Nabire, Jubi – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, Komando Pertahanan atau TPNPB Kodap XVI Yahukimo, mengklaim telah menembak mati empat orang Badan Intelijen Negara (BIN) yang menyamar sebagai guru di Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Senin (2/2/2026).
Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka mengatakan pihaknya berhasil menembak mati empat orang agen intelijen militer pemerintah Indonesia yang berprofesi sebagai guru, termasuk di antaranya ada orang asli Papua.
Katanya, penembakan tersebut dilakukan karena seluruh agen intelijen militer Indonesia telah melewati batas zona merah atau wilayah perang di Yahukimo, dan tidak pernah mendengarkan peringatan TPNPB terkait pemberhentian aktivitas sipil seperti sekolah-sekolah, rumah sakit, kantor-kantor, sopir dan lain sebagainya.
“Seluruh sekolah, rumah sakit dan kantor-kantor, kami terpaksa mengeluarkan perintah tutup dan eksekusi karena semua pekerja bukan lagi benar-benar dijalankan oleh fungsi sipil. Tetapi kedapatan banyak data yang kami terima telah disusupi oleh anggota BIN,” kata Kopitua Heluka dalam siaran pers yang diterima Jubi, di Nabire, Papua Tengah, Selasa (3/2/2026).
*****************
Jubi.id adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media ini didirikan dengan sumberdana masyarakat melalui donasi dan crowd funding. Dukung kami melalui donasi anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Mayor Kopitua Heluka mengimbau, seluruh warga imigran Indonesia dan orang asli Papua yang bekerjasama dengan negara Indonesia, agar segera keluar dari Yahukimo.
Sebab, pihaknya mendapatkan data bahwa anggota BIN direkrut bukan hanya dari kalangan TNI dan Polri melainkan fungsi sipil sebagai guru, tenaga kesehatan, ASN, dan para pedagang, sehingga pihaknya tidak segan-segan mengeksekusi mati jika menemukan mereka di jalan.
”Kami juga mengimbau kepada seluruh imigran Indonesia jangan tinggal di Yahukimo karena tidak ada jaminan keamanan dari aparat militer Indonesia terhadap anda, sehingga segera kembali ke kampung halaman anda di [Pulau] Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan kampung halaman anda masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu Jubir TPNPB-OPM, Sebby Sambom menegaskan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa TPNPB tidak akan pernah ragu, gentar dan tidak mundur selangkah pun dari medan perang, demi merebut kembali kemerdekaan bangsa Papua, sehingga seluruh aktivitas sipil segera ditutup guna menghindari jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil.
”Kepada seluruh komunitas internasional dan PBB, agar mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk dapat menyelesaikan sengketa politik dan konflik bersenjata antara TPNPB dengan pemerintah Indonesia,” kata Sebby Sambom.
Ia menegaskan agar Presiden Prabowo Subianto dapat membuka diri duduk dengan orang Papua untuk melakukan perundingan damai, karena akibat konflik bersenjata dan operasi militer Indonesia mengakibatkan ribuan warga sipil tewas dan ratusan ribu orang mengungsi dari tanah adat mereka akibat perang.
Sementara itu, Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz atau ODC Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan pihaknya masih mendalami informasi itu, dan belum bisa memastikan atas klaim TPNPB tersebut. Namun ia memastikan kondisi keamanan Yahukimo sudah kondusif.
“[Klaim] ini adalah untuk membuat ketakutan kepada masyarakat Papua. Tidak ada itu anggota BIN yang menyamar menjadi guru,” kata Kombes Pol Yusuf Sutejo kepada jubi melalui pesan singkat pada Selasa (3/2/2026).
Katanya, kehadiran aparat keamanan justru untuk menjamin keamanan masyarakat Papua. “Yang membunuh dan menyiksa masyarakat adalah KKB sendiri,” ujarnya.
Kombes Pol Yusuf mengatakan, pemerintah membangun Rumah sakit dan sekolah agar masyarakat Papua sehat dan berpendidikan. “Akan tetapi yang membuat anak-anak Papua jadi bodoh itu KKB sendiri, karena sekolah dirusak dan diteror oleh KKB,” ucapnya. (*)
Iklan Layanan Masyarakat ini Dipersembahkan oleh PT. Media Jubi Papua




















Discussion about this post