ia menambahkan, lumayan bisa dapat dua ratus ribu rupiah.
Ada pula yang membawa teripang hitam atau teripang malam. Nama Latinnya adalah Holothuria atra, dikenal juga sebagai teripang keling. Selain itu, ada juga yang membawa teripang nanas, teripang gosok, dan lain-lain.
Pantauan jubi.id di depan kios milik pedagang asal Buton itu, hampir semua teripang masih dalam kondisi basah dan belum dikeringkan. “Biasanya anak itu sendiri yang jemur,” kata Oto Bosayor, tokoh adat yang telah menganggap pedagang asal Buton itu sebagai anaknya. Bahkan, nama kios milik pedagang tersebut pun dinamakan Kios Bosayor di Kampung Aisandami.
“Dulu anak Buton itu pernah jemur, terus ada yang curi teripang, dan dia mau berhenti berdagang teripang. Terus saya bilang sama dia, ‘Anak, jangan berhenti beli teripang, sebab warga selalu datang menjual teripang dan mereka mendapat sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari,’” kata Bosayor, pemilik keramba yang berisi puluhan jenis teripang, yang berada di dekat homestay beratap daun sagu dan berdinding gaba-gaba pelepah sagu itu.
Sulit Bikin Keramba dan Budidaya

Peneliti lulusan Universitas Negeri Papua, Yusup Yantewo, mengakui bahwa pelaksanaan kadup atau sasi di Kampung Menarbu maupun di Aisandami jelas lebih baik ketimbang areal non-sasi.
“Hasil penelitian telah mencatat lebih banyak spesies dan jumlah individu megabentos pada lokasi sasi dibandingkan lokasi non-sasi. Sesuai perhitungan Shannon-Weiner Index Diversity, keanekaragaman megabentos lebih tinggi pada lokasi sasi daripada non-sasi. Namun, hasil perhitungan Sørensen Coefficient of Similarity menunjukkan tingkat kesamaan spesies (komposisi) yang tinggi antara kedua lokasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa megabentos merupakan kelompok biota laut berukuran lebih dari satu sentimeter dan hidup di dasar laut, baik menempel, merayap, maupun menggali lubang di substrat dasar.
“Mereka merupakan komponen penting dalam ekosistem terumbu karang, dan beberapa jenisnya seperti teripang, kima, dan bintang laut memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang signifikan,” tambahnya.
Ia menyarankan agar masyarakat tetap menjaga lingkungan. Selain menerapkan sasi, masyarakat juga perlu melakukan budidaya teripang agar tidak langsung mengambil dari ekosistem laut atau alam.
Pantauan jubi.id di Kampung Menarbu mencatat ada satu buah keramba, sedangkan di Kampung Aisandami berada di depan rumah milik Otto Bosayor.

Menanggapi pertanyaan jubi.id soal budidaya teripang dan rumput laut di Kampung Aisandami maupun Menarbu, Feronika Manohas mengatakan bahwa kebiasaan orang Papua, termasuk di Aisandami maupun Menarbu, adalah lebih suka mencari langsung di alam. Kebiasaan mencari makan, merawat, dan menanam di keramba atau budidaya rumput laut sangat sulit dilaksanakan.
“Jadi, bagi saya, kadup atau sasi bisa menjadi solusi terbaik untuk tetap menjaga alam. Ibaratnya, sasi itu seperti gudang penyimpan makanan yang bisa diambil sewaktu-waktu,” katanya.
Pendapat Feronika dibenarkan oleh Clift Marlessy dari Indonesia Locally Managed Marine Area Network (ILMMA). Ia menambahkan bahwa nelayan di Biak juga bukan tipe yang memelihara atau membudidayakan ikan, termasuk rumput laut.
“Mereka adalah nelayan yang hidupnya mencari ikan di laut,” katanya kepada jubi.id belum lama ini di Jayapura. Ia menambahkan bahwa di Biak masyarakat juga menerapkan sasi, yang dalam bahasa Biak disebut sasisen.
Ia mengatakan, dengan adanya sasisen, warga bisa menjaga laut dan ekosistemnya, sehingga ikan-ikan lebih dekat ke pantai dan jumlah ikan besar semakin meningkat. (*)























Discussion about this post