Jayapura, Jubi – Sasi dalam bahasa Maluku adalah tradisi atau aturan tidak tertulis masyarakat adat, yang melarang masyarakat untuk menangkap hewan laut, dalam waktu tertentu. Pelarangan untuk penangkapan ikan atau hewan laut itu berlangsung sekitar 24 bulan.
“Larangan ini dalam bahasa modern bisa dibilang sama dengan konservasi tradisional,“ kata Dr. JR Mansoben, MA pakar antropologi dari Universitas Cenderawasih (Uncen) kepada Jubi.id pada Sabtu (6/7/2024).
Dia mengatakan bahwa biasanya dalam melakukan tutup sasi di zaman dulu ada klan-klan tertentu yang wajib memimpin upacara tradisi pelaksanaan tutup sasi maupun buka sasi.
“Misalnya, memberikan doa kepada Sang Pencipta alam semesta sesuai kepercayaan suku, berbeda dengan sekarang–bisanya pendeta yang memimpin dalam doa untuk pelaksanaan sasi,” katanya seraya menambahkan, inti dari sasi sebenarnya menjaga pelestarian sumber daya alam laut.
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Berikut nama-nama sasi dalam bahasa lokal, yang dihimpun jurnalis Jubi.id dari dari hasil beberapa peneliti dan NGO di Tanah Papua.
Suku Byak
Di Pulau Biak Numfor, masyarakat menyebut sasi dalam bahasa Biak adalah sasisen,.yang artinya, melarang warga mengambil biota laut di wilayah yang telah ditentukan selama beberapa waktu.
Di Biak ada pula sasisen di wilayah darat, misalnya, warga dilarang mengambil kelapa, terkecuali kelapa muda yang jatuh–biasanya diserahkan ke gereja.
Suku Matbat
Di Pulau Misool, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, juga mengenal sasi dalam bahasa setempat dengan nama samsom.
Tradisi ini telah lama dikenal dan sekarang tetap dipraktikkan kembali.
Fakfak
Warga di Distrik Karas, Kabupaten Fakfak menyebut sasi dengan nama kera-kera adat, dengan melarang warga mencari biota laut selama setahun, dan baru dibuka kembali sehingga warga bisa mengambil hasil laut.
Kaimana
Warga di Kampung Marsi, Distrik Kaimana, Kabupaten Kaimana menyebut sasi dengan gama dan sudah menjadi tradisi bagi suku Mairasi di Kaimana, Papua Barat.

Tablasupa
Warga di Kampung Tablasufa menamakan sasi dalam bahasa lokal suku Tepera, Kabupaten Jayapura dengan nama tiyatiki.
Teluk Wondama
Warga di Kampung Menarbu, Pulau Roon, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat menyebutnya dengan nama kadup.
Kepulauan Yapen
Warga Kampung Asai di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua menamakan sasi dengan tasamu–rawanang.
Sorong dan sekitarnya
Di Kampung Malaumkarta, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, masyarakat menyebut sasi dengan egek. Sedangkan di Fakfak mereka menyebutnya juga dengan nama rojaha, dan di beberapa lokasi di Kabupaten Raja Ampat menamakan sasi dengan kabus dan di Misool disebut samsom.
Sarmi
Orang Sobei di Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua, juga mengenal tradisi sasi dengan sebutan fetrauw.
Fetrauw berlaku seperti sasi di laut. Fetrauw sebagai hukum adat yang hanya dikeluarkan oleh seorang kepala klan atau marga. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua





















Discussion about this post