• Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
Jubi Papua
Teras ID
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
Donasi
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Seni & Budaya

Seni ukir Asmat, warisan budaya yang mendunia 

June 20, 2024
in Seni & Budaya, Tanah Papua
Reading Time: 6 mins read
0
Penulis: Sudjarwo Husain - Editor: Aryo Wisanggeni
Seni Ukir Asmat, Patung Asmat

Karya seni ukir Asmat di Museum Asmat. - Dok. Keuskupan Agats

0
SHARES
1.8k
VIEWS
FacebookTwitterWhatsAppTelegramThreads

BERITATERKAIT

Ganti rugi tidak boleh digunakan mengakhiri proses hukum penembakan terhadap warga Asmat

Panglima TNI didesak proses hukum terduga pelaku penembakan warga Asmat

Uskup Agats batalkan Festival Asmat Pokman 2025 pasca penganiayaan panitia

Kurator: Generasi muda Asmat mulai jauh dari kebudayaannya

PSA Jubi PSA Jubi PSA Jubi

Jayapura, Jubi – Kabupaten Asmat yang terletak di Provinsi Papua Selatan punya warisan budaya seni ukir Asmat bercita rasa tinggi di mata dunia. Karya seni ukir dengan teknik pahat rumit yang lahir dari tangan terampil Suku Asmat telah membuat nama Asmat mendunia.

Seni ukir kayu Asmat merupakan warisan budaya yang sudah turun temurun dilakukan oleh kebanyakan kaum pria di wilayah tersebut. Mengukir bagi orang Asmat dipercaya sebagai mediator yang menghubungkan kehidupan masyarakat dengan leluhur mereka.

Kini, karya seni ukir Asmat bukan hanya lestari, tapi juga banyak diminati oleh kolektor hingga wisatawan dari luar negeri. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Asmat, Donatus Tamot menyatakan ukiran Asmat memang unik.

“Asmat memang sangat terkenal karena hasil karya ukiran sejak dahulu sebagai suatu kekayaan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lain,” kata Tamot pada Minggu (16/6/2024).

*****************

Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Seni ukir Asmat berpotensi memberi dampak positif kepada kemajuan daerah Asmat. Pesta Budaya Asmat yang diinisiasi Keuskupan Agats sejak tahun 1981, ketika Asmat baru berstatus sebagai salah satu kecamatan (kini disebut distrik) di Provinsi Irian Jaya. Pesta Budaya Asmat berperan besar membuat karya seni ukir Asmat mendunia.

Kini, Pemerintah Kabupaten Asmat melalui Dinas Pariwisata mendukung Pesta Budaya Asmat yang telah bersalin nama menjadi Festival Asmat Pokman. “Pemerintah daerah berupaya memajukan kebudayaan di Asmat sebagai modal pembangunan dengan keberagaman kebudayaan yang dimiliki oleh suku-suku dan rumpun di Asmat,” ujar Tamot.

Ia menjelaskan Dinas Pariwisata Kabupaten Asmat memiliki tanggung jawab untuk ikut berandil pada pembangunan kemajuan daerah, dengan merujuk kepada 11 Objek Pemajuan Kebudayaan atau OPK cagar budaya seperti tertuang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Festival Asmat Pokman

Festival Asmat Pokman akan memasuki pelaksanaan yang ke-37 pada Oktober 2024. Kata ‘pokman’ berasal dari bahasa Asmat dialek rumpun Bismam. Pok berarti karya, dan Man/Mban berarti tangan.

Bupati Asmat, Elisa Kambu mengatakan pesta budaya tahunan itu digelar untuk melestarikan seni budaya masyarakat Asmat. “Menari, mendayung dan mengukir itu bagian dari jati diri kami, orang Asmat. Itu [budaya] yang membedakan kami dengan masyarakat di belahan dunia lain. Kami harus berbesar hati, bahwa di tengah arus globalisasi, kami masih mempertahankan jati diri, dan tetap melestarikan kearifan lokal,” kata Kambu.

Festival Asmat Pokman juga memupuk persaudaraan antar sub suku atau antar rumpun Suku Asmat, sekaligus membangun persaudaraan dengan orang luar. Pesta budaya itu telah mengembangkan dan melestarikan kembali energi seni pahat Asmat, dan memperkenalkan Asmat kepada dunia.

Kurator Museum Asmat, John Ohoiwirin menuturkan Pesta Budaya Asmat diinisiasi Uskup Agats tahun 1981, Mgr Alphonse August Sowada OSC, dengan mengumpulkan 36 pematung dari seluruh wilayah Asmat. “Proses itu terus dijalankan, dan pemerintah setempat mulai terlibat pada 1990-an,” ujar John Ohoiwirin.

Infografis Koleksi Museum Asmat

 

Dalam Festival Asmat Pokman, sebanyak 200 seniman pahat Suku Asmat berkumpul dan saling unjuk keahlian memahat. Mereka adalah para pemahat dan pematung yang lolos dari tahapan seleksi yang digelar di distrik masing-masing.

“Dalam seleksi di tingkat distrik yang selalu dilakukan jelang festival, kami hanya mengambil 30 nominasi dari setiap distrik. Kuota maksimal untuk peserta yang akan tampil di festival [adalah] 200 orang pengukir,” kata John.

Tak hanya menampilkan keindahan seni memahat, Festival Asmat Pokman juga menyajikan beragam seni budaya Asmat lainnya. Seperti atraksi, tari, dan kerajinan anyaman.

Festival Asmat Pokman diharapkan dapat meningkatkan sektor perekonomian kreatif di Asmat. Festival itu telah masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN), agenda Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Total ada 110 event yang masuk dalam kalender KEN, terdiri dari 100 event unggulan dan top 10 event.

Festival Asmat Pokman ikut tampil berkolaborasi dan berpartisipasi dalam promosi FAP pada KEN Festival 2024. Donatus Tamot menyatakan festival itu dipromosikan juga oleh Kemenparekraf. “Akan banyak hal positif, kunjungan wisatawan ke Asmat juga akan meningkat,” kata Tamot.

Festival Asmat Pokman menjadi jembatan bagi para pengukir Asmat untuk memasarkan hasil karya mereka hingga para peminat dari mancanegara. Ukiran karya mereka akan dihargai hingga puluhan juta rupiah pada lelang yang berlangsung di Agats, Ibu Kota Kabupaten Asmat, pada salah satu hari festival.

Pada pelaksanaan Festival Asmat Pokman tahun 2023, hasil dari pembelian ukiran dan berbagai produk ekonomi kreatif bisa mencapai Rp 3 miliar lebih. Sementara anggaran yang dikucurkan Pemerintah Kabupaten Asmat untuk membantu pelaksanaan festival itu mencapai Rp1,4 miliar.

“[Nilai Rp3 miliar] itu [baru dihitung] dari ukiran yang dilelang maupun anyaman yang dibeli. Kontribusi dari kegiatan itu sangat potensial. Kami lihat jumlah tamu yang datang, hotel di Asmat penuh dengan adanya festival itu, omset mereka naik,” ungkap Tamot.

Berkeliling dunia

Bernard Bicimpari mensyukuri hidupnya sebagai putra asli Asmat yang melestarikan tradisi mengukir. Ia seorang seniman pahat, yang dalam istilah Asmat disebut Wow ipits. Dengan keahliannya itu, Bicimpari mengunjungi beberapa negara untuk memperkenalkan budaya dan karya seni ukir Asmat.

Guru SMK Seni dan Kreatif di Asmat yang berusia 48 tahun itu mulai mendalami keahliannya sebagai Wow ipits sejak duduk di bangku sekolah dasar. Itu bermula dari kebiasaannya melihat orang tua membuat karya seni ukir Asmat.

Saat kelas 3 SD, Bicimpari berpartisipasi dalam Pesta Budaya Asmat tahun 1985. Meski hasil ukirannya belum sempurna, karya Bernard terjual dengan harga Rp90 ribu. Ia merasa bangga karyanya dihargai orang, dan termotivasi untuk terus mendalami seni ukir.

“Ukiran saya waktu itu belum begitu bagus, cuma bisa masuk lelang dan dihargai Rp 90 ribu. Waktu itu saya masih 12 tahun,” katanya.

Sejak saat itu, Bicimpari tak pernah melewatkan momen Pesta Budaya Asmat. Apresiasi terhadap karyanya pun terus naik. Ia menjadi salah satu seniman pahat terbaik di Kabupaten Asmat, dan karyanya pernah terjual dengan nilai Rp8,9 juta.

Pada 2016 silam, ia diundang untuk memberikan pelatihan seni memahat di sebuah universitas di Minnesota, Amerika Serikat. “Di sana saya mengajar seni ukir,” ujarnya.

Pada tahun yang sama, Bicimpari berkeliling ke beberapa daerah di Amerika Serikat, seperti Chicago, Indiana, Arizona dan California. Keahliannya itu juga membawanya ke Jepang dan Singapura. “Itu yang memberikan motivasi kepada saya untuk terus maju,” katanya.

Karya seni ukir Bicimpari banyak dipesan para kolektor di Indonesia hingga luar negeri. “Jumlah hasil ukiran saya tidak bisa dihitung lagi. Di Amerika itu yang paling jauh, [karya saya dibeli] mulai harga 150 dolar AS. Secara ekonomi, [apresiasi atas karya seni ukir itu] sangat berdampak,” sebutnya.

John Ohowirin selalu Kurator Museum Asmat yang dikelola Keuskupan Agats juga menyebut apreasiasi terhadap seni ukir Asmat memberi dampak kepada perekonomian di Asmat, kendati dampak itu belum berkelanjutan. “Saat digelar festival, mereka [para seniman Asmat] mendapat hasil dari lelang ukiran, anyaman, dan yang lain,” kata John.

Peluang ekspor 

Pelestarian budaya seni ukir Asmat tak terlepas dari peran Uskup Agats pertama, Mgr Alphonse August Sowada OSC. Uskup yang berasal dari Amerika Serikat adalah seorang antropolog yang bertugas di Asmat sejak 1961, dan mulai menjadi Uskup Agats pada 1969. Uskup Alphonse berkunjung ke berbagai kampung, mendekati tetua dan masyarakat adat untuk kembali mengangkat dan melestarikan kebudayaan mereka.

Demi menampung hasil karya pengukir Asmat dan benda kebudayaan Asmat, Keuskupan Agats membangun sebuah museum pada 1971. Museum yang dipelopori dipelopori oleh misionaris RP Frank Trenkenschuh itu resmi dibuka pada 1973.

Museum Asmat menjadi jembatan atau media penghubung untuk memasarkan karya para pengukir Asmat. John Ohoiwirin menjelaskan museum itu memiliki art shop yang menampung karya para pengukir Asmat.

“Jadi mereka datang membawa hasil ukiran mereka, dan jual ke sini. Kalau di museum ini, patung [berukuran sekitar] 30 cm itu dihargai Rp100 ribu. Yang paling mahal bisa sampai Rp2 juta. Baru-baru ini, ada orang dari Bali membeli patung Mbis [seharga] Rp6 juta,” sambungnya. 

Koleksi Museum Asmat semakin bertambah, kini mencapai lebih kisaran 2.400 koleksi. Beragam koleksi itu menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun manca negara.

Seni Ukir Asmat, Patung Asmat
Karya seni ukir Asmat di Museum Asmat. – Dok. Keuskupan Agats

Museum Asmat tak hanya sebagai tempat menyimpan dan memamerkan karya seni dan kebudayaan Asmat tapi juga menjadi penghubung bagi berbagai museum di luar negeri untuk menemukan karya seni ukir Asmat maupun benda budaya Asmat yang berharga untuk dikoleksi.

Museum di sejumlah negara Eropa, seperti Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, Inggris, Swedia, dan Swiss, memiliki koleksi karya seni ukiran Asmat. Begitu pula sejumlah museum di Amerika Serikat dan Australia.

“Museum Asmat ini seperti sentral dari museum-museum di luar negeri. Kami sekarang membangun kembali jaringan dengan mereka di luar sana. Kalau boleh disebut museum di Belanda, Inggris, Jerman, Australia, Prancis, Amerika, Swedia dan Swiss, semua mengoleksi benda budaya Asmat,” ungkap John.

“Ada peningkatan pengunjung, karena setiap hari ada yang berkunjung. Turis manca negara baru datang bulan lalu, berjumlah 75 orang. Tapi mereka tidak hanya [berkunjung] ke museum,” sebut John.

Daya tarik ukiran Asmat bahkan memikat banyak peminat dari manca negara. John Ohoiwirin menyebut potensi ekspor karya seni ukir Asmat besar. “Saya [pernah] kirim Mbis ke Brisbane, Australia, [Mbis seharga] Rp10 juta, dengan panjang 8 meter,” ujarnya.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Asmat, Donatus Tamot, karya seni ukir Asmat sudah kerap diekspor ke berbagai negara Asia, Eropa hingga ke Amerika Serikat. “Biasanya mereka kirim ke Bali, dan dari sana baru dikirim ke luar negeri. Yang paling mahal itu bisa sekitar Rp30 juta – Rp40 juta bahkan bisa lebih tinggi lagi,” kata Tamot. (*)

Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua

Tags: AsmatFestival Asmat PokmanPatung AsmatPesta Budaya AsmatSeni Ukir AsmatSuku Asmat
ShareTweetSendShareShare

Related Posts

Topeng roh Doro

Time for Papua : Jejak Orang Asli Papua di komunitas global sejak puluhan ribu tahun lalu ada di Leiden, Belanda

February 26, 2026
Bahasa Daerah

Penerapan perda bahasa daerah di Tanah Papua sebagai upaya melindungi identitas OAP

February 9, 2026

Anak-anak Kampung Yokiwa belajar seni dengan pendekatan alam

December 21, 2025

Kolaborasi para seniman lahirkan karya makna air dalam kehidupan

December 21, 2025

Alyakha Art Center gelar residensi seni ‘Wali No’

December 16, 2025

Dewan Kesenian Tanah Papua Kabupaten Jayapura gelar musda ke-V

December 9, 2025

Discussion about this post

  • Latest
  • Trending
  • Comments
Five individuals listed as wanted suspects (DPO) by Tambrauw Police in connection with the Bamusbama District attack surrendered following mediation by Komnas HAM and the Tambrauw Regency Government, Friday (April 3, 2026) — Jubi/Komnas HAM

Five wanted suspects in Tambrauw attack surrender following the National Commission of Human Rights (Komnas HAM)–Government mediation

April 6, 2026
paskah

Sambut Paskah 2026,Jemaat GPKAI Elim Wosi gelar jalan salib hingga pawai obor

April 5, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

April 4, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

April 4, 2026
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

April 4, 2026
persipura

Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

April 2, 2026
beasiswa

Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

April 2, 2026
ekskavator

Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

April 1, 2026
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

April 4, 2026
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

April 4, 2026
Five individuals listed as wanted suspects (DPO) by Tambrauw Police in connection with the Bamusbama District attack surrendered following mediation by Komnas HAM and the Tambrauw Regency Government, Friday (April 3, 2026) — Jubi/Komnas HAM

Five wanted suspects in Tambrauw attack surrender following the National Commission of Human Rights (Komnas HAM)–Government mediation

0
paskah

Sambut Paskah 2026,Jemaat GPKAI Elim Wosi gelar jalan salib hingga pawai obor

0
Gubernur Papua

Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

0
venue

Evaluasi listrik venue PON Papua, PLN dan Pemprov akan lakukan survei kebutuhan daya

0
Mahasiswa

IPMAPAPARA dan mahasiswa Kawanua nyatakan sikap terhadap peristiwa Dogiyai

0
LNG

JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

0
beasiswa

ULMWP sebut beasiswa RI propaganda, Kedutaan RI bantah

0

Trending

  • LNG

    JGC–Hyundai menang proyek LNG raksasa di Papua Nugini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Fakhiri sebut banyak aset Pemprov Papua tercecer dan belum tercatat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kejar-kejaran tiket promosi ke Super League, bagaimana peluang Persipura?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Beasiswa LPDP-Australia Awards dibuka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

PT Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

PT. Media Jubi Papua

Terverifikasi Administrasi dan Faktual oleh Dewan Pers

Networks

  • Post Courier
  • Vanuatu Daily Post
  • Solomon Star News
  • The Fiji Times
  • Radio New Zealand
  • Radio Djiido
  • 3CR Community Radio
  • Cook Islands News
  • Pacific News Service
  • Bouganville News
  • Marianas Variety

AlamatRedaksi

Jl. SPG Taruna Waena No 15 B, Waena, Jayapura, Papua
NPWP : 53.520.263.4-952.000
Telp : 0967-574209
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
  • Kode Etik
  • Laporan Transparansi

© 2025 Jubi – Berita Papua Jujur Bicara

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara