TAPOL dorong pemerintah libatkan pihak internasional untuk negosiasikan pembebasan pilot Susi Air

Author : Alexander Loen

Editor : Aryo Wisanggeni G

Jayapura, Jubi – TAPOL, organisasi kampanye Hak Asasi Manusia atau HAM yang berbasis di Inggris pada Rabu (8/3/2023) mengeluarkan pernyataan sikap mereka terkait penyanderaan pilot Susi Air berkebangsaan Selandia Baru, Philip Mark Mehrtens. TAPOL menyatakan penyanderaan yang dilakukan kelompok bersenjata Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat itu tidak dapat dibenarkan dalam kacamata hukum humaniter dan HAM internasional, serta mendorong Pemerintah Indonesia melibatkan pihak internasional yang kompeten, otoritatif, dan nentral untuk menegosiasikan pembebasan Mehrtens.

Dalam pernyataan sikap tertulisnya yang dipublikasikan pada Rabu, TAPOL menyatakan tindakan penyanderaan (hostage-taking) tidak dapat dibenarkan dalam kacamata hukum humaniter dan HAM internasional. TAPOL menekankan bahwa Philip Mark Mehrtens merupakan warga sipil dan tidak terlibat dalam konflik bersenjata antara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan pasukan keamanan Indonesia.

“TAPOL berharap agar selama dalam penyanderaan, Philip tetap diperlakukan secara manusiawi. Ia harus terhindar dari segala bentuk penyiksaan atau perlakuan buruk lainnya, dan segala kebutuhan dasarnya tetap terjamin, khususnya kondisi kesehatan fisik dan mental. Penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya diharamkan dalam situasi apa pun, baik situasi damai maupun situasi konflik bersenjata, oleh hukum HAM dan humaniter internasional,” demikian pernyataan tertulis TAPOL.

TAPOL mendorong pemerintah Indonesia tetap mengedepankan upaya negosiasi untuk membebaskan pilot Susi Air itu. “Pemerintah Indonesia mesti terus mengedepankan negosiasi sambil melibatkan pihak ketiga internasional yang kompeten, otoritatif, dan netral.”

TAPOL meminta berbagai unsur pasukan keamanan, seperti Polri, TNI, apalagi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) tidak dilibatkan atau dimasukkan ke dalam tim yang bernegosiasi. TAPOL menyatakan TNI dan Polri seharusnya juga tidak mempengaruhi keputusan yang berkaitan dengan negosiasi.

Selain itu, TAPOL mendesak semua pihak yang bertikai, baik TPNPB maupun TNI/Polri, untuk mematuhi prinsip distingsi, proporsionalitas, dan kehati-hatian. Semua pihak yang bertikai harus mencegah warga sipil–baik pilot Susi Air yang sedang disandera maupun warga sipil lainnya di wilayah sekitarnya–yang tidak terlibat dalam konflik bersenjata atau menjadi korban.

TAPOL juga menyoroti tanggung jawab pemerintah untuk mengurus warga sipil yang mengungsi dari wilayah konflik bersenjata di Tanah Papua. Pemerintah diminta memberi akses bagi lembaga internasional untuk memberikan bantuan kepada warga sipil yang mengungsi itu.

BERITATERKAIT

“Pemerintah Indonesia memiliki tanggung jawab untuk menjamin dan melindungi hak asasi warga sipil yang harus direlokasi (Internally Displaced Person/IDP) karena masalah keamanan di Nduga. Selain memenuhi jaminan tersebut, pemerintah juga harus memberikan pertimbangan serius untuk menerima lembaga internasional yang berpengalaman dalam memberikan bantuan kepada pengungsi,” demikian pernyataan tetulis TAPOL.

Kelompok TPNPB yang dipimpin Egianus Kogoya telah membakar pesawat pilatus milik maskapai Susi Air yang mendarat dan menurunkan penumpang di Lapangan Terbang Paro, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, pada 7 Februari 2023 lalu. Mereka juga menyandera pilot pesawat itu, Philip Mark Mahrtens.

Pada 14 Februari 2023, TPNPB merilis foto dan video pembakaran pesawat Susi Air dan Philip Mark Mahrtens yang disandera kelompok Egianus Kogoya. “TPNPB-OPM Komando Nasional umumkan resmi foto dan video bersama pilot New Zealand (NZ). Pilot asal NZ baik dan sehat,” kata Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom saat itu.

TPNPB menyatakan baru akan membebaskan pilot Susi Air itu jika pemerintah Indonesia mau mengakui kemerdekaan Papua Barat. Pemerintah Kabupaten Nduga bersama sejumlah tokoh adat dan tokoh agama berupaya melakukan negosiasi agar Mehrtens dibebaskan. Sementara aparat keamanan dikerahkan untuk mencari keberadaan Mehrtens di Kabupaten Nduga hingga ke Lanny Jaya. (*)

 

Festival Kopi Papua Tengah

English Story

Forest and land fires driven not only by El Niño but also by corporate  expansion

Jayapura, Jubi – Forest and land fires (karhutla) should not be attributed solely to El Niño and climate change, but [...]

Papua conservation agency develops plan to restore pig-nosed turtle  population

Jayapura, Jubi – The Papua Natural Resources Conservation Agency (BBKSDA Papua), in collaboration with WWF-Indonesia’s Papua Programme, is developing a [...]

WALHI Papua urges protection Indigenous rights and environmental  restoration at Makimi gold mine

Jayapura, Jubi – The Indonesian Forum for the Environment (WALHI) Papua has called for the protection of Indigenous communities’ rights [...]

Merauke farmers gain easier access to affordable fuel for agriculture

Jayapura, Jubi – Merauke regency in South Papua province is one of Indonesia’s major food-producing regions, with tens of thousands [...]

Jayawijaya KNPI calls for independent investigation into fatal Nduga shooting

Jayapura, Jubi – The Indonesian National Youth Committee (KNPI) in Jayawijaya Regency, Papua Pegunungan Province, has called for an independent [...]

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Welcome Back!

Login to your account below

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist